Wartakita.id, MAKASSAR — Pernyataan pakar ilmu tanah IPB, Basuki Sumawinata, di Republika.id yang menyebutkan bahwa banjir besar di Sumatera murni akibat anomali cuaca berupa curah hujan ekstrem 400 milimeter (mm), tentu memiliki dasar fakta meteorologis yang kuat. Tidak ada yang membantah bahwa volume air sebesar itu adalah fenomena luar biasa.
Namun, menarik garis kesimpulan bahwa karena hujannya ekstrem maka “banjir tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan kebun kelapa sawit” adalah sebuah lompatan logika yang perlu diuji kembali.
Dalam mitigasi bencana, rumus risikonya selalu: Risiko = (Bahaya x Kerentanan) / Kapasitas.
Hujan 400mm adalah “Bahaya” (faktor alam). Namun, tutupan lahan (hutan vs sawit vs tambang vs HPH vs pembalakan liar) adalah faktor “Kapasitas” yang menentukan seberapa parah dampak bahaya tersebut.
Bayangkan Risiko adalah kemungkinan Anda KO (Pingsan).
Bahaya (Hazard): Adalah Pukulan Mike Tyson. Kekuatannya mematikan.
Kerentanan (Vulnerability): Adalah kondisi fisik Anda. Apakah Anda orang biasa yang bertubuh kurus? (Sangat rentan).
Kapasitas (Capacity): Adalah pertahanan Anda. Apakah Anda memakai Helm Pelindung dan punya kemampuan Menangkis?
Logikanya: Pukulan Tyson (Bahaya) itu tetap sama kuatnya. Tapi jika Tyson memukul bayi (Kapasitas Nol), risikonya fatal. Jika Tyson memukul petinju lain yang pakai helm baja (Kapasitas Tinggi), dampaknya hanya pusing sedikit, tidak sampai mati.
Dalam konteks artikel: Hujan ekstrem adalah pukulan Tyson. Lereng bukit adalah tubuh kita. Akar pohon hutan adalah “Helm Baja” yang menahan pukulan itu. Tanpa akar kuat, lereng itu “KO” (longsor).
Berikut adalah telaah kritis berbasis logika hidrologis dan fakta lapangan mengapa variabel tutupan lahan tidak bisa dikesampingkan begitu saja.
1. Kesalahan Logika “Apple to Apple”: Hutan vs Tanah Terbuka vs Sawit
Dalam argumennya, Basuki menyebut sawit memiliki fungsi ekologis lebih baik dibanding “tanah terbuka atau belukar”. Secara teknis ini benar. Namun, ini adalah perbandingan yang tidak setara (apple to orange).
Fakta empiris pembukaan lahan di Sumatera mayoritas bukan mengubah gurun pasir atau tanah tandus menjadi kebun sawit. Sawit menggantikan hutan sekunder, hutan karet rakyat (agroforestri), atau semak belukar padat.
Jika kita mengubah Hutan Hujan Tropis menjadi Kebun Sawit, kita sedang melakukan “penurunan kelas” kapasitas hidrologis secara drastis, bukan peningkatan.
Jika kita mengubah Hutan Hujan Tropis menjadi tambang, menebang pohon menjadikannya kertas tanpa program pemulihan lingkungan hutan dan kayu-kayu sisa tebangan dibiarkan begitu saja, maka kita memang sedang mengundang bencana banjir bandang.
2. Matematika Debit Air: Hutan Sehat vs Monokultur Sawit
Mari kita hitung menggunakan logika hidrologi sederhana pada curah hujan 400 mm.
- Skenario Hutan Alami (Multi-Strata):Hutan memiliki kanopi berlapis (pohon tinggi, perdu, semak, lantai hutan). Riset hidrologi menunjukkan hutan lebat mampu melakukan Intersepsi (menahan air di daun/batang) hingga 30%.
Air yang sampai ke tanah: 70% dari 400mm = 280mm.
Lantai hutan yang kaya serasah (litter) seperti spons raksasa, memiliki laju infiltrasi tinggi.
Hasil: Air dilepaskan ke sungai secara perlahan (slow release). Sungai meluap, tapi bertahap.
- Skenario Kebun Sawit (Monokultur):Sawit memiliki kanopi tunggal. Intersepsi jauh lebih rendah (sekitar 10-15%).
Air yang sampai ke tanah: 85-90% dari 400mm = 340mm-360mm.
Masalah utama: Pemadatan Tanah (Soil Compaction). Jalur panen dan piringan sawit yang diinjak manusia dan alat angkut bertahun-tahun membuat tanah padat. Pori-pori tanah tertutup.
Hasil: Air tidak meresap, melainkan menjadi Aliran Permukaan (Surface Run-off).
Perbedaan Debit: Selisih 60-80mm air yang tidak tertahan per hektare, jika dikalikan ribuan hektare DAS, setara dengan jutaan kubik air tambahan yang meluncur deras ke hilir dalam waktu bersamaan. Inilah bedanya “Banjir Genangan” dengan “Banjir Bandang”.
3. Fisika Lereng: Akar Tunggang vs Akar Serabut
Argumen bahwa “hutan primer pun akan longsor di lereng curam” memang benar jika kemiringan ekstrem. Namun, pada kemiringan moderat hingga curam, jenis vegetasi adalah penentu hidup dan mati.
Pohon Hutan (Dikotil): Memiliki Akar Tunggang yang menunjam ke dalam (seperti paku bumi) menembus lapisan tanah hingga batuan dasar, dan akar lateral yang saling mengikat. Ini meningkatkan Shear Strength (kekuatan geser) tanah. Ia menahan tanah agar tidak amblas saat jenuh air.
Kelapa Sawit (Monokotil): Memiliki Akar Serabut yang masif tapi dangkal (mayoritas di kedalaman 0-50 cm).
Saat hujan 400mm turun selama 3 hari, tanah menjadi bubur (jenuh air). Berat massa tanah bertambah berkali-kali lipat.
Pohon sawit dengan biomassa berat di atas, namun tanpa “jangkar” akar tunggang di bawah, justru berubah fungsi dari “penahan” menjadi “beban tambahan” (surcharge load) pada lereng.
Logika fisikanya: Lereng basah + Beban berat di atas + Tanpa paku bumi = Longsoran massal.
4. Efek Proyektil: Banjir Bukan Cuma Air
Banjir bandang di Sumatera seringkali bukan hanya air, tapi disertai lumpur pekat dan gelondongan kayu (debris flow).
Dari mana kayu-kayu ini?
Jika hutan sehat, pohon tumbang biasanya tersangkut oleh kerapatan vegetasi lain. Namun, dalam pembukaan lahan (land clearing) untuk perkebunan, tambang, hutan HPH, atau penambangan liar yang tidak bersih (biasanya menyisakan kayu tebangan di lereng/jurang), atau pohon sawit yang tumbang karena akarnya tak kuat menahan tanah longsor, material ini terbawa air.
Kayu-kayu ini berubah menjadi proyektil atau “battering ram” raksasa. Ketika menghantam jembatan atau rumah warga, daya rusaknya naik bisa hingga 1000% dibanding hantaman air semata. Inilah yang membuat banjir bandang di area alih fungsi lahan jauh lebih mematikan. Belum lumpur yang dibawanya yang mengeras setelah cuaca kembali terik.
Mencari Rasio Sehat, Bukan Mengkambinghitamkan Hujan
Kami sepakat bahwa sawit adalah komoditas strategis nasional yang menopang ekonomi. Kami juga sepakat bahwa hujan 400mm adalah force majeure.
Namun, menyangkal korelasi antara alih fungsi lahan (deforestasi menjadi sawit) dengan keparahan dampak banjir adalah bentuk pengabaian terhadap prinsip-prinsip dasar ilmu tanah dan hidrologi.
Analisis spasial GIS sering menemukan perkebunan sawit (terutama plasma atau swadaya, bahkan korporasi yang nakal) yang merambah ke area dengan kemiringan >30% atau area DAS (Daerah Aliran Sungai) kritis tanpa terasering yang memadai.
Hujan ekstrem adalah “Pemicu”. Tapi kondisi DAS yang kritis akibat dominasi monokultur adalah “Pemerah”.
Solusinya bukan menghapus sawit, melainkan Menegakkan Tata Ruang.
Stop menanam sawit di kelerengan >30% (kembalikan ke fungsi hutan lindung).
Wajibkan tanaman sela (cover crop) yang rapat di perkebunan untuk menahan laju air.
Pertahankan rasio hutan alam minimal 30% di setiap Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai “rem alami” banjir.
Jika kita terus berlindung di balik alasan “Cuaca Ekstrem” tanpa membenahi tata kelola lahan, maka setiap tahun kita hanya akan menghitung kerugian, menyalahkan langit, sambil menunggu bencana berikutnya, yang bisa saja menyasar semua stakeholder, tanpa peduli persentase kontribusinya.




























