FAQ
1. Kenapa komunitas kripto memboikot JPMorgan?
Komunitas kripto memboikot JPMorgan karena bank tersebut merilis analisis yang memprediksi potensi arus keluar dana miliaran dolar dari saham MSTR jika dikeluarkan dari indeks MSCI. Analisis ini dianggap sebagai bentuk tekanan terstruktur terhadap perusahaan yang pro-Bitcoin.
2. Apa kaitan MSTR dengan Bitcoin?
MicroStrategy (MSTR) adalah perusahaan publik yang memegang salah satu cadangan Bitcoin terbesar di dunia. Oleh karena itu, pergerakan harga sahamnya sangat dipantau oleh para investor di ekosistem kripto.
3. Apa itu MSCI dan mengapa penghapusan indeksnya penting?
MSCI adalah penyedia indeks global yang menjadi acuan bagi banyak manajer investasi. Jika sebuah saham dikeluarkan dari indeks MSCI, hal ini secara otomatis memicu penjualan besar-besaran oleh dana indeks yang mengikutinya, sehingga menekan harga saham tersebut.
4. Benarkah JPMorgan melakukan short terhadap MSTR?
Saat ini, belum ada bukti resmi yang mengkonfirmasi bahwa JPMorgan melakukan short terhadap MSTR. Namun, rumor ini beredar luas di komunitas kripto karena tekanan harga MSTR terjadi berbarengan dengan perilisan laporan analitis dari JPMorgan.
5. Apakah aksi seperti “GameStop 2.0” bisa terulang?
Secara teori, aksi semacam “GameStop 2.0” bisa saja terulang. Hal ini dimungkinkan jika komunitas investor ritel bersatu untuk membeli saham MSTR secara kompak guna mendorong harganya naik dan memberikan tekanan balik kepada institusi besar. Namun, skala dan efektivitasnya masih sulit diprediksi.
Komunitas mata uang kripto kembali bergolak menyusul seruan boikot terhadap raksasa perbankan, JPMorgan. Gelombang kemarahan ini dipicu oleh laporan analitis JPMorgan yang mengindikasikan potensi arus keluar dana (outflow) hingga miliaran dolar dari saham MicroStrategy (MSTR), sebuah perusahaan yang dikenal memiliki eksposur besar terhadap Bitcoin.
Langkah JPMorgan ini ditafsirkan oleh sebagian tokoh industri sebagai tekanan terstruktur yang disengaja terhadap perusahaan-perusahaan yang berani merangkul aset digital. Seruan boikot ini mendapat dukungan dari nama-nama besar di dunia keuangan dan kripto, termasuk investor kawakan Grant Cardone, komentator Bitcoin Max Keiser, serta pengacara pro-kripto terkemuka, John Deaton.
Analisis JPMorgan Picu Kekhawatiran “Serangan Terkoordinasi”
Inti dari kontroversi ini terletak pada laporan analis JPMorgan yang memprediksi potensi keluarnya dana investasi sebesar $2,8 miliar jika saham MicroStrategy dihapus dari indeks MSCI. Jika penyedia indeks lain turut serta, angka tersebut bahkan bisa membengkak hingga $8,8 miliar.
Dampak dari analisis tersebut tak pelak terasa di pasar. Saham MSTR mengalami kejatuhan tajam, anjlok di bawah level $200 dan sempat menyentuh titik terendah tahun ini di kisaran $170. Penurunan ini mencapai 57% dalam setahun terakhir, sebuah kontras signifikan mengingat saham MSTR sempat melonjak menembus $450 pada Juli lalu.
Pergerakan harga yang drastis ini menimbulkan kecurigaan di kalangan pendukung Bitcoin. Mereka menilai bahwa tekanan terhadap MSTR terjadi bersamaan dengan peningkatan signifikan kepemilikan Bitcoin oleh perusahaan tersebut. Max Keiser bahkan secara lugas menyebut bahwa pasar sedang menyaksikan sebuah “serangan finansial terhadap salah satu perusahaan publik paling pro-Bitcoin di Amerika.”.
Isu Lama Muncul Kembali: Reputasi JPMorgan Dipertanyakan
Kasus MSTR ini tak lepas dari bayang-bayang isu-isu lama yang telah lama membayangi reputasi JPMorgan. Dugaan keterlibatan bank dalam penyalahgunaan rekening milik terpidana kasus pelecehan seksual Jeffrey Epstein kembali mencuat. Hal ini diperparah dengan adanya pemeriksaan kongres terkait pengawasan transaksi mencurigakan di bawah payung JPMorgan.
Bahkan, muncul pula tuduhan bahwa beberapa eksekutif bank diduga memiliki keterlibatan langsung dalam aktivitas Epstein. Dalam konteks MSTR, isu-isu ini semakin memperburuk citra JPMorgan di mata komunitas kripto. Gelombang emosi muncul dengan persepsi bahwa “institusi lama” atau keuangan tradisional sedang berusaha menekan perkembangan industri aset digital.
Salah satu tokoh yang secara vokal menyuarakan ketidakpuasannya adalah Grant Cardone. Melalui akun X-nya, Cardone mengumumkan bahwa ia telah membatalkan rekeningnya di JPMorgan dan memindahkan seluruh asetnya ke bank lain. Ia juga menyarankan untuk tidak menggunakan kartu kredit Chase, yang merupakan bagian dari grup JPMorgan, jika pengguna khawatir tentang potensi penipuan.
tweet Grant Cardone yang menyatakan pembatalan rekening JPMorgan.
Potensi “GameStop 2.0” Mengemuka
Respon komunitas kripto terhadap situasi ini juga menjadi sorotan utama. John Deaton dengan tegas menyatakan bahwa jika investor ritel meyakini JPMorgan mengambil posisi short (bertaruh pada penurunan harga) terhadap MSTR, maka skenario “GameStop 2.0” sangat mungkin terulang.
Artinya, para trader ritel dapat berkoordinasi untuk membeli saham MSTR secara masif. Tujuannya adalah untuk memicu kenaikan harga yang signifikan dan sekaligus “menghukum” institusi besar yang dianggap bermain curang, sebagaimana yang terjadi pada saham GameStop (GME) di awal tahun 2021.
Narasi “GameStop 2.0” ini kini mulai bergema di berbagai forum kripto hingga platform media sosial X. Meskipun belum ada kepastian apakah aksi semacam ini akan benar-benar terjadi, sentimen tersebut saja sudah cukup untuk memicu volatilitas harga saham MSTR dalam beberapa hari terakhir.
Konflik Ideologi Lama vs Baru Kian Terbuka
Perseterungan antara institusi keuangan tradisional dan komunitas kripto kembali menjadi sorotan utama. Seruan boikot terhadap JPMorgan bukan sekadar respons sesaat, melainkan cerminan dari ketegangan ideologis yang masih membara.
Di balik laporan MSCI dan pergerakan saham MSTR, tersembunyi persepsi luas bahwa bank-bank besar mencoba menekan aset dan perusahaan yang berafiliasi dengan Bitcoin. Di sisi lain, komunitas kripto menunjukkan solidaritas yang semakin kuat, siap untuk melakukan aksi balasan jika merasa sektor mereka kembali “diserang” oleh kekuatan finansial mapan.
Pertanyaan besar yang menggantung kini adalah: apakah aksi boikot ini akan bertransformasi menjadi perlawanan skala besar yang mampu mengguncang pasar, ataukah hanya akan menjadi sentimen sesaat yang terlupakan?























