SIDOARJO, JAWA TIMUR – Lima nyawa siswa berhasil diselamatkan hidup-hidup dari reruntuhan gedung Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, tiga hari pasca tragedi ambruknya bangunan tersebut pada 22 Oktober 2025. Operasi penyelamatan heroik yang dipimpin Tim Basarnas dengan bantuan relawan PMI dan keluarga korban ini menawarkan secercah harapan di tengah kabar puluhan siswa lain yang masih belum ditemukan.
Namun, di balik kisah keteguhan tim penyelamat dan air mata keluarga, tragedi ini lebih dari sekadar insiden konstruksi. Ambruknya gedung Al-Khoziny menyingkap luka akut dalam pengawasan standar konstruksi fasilitas pendidikan, terutama di wilayah rawan bencana seperti Sidoarjo, sekaligus menyoroti kerentanan sistemik yang mengancam keselamatan ribuan santri di seluruh Indonesia.
Lika-liku Operasi Penyelamatan: Secercah Harapan di Tengah Puing-puing
Operasi penyelamatan, yang berpuncak pada Sabtu malam, 25 Oktober 2025, merupakan perlombaan melawan waktu. Tim Basarnas, dibantu relawan dan warga, mengerahkan segala upaya, termasuk penggalian terowongan manual di bawah reruntuhan yang tidak stabil dan penggunaan drone termal untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan. Makanan dan air disalurkan melalui celah-celah sempit, menjaga asa para korban yang terjebak.
Kisah heroik ini menyedot perhatian dunia, dengan laporan mendalam dari media internasional seperti Al Jazeera dan CNN, serta viral di media sosial X (sebelumnya Twitter) melalui akun resmi @basarnasri. Jutaan warganet tersentuh oleh kisah para ibu yang tak henti menanti, menatap puing-puing dengan mata penuh harap sekaligus cemas. Namun, seiring berjalannya waktu dan deteksi “tidak ada tanda kehidupan” untuk area tertentu, harapan untuk menemukan 59 siswa lainnya mulai memudar, meninggalkan duka mendalam bagi Sidoarjo.
Wajah Korban dan Kerentanan Sosial Ekonomi di Sidoarjo
Mayoritas korban dalam tragedi ini adalah siswa laki-laki berusia 12-18 tahun, banyak di antaranya berasal dari keluarga kurang mampu. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan yang seringkali menawarkan biaya terjangkau atau bahkan gratis, menjadi pilihan utama bagi keluarga miskin yang ingin memberikan pendidikan agama dan umum bagi anak-anak mereka. Tragisnya, justru fasilitas inilah yang sering luput dari pengawasan ketat, menempatkan kelompok masyarakat paling rentan dalam risiko tertinggi. Di Sidoarjo, di mana kesenjangan ekonomi masih nyata, institusi semacam Al-Khoziny memegang peran vital, sehingga keamanannya seharusnya menjadi prioritas utama.
Mengapa Gedung Pesantren Ambruk? Sorotan Terhadap Standar Konstruksi di Sidoarjo
Penyelidikan awal mengarah pada satu penyebab utama: standar konstruksi yang lemah. Ini adalah masalah endemik di Indonesia, di mana pembangunan gedung, termasuk fasilitas publik dan pendidikan, seringkali dilakukan secara bertahap tanpa pengawasan teknis yang memadai dari insinyur sipil atau arsitek bersertifikat. Kualitas material yang diragukan, perencanaan struktural yang tidak sesuai standar, dan proses pembangunan tanpa izin lengkap seringkali menjadi praktik umum yang berujung pada bencana.
Sidoarjo, sebagai daerah penyangga Surabaya dengan pertumbuhan populasi dan pembangunan yang pesat, memiliki konteks unik. Banyak bangunan didirikan untuk mengakomodasi kebutuhan tempat tinggal dan fasilitas umum yang melonjak. Fenomena pembangunan bertahap atau swadaya, yang kadang luput dari pengawasan ketat pemerintah daerah, bukan hal baru. Kondisi geografis Sidoarjo yang berdekatan dengan jalur sesar dan sering dilanda gempa bumi ringan seharusnya memicu standar bangunan yang jauh lebih rigid, terutama untuk fasilitas publik dan pendidikan yang menampung banyak orang. Ambruknya Al-Khoziny menjadi cerminan bahwa mitigasi bencana melalui konstruksi bangunan di Sidoarjo masih jauh dari memadai, dan dampaknya paling dirasakan oleh kelompok masyarakat menengah ke bawah yang mengandalkan fasilitas sederhana seperti pesantren.
Janji Pemerintah dan Tuntutan Perubahan Sistemik
Menyikapi tragedi ini, pemerintah pusat dan daerah telah menjanjikan audit nasional terhadap seluruh bangunan sekolah dan pesantren di Indonesia. Janji kompensasi sebesar Rp 100 juta per korban juga digaungkan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Namun, publik menuntut lebih dari sekadar janji dan kompensasi.
Kasus Pesantren Al-Khoziny harus memicu kampanye keselamatan bangunan yang lebih serius dan terstruktur. Ini menuntut reformasi regulasi pembangunan yang lebih ketat, penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran standar konstruksi, serta peningkatan pengawasan berkelanjutan dari pemerintah daerah. Pertumbuhan pesantren yang pesat di Jawa Timur dan seluruh Indonesia harus diiringi dengan jaminan infrastruktur yang aman dan layak, bukan sekadar kuantitas. Tanpa perubahan sistemik yang mendalam, tragedi serupa mungkin akan terulang, meninggalkan lebih banyak duka dan pertanyaan tentang nilai keselamatan dalam pembangunan.
Tanggung Jawab Kolektif untuk Keselamatan Anak Bangsa
Tragedi ambruknya Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo adalah panggilan darurat bagi semua pihak: pemerintah, pengelola yayasan pendidikan, kontraktor, dan masyarakat. Ini bukan hanya tentang runtuhnya sebuah gedung, tetapi tentang runtuhnya kepercayaan akan keselamatan di tempat yang seharusnya menjadi benteng pendidikan dan masa depan anak bangsa. Sudah saatnya kita tidak hanya menyelamatkan korban dari puing-puing, tetapi juga membangun kembali sistem yang kokoh, transparan, dan bertanggung jawab agar tragedi ini tidak pernah terulang lagi. Masa depan pendidikan yang aman adalah hak, bukan kemewahan.























