Di jantung perekonomian Indonesia Timur, Pelabuhan Makassar menjadi saksi bisu geliat aktivitas logistik. PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) kini tengah mengkaji sebuah langkah strategis: penambahan unit Harbour Mobile Crane (HMC) guna mendongkrak kapasitas bongkar muat.
Kajian Mendalam untuk Dongkrak Kapasitas Pelabuhan Makassar
Pelabuhan Makassar, sebagai salah satu simpul vital bagi pergerakan komoditas di Indonesia Timur, menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan. Menyadari hal ini, PT Pelindo Multi Terminal (SPMT), yang merupakan subholding dari PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, tidak tinggal diam. Saat ini, pelabuhan kebanggaan masyarakat Makassar tersebut telah didukung oleh tiga unit Harbour Mobile Crane (HMC) yang beroperasi. Namun, manajemen SPMT melihat peluang besar untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas melalui penambahan armada alat bongkar muat.
Fokus pada Sektor Unggulan dan Dukungan Hilirisasi
VP Komunikasi Korporasi Pelindo Multi Terminal, Farid Chairmawan, menjelaskan bahwa rencana penambahan HMC ini bukan sekadar euforia belaka, melainkan sebuah perhitungan strategis untuk mendukung sektor-sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian regional. “Penambahan alat baru ini bertujuan untuk mendukung produktivitas sektor pertambangan dan pertanian, yang menunjukkan pertumbuhan signifikan di wilayah tersebut,” ujar Farid.
Lebih jauh, SPMT menggarisbawahi komitmennya untuk turut serta dalam program hilirisasi industri yang digalakkan oleh pemerintah. Hal ini mencakup kesiapan untuk melayani komoditas hasil olahan, seperti nikel. Meskipun demikian, Farid menekankan bahwa investasi infrastruktur pendukung lain, seperti sistem konveyor baru, akan tetap dievaluasi secara cermat berdasarkan skala keekonomian jangka panjang. Pendekatan ini menunjukkan bahwa setiap keputusan investasi didasarkan pada analisis bisnis yang matang.
Kriteria Investasi: Feasibility Study dan Potensi Trafik adalah Kunci
Dalam dunia manajemen pelabuhan, investasi besar seperti pengadaan alat baru harus melalui proses yang tidak sembarangan. Farid Chairmawan menegaskan, “Setiap rencana penambahan alat investasi modal harus melalui proses kajian kelayakan (feasibility study) yang matang dan tidak bisa dilakukan secara instan.”
Kajian kelayakan ini mencakup analisis mendalam terhadap potensi trafik pelabuhan. SPMT tidak akan gegabah dalam melakukan pengadaan alat jika tidak didukung oleh proyeksi trafik atau komoditas yang jelas. “Pengadaan alat tanpa melihat potensi trafik atau komoditas yang jelas tidak akan lolos evaluasi,” tegas Farid. Sebagai operator terminal, SPMT siap untuk melayani segala jenis komoditas baru dan berperan aktif dalam mendukung para pengusaha lokal yang bergerak di bidang hilirisasi industri, sebuah upaya yang terbukti memberikan nilai tambah signifikan bagi daerah.
Dominasi Komoditas Pertanian dan Peningkatan Performa Operasional
Saat ini, arus bongkar muat di SPMT Makassar secara dominan diisi oleh komoditas pertanian. Gandum, soya bean meal (bungkil kedelai), dan pupuk menjadi primadona. Menariknya, mayoritas gandum dan soya bean meal yang dibongkar muat di Makassar merupakan komoditas impor, yang sebagian besar berasal dari negara-negara Amerika Latin seperti Argentina dan Brasil. Ini menunjukkan peran strategis Pelabuhan Makassar sebagai gerbang impor bagi kebutuhan pangan dan industri Indonesia.
Di tengah dominasi komoditas tersebut, SPMT terus menunjukkan tren perbaikan performa operasional yang patut diapresiasi. Farid Chairmawan memaparkan, “Waktu bongkar muat (port stay) berhasil dipangkas secara signifikan, dari sebelumnya 12-14 hari menjadi hanya 6-7 hari.” Efisiensi waktu ini tentu akan berdampak positif pada biaya logistik dan kepuasan pengguna jasa pelabuhan.
Sinergi Pelaku Usaha: Penggerak Roda Perdagangan
Farid menutup paparannya dengan menekankan pentingnya sinergi dan keaktifan dari para pelaku usaha dalam menggerakkan roda perekonomian melalui perdagangan. Pertumbuhan volume perdagangan, baik domestik maupun ekspor-impor, secara otomatis akan meningkatkan permintaan terhadap layanan pelabuhan. Semakin aktifnya geliat perdagangan, lanjutnya, akan mendorong pelabuhan untuk terus meningkatkan perannya. Peningkatan ini mencakup kesiapan alat, kapasitas dermaga, hingga adaptasi terhadap kebutuhan operasional seiring bertambahnya trafik komoditas.
Kontributor: MA. Untung
Penyunting: H. Gunadi























