Pemerintah Indonesia merilis Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2025, sebuah kebijakan strategis yang menawarkan diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) bagi peserta Bukan Penerima Upah (BPU). Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban pekerja informal dan secara signifikan memperluas cakupan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
PP 50/2025: Solusi Iuran Terjangkau untuk Pekerja Informal
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2025 secara spesifik mengatur penyesuaian iuran jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja informal, atau yang dikenal sebagai peserta Bukan Penerima Upah (BPU). Kebijakan ini memberikan potongan iuran sebesar 50 persen untuk JKK dan JKM. Tujuannya jelas: memastikan pekerja informal tetap terlindungi dari risiko kecelakaan kerja dan kematian tanpa terbebani iuran yang terlalu tinggi. Regulasi ini menegaskan kembali komitmen negara dalam memberikan perlindungan sosial bagi seluruh elemen pekerja di Indonesia, terlepas dari status formal mereka.
Implikasi Strategis PP 50/2025: Lebih dari Sekadar Diskon
Dikeluarkannya PP 50/2025 menuai apresiasi dan analisis mendalam dari berbagai pihak, yang menyoroti signifikansinya dalam ekosistem perlindungan sosial ketenagakerjaan.
Pengakuan Negara Terhadap Vitalnya Pekerja Informal
Arif Novianto, seorang dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tidar, menilai bahwa PP 50/2025 merupakan cerminan pengakuan negara terhadap posisi krusial pekerja informal. Kelompok ini seringkali rentan terhadap berbagai risiko kerja yang mungkin tidak terduga. Kebijakan ini menunjukkan upaya konkret pemerintah untuk merangkul sektor informal, sebuah area yang seringkali dianggap terpinggirkan dari jangkauan program jaminan sosial.
Membuka Pintu bagi Kelompok Rentan
Lebih lanjut, Arif menekankan bahwa regulasi ini adalah upaya serius negara untuk menjangkau pekerja informal melalui instrumen perlindungan sosial yang efektif. Hal ini berupaya mematahkan persepsi umum bahwa jaminan sosial eksklusif diperuntukkan bagi pekerja formal. PP 50/2025 menjadi bukti bahwa perlindungan sosial kini lebih inklusif.
Menjadi Katalisator Perluasan Kepesertaan
Penyesuaian iuran yang ditawarkan diharapkan menjadi ‘pintu masuk’ strategis untuk memperluas partisipasi dalam jaminan sosial ketenagakerjaan. Ini sangat relevan bagi para pekerja informal yang memiliki pendapatan tidak tetap dan seringkali menghadapi tekanan biaya hidup yang signifikan. Selain itu, Arif menambahkan bahwa diskon iuran ini berfungsi sebagai ‘kebijakan pemantik’ (kickstarter policy) yang efektif dalam jangka pendek. Namun, ia menekankan bahwa ini bukanlah solusi tunggal, melainkan langkah awal menuju desain pembiayaan yang lebih adil dan berkelanjutan di masa depan.
Suara dari Lapangan: Harapan dan Kebutuhan Pekerja Informal
Perwakilan dari pekerja informal, seperti Achmad Sapi’i, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Pengemudi Online Bersatu (FSPPOB), menyambut baik diskon 50 persen untuk JKK dan JKM bagi pekerja BPU, termasuk para pengemudi ojek online (ojol).
Namun, pandangan dari lapangan menunjukkan bahwa kebijakan ini, meskipun disambut positif, belum sepenuhnya memenuhi spektrum kebutuhan perlindungan dasar para pengemudi transportasi daring. Sapi’i mengemukakan bahwa perlindungan yang ideal tidak hanya mencakup JKK dan JKM, tetapi juga mencakup jaminan yang lebih komprehensif seperti Jaminan Hari Tua (JHT) dan jaminan kesehatan yang memadai bagi pengemudi beserta seluruh anggota keluarganya.
Oleh karena itu, FSPPOB menyuarakan harapan agar pemerintah dapat terus memperluas cakupan program jaminan sosial dan merancang skema insentif yang lebih holistik dan berkesinambungan.
Peran Serta Perusahaan Platform Digital dalam Kesejahteraan Mitra
Di sisi lain, perusahaan platform digital seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk turut menyatakan komitmennya dalam mendukung kesejahteraan mitra pengemudi. Melalui program yang berkelanjutan, seperti “Bakti GoTo untuk Negeri”, perusahaan ini aktif memberikan berbagai bentuk dukungan. Dukungan tersebut mencakup bantuan perlindungan sosial, pemberian bonus hari raya, penyediaan beasiswa, hingga fasilitasi akses terhadap peluang kerja alternatif.
Hans Patuwo, Direktur Utama dan CEO GoTo, menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan adalah kesejahteraan para mitranya. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah yang terus dilakukan untuk meningkatkan perlindungan bagi seluruh pekerja di Indonesia.
Menyongsong Masa Depan Jaminan Sosial yang Inklusif
Dengan adanya PP 50/2025 sebagai landasan baru dan dukungan aktif dari berbagai pemangku kepentingan, terdapat optimisme yang kuat. Pemerintah diharapkan dapat terus memperkuat sistem jaminan sosial ketenagakerjaan agar menjadi lebih inklusif, memiliki keberlanjutan finansial yang kokoh, dan mampu menjangkau setiap pekerja di seluruh penjuru Indonesia tanpa ada yang tertinggal.























