Wartakita.id, JAKARTA — Data BPS menunjukkan 842.378 lulusan perguruan tinggi menganggur. Prof. Sutiman dari Universitas Brawijaya menyebut ini masalah serius. Namun, mari kita bedah lebih dalam: Mengapa mereka menganggur?
Salah satu jawaban yang paling tidak nyaman untuk didengar adalah: Karena banyak dari mereka sebenarnya tidak kompeten, mereka hanya “bersertifikat”.
Indonesia sedang dilanda wabah Diploma Disease (Penyakit Ijazah). Ini adalah kondisi sosial di mana gelar akademik dikejar semata-mata sebagai syarat administratif untuk melamar kerja atau menaikkan status sosial (gengsi), bukan sebagai bukti penguasaan ilmu.
Kampus: Kawah Candradimuka atau Percetakan?
Kampus yang seharusnya menjadi “Kawah Candradimuka” tempat ditempanya nalar kritis, kini berubah menjadi industri percetakan ijazah. Fenomena ini terlihat jelas dari:
- Normalisasi Joki Skripsi: Betapa banyaknya mahasiswa yang tanpa malu membayar orang lain untuk mengerjakan tugas akhir mereka. Ini adalah bibit korupsi akademik. Jika skripsi saja beli, bagaimana nanti saat memegang jabatan?
- Kuliah “Yang Penting Lulus”: Mahasiswa menghindari dosen yang kritis dan menantang, lebih memilih dosen yang “murah nilai”. Diskusi di kantin bukan lagi soal gagasan besar, tapi soal gaya hidup.
Dampaknya pada Bangsa
Ketika gelar menjadi berhala, kita melahirkan “Sarjana Kertas”. Di atas kertas nilainya A, IPK-nya Cum Laude, tapi saat terjun ke masyarakat atau industri, mereka gagap. Mereka tidak punya kemampuan pemecahan masalah (problem solving), tidak punya ketahanan mental (resilience), dan miskin integritas.
Inilah yang membuat industri enggan merekrut. Bukan karena tidak ada lowongan, tapi karena gap (jarak) antara apa yang tertulis di ijazah dengan kemampuan nyata terlalu jauh.
Solusi: Desakralisasi Gelar, Sakralisasi Kompetensi
Kita perlu meruntuhkan mitos bahwa “Sarjana = Sukses”. Pendidikan formal harus berhenti menjanjikan bahwa ijazah adalah tiket emas.
Mahasiswa harus sadar, di abad 21, portofolio lebih mahal daripada ijazah. Apa yang bisa kamu buat? Masalah apa yang bisa kamu selesaikan? Karya apa yang sudah kamu ciptakan? Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada “Berapa IPK-mu?”.
Pendidikan formal harus kembali ke akarnya: tradisi intelektual. Membaca buku (bukan cuma slide dosen), berdebat, meriset, dan mengabdi.
Jika kita hanya mengejar gelar tanpa ilmu, kita hanya menambah deretan angka pengangguran berijazah yang menjadi beban sejarah.























