Wartakita.id, MAKASSAR — Enam hari. 144 jam. Bagi Dwi Nurmas, dunia berhenti berputar. Sejak putrinya, Bilqis (4), lenyap dari depan rumah mereka di Makassar pada 3 November 2025, setiap detik adalah siksaan.
Setiap dering telepon adalah lonjakan harapan yang langsung dibanting ke jurang ketakutan. Tidur adalah kemewahan yang mustahil. Yang ada hanya bayangan wajah mungil putrinya, kini di tangan siapa, di mana, dan—pertanyaan paling mengerikan—apakah ia masih aman?
“Saya pikir dia hanya bermain sedikit lebih jauh dengan temannya,” kenang Dwi, suaranya parau. “Tapi ketika magrib tiba dan dia tidak ada, saat itulah dunia kami runtuh.”
Esok harinya, 4 November, laporan resmi masuk ke Polrestabes Makassar. Bagi Dwi, itu adalah penyerahan nasib. Bagi polisi, itu adalah tembakan pistol dimulainya perburuan berpacu dengan waktu.
Sudut Pandang Ayah: Menit-Menit yang Meremukkan
Bagi seorang ayah, 144 jam itu adalah neraka sunyi. Dwi Nurmas mengaku terus memutar ulang rekaman CCTV lingkungan di kepalanya. Rekaman yang sama dengan yang kini dianalisis polisi.
“Saya melihatnya. Wanita itu,” ujar Dwi. “Orang asing, dia mendekati anak saya, dan membawanya pergi begitu saja. Di lingkungan yang saya pikir aman.”
Hari-hari berlalu dalam kabut. Dwi dan keluarga nyaris tak makan. Mereka hanya duduk di ruang tamu, menatap pintu, seolah berharap Bilqis akan berlari masuk sambil tertawa seperti biasanya. Tagar #BilqisHilang yang diviralkan di media sosial oleh kerabat adalah satu-satunya pegangan mereka.
Hingga malam keenam, 9 November. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Di seberang sana, seorang petugas polisi dari tim Kombes Pol Arya Perdana.
“Pak Dwi, kami di Jambi. Anak bapak selamat.”
“Saya langsung sujud,” cerita Dwi. “Saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya hanya menangis. Enam hari neraka itu akhirnya berakhir.”
Sudut Pandang Polisi: Berburu Sinyal, Membongkar Jaringan
Bagi tim Polrestabes Makassar, laporan Dwi adalah prioritas utama. Ini bukan kasus anak hilang biasa; rekaman CCTV menunjukkan penculikan terencana.

“Begitu kami dapat laporan dan melihat CCTV, kami tahu ini bukan main-main. Ini penculikan,” ungkap Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, dalam sebuah wawancara khusus (11/11/2025).
Tim langsung bergerak. Analisis digital dan pelacakan sinyal adalah kuncinya. “Kami tidak tidur. Kami melacak pergerakan pelaku. Dan dia bergerak cepat,” lanjut Kombes Arya.
Pelaku, seorang wanita, terdeteksi membawa Bilqis keluar pulau. Perjalanan darat dan laut yang melelahkan terdeteksi. Tujuan: Jambi. Ratusan kilometer dari Makassar.
“Fakta bahwa korban dibawa lintas provinsi langsung menyalakan alarm kami. Ini bukan lagi penculikan impulsif. Ini mengarah kuat pada Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO),” tegas Kombes Arya.
Koordinasi lintas polda segera dilakukan. Tim dari Makassar terbang, bekerja sama dengan Polda Jambi. Mereka tidak hanya mengejar satu pelaku; mereka mengejar kemungkinan adanya jaringan di belakangnya.
Di sebuah rumah kontrakan di Jambi, pintu didobrak. Wanita itu ditangkap tanpa perlawanan. Di dalam, Bilqis ditemukan—lelah, bingung, namun secara fisik sehat.
Ancaman Sebenarnya: Bukan Sekadar “Desakan Ekonomi”
Di ruang interogasi, pelaku awalnya memberi pengakuan klise: motif ekonomi. Ia mengaku terdesak finansial, awalnya hanya ingin “merawat” Bilqis karena suka anak-anak, lalu berniat “menjualnya”.
Polisi tidak percaya begitu saja.
“Pola ini terlalu rapi untuk pelaku tunggal yang terdesak ekonomi,” jelas seorang penyidik yang terlibat dalam kasus ini. “Membawa anak ke luar pulau butuh biaya, butuh koneksi. Anda tidak bisa ‘iseng’ menculik anak di Makassar dan ‘iseng’ menjualnya di Jambi.”
Kombes Pol Arya Perdana membenarkan. “Kami tidak berhenti pada satu pelaku. Tim khusus sedang mendalami keterkaitan pelaku dengan kelompok TPPO yang beroperasi di wilayah timur Indonesia. Wanita ini diduga kuat hanya ‘kurir’ atau ‘pemetik’.”
Pembaruan terbaru (12/11/2025) menyebutkan bahwa pelaku kini mulai “bernyanyi”, menyebutkan adanya “pesanan” yang menunggunya di Jambi. Monster yang sebenarnya bukanlah wanita ini, melainkan jaringan terorganisir yang melihat anak-anak seperti Bilqis sebagai komoditas.
Peringatan untuk Semua Orang Tua
Momen pertemuan kembali Dwi Nurmas dan Bilqis di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, berlangsung penuh air mata. Bilqis, dalam pelukan ayahnya, akhirnya bisa tertidur pulas.
Namun, kasus ini menyisakan pekerjaan rumah besar. Lima anggota polisi yang terlibat operasi ini memang akan menerima penghargaan, tapi kemenangan sesungguhnya adalah ketika kasus ini tidak terulang.
“Saya lengah sepersekian detik,” aku Dwi Nurmas. “Saya ingin cerita saya jadi peringatan. Jangan pernah, jangan pernah lepaskan pandangan Anda dari anak Anda. Bahkan di depan rumah sendiri.”
Bagi kepolisian, pesannya lebih luas. “Ini bukan hanya tugas orang tua. Ini tugas komunitas,” tutup Kombes Pol Arya. “Laporkan jika ada orang mencurigakan. Tetangga harus saling menjaga. Predator TPPO ada di sekitar kita, mereka memanfaatkan kelengahan sekecil apa pun.”
Bilqis selamat. Namun di luar sana, ancaman itu masih nyata, bersembunyi di balik motif ekonomi dan wajah-wajah biasa yang menyamar dalam keramaian.























