Konsulat Jenderal Australia di Makassar merayakan dekade kehadirannya dengan cara yang tak biasa, menggali kembali akar sejarah yang menghubungkan Makassar dengan daratan Australia Utara melalui kisah “Marege” yang sarat makna.
- Perayaan HUT ke-10 Konjen Australia di Makassar menyoroti kisah historis “Marege”.
- Kisah ini mengisahkan pelayaran Makassar ke Australia Utara sejak abad ke-17, membangun hubungan dengan Suku Marege (Aborigin).
- Acara ini juga mempertemukan kembali alumni program Australia (OzAlum) dan memamerkan produk UMKM mitra.
- Hubungan bilateral Australia-Indonesia, khususnya dengan Makassar, dinilai telah terjalin lama dan terus diperkuat.
Perayaan Satu Dekade Konjen Australia di Makassar: Narasi “Marege” Perekat Sejarah dan Persahabatan
Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Makassar genap berusia 10 tahun. Peringatan satu dekade ini dirayakan dengan cara yang unik dan mendalam, yakni melalui sebuah pementasan “story telling” bertajuk “Marege”. Inisiatif ini bukan sekadar perayaan formal, melainkan sebuah upaya untuk mengingatkan dan mempererat kembali jalinan historis yang telah terentang jauh sebelum Indonesia merdeka, menghubungkan leluhur masyarakat Makassar dengan Suku Marege atau Aborigin di Australia.
Menelusuri Jejak Pelayaran “Marege”: Jembatan Leluhur Antar Benua
Kisah “Marege” yang dibawakan oleh Marege Institut memaparkan sebuah narasi epik tentang pelayaran leluhur Makassar menggunakan perahu tradisional Padewakang. Mengarungi lautan luas, perahu-perahu ini dipandu oleh angin muson barat dari Selat Makassar hingga mencapai pantai utara Marege, wilayah yang kini dikenal sebagai Arnhem Land di Australia Utara. Sejak abad ke-17, pelayaran ini bukan hanya tentang aktivitas mencari hasil laut bernilai ekonomis seperti teripang, tetapi lebih dari itu, ia menjadi saksi bisu terjalinnya hubungan dagang yang tulus dan persaudaraan mendalam antara masyarakat Makassar dan penduduk asli Australia, khususnya suku Yolngu.
Rangkaian Acara: Memperkuat Koneksi Komunitas dan Ekonomi Lokal
Peringatan HUT ke-10 Konjen Australia di Makassar tidak berhenti pada narasi sejarah. Berbagai kegiatan dirancang secara cermat untuk memupuk dan memperluas jejaring hubungan antarkomunitas. Salah satu acara utamanya adalah Gala Dinner dan Pertemuan Alumni Australia, yang memberikan wadah bagi para OzAlum (alumni program Australia) untuk berbagi pengalaman dan inspirasi. Selain itu, Booth Produk UMKM Mitra turut dihadirkan, menampilkan keunggulan produk dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi mitra strategis Konjen Australia, sekaligus mendukung pengembangan ekonomi lokal.
Apresiasi dan Komitmen untuk Masa Depan Kolaborasi
Konsul Jenderal Australia, Todd Dias, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap hubungan harmonis yang telah terbangun. Ia menekankan bahwa ikatan antara masyarakat asli Australia dan masyarakat Makassar bukanlah hal baru, melainkan sebuah warisan persahabatan yang telah mengakar kuat. Pernyataan senada juga dilontarkan oleh Presiden Ikatan Alumni (IKA) Australia di Sulawesi Selatan, Prof. Jamaluddin Jompa. Ia menegaskan kembali komitmen para alumni Australia untuk terus menyumbangkan ide-ide inovatif dan dedikasi demi memperkuat hubungan bilateral antara Australia dan Indonesia, khususnya bagi para alumni yang berdomisili di Sulawesi Selatan.
“Hubungan bilateral Australia dan Indonesia, khususnya dengan Makassar, sudah ada sebelum kemerdekaan. Oleh karena itu, hubungan baik ini terus kita jaga,” ujar Prof. Jamaluddin Jompa. Kehadiran para undangan, termasuk Konsul Jenderal Toddopuli Dias, dalam acara “story telling” tentang Suku Marege, menjadi pengingat penting akan betapa panjang dan kaya jalinan hubungan bilateral yang telah terbentang sejak lama, yang kini terus diperkaya melalui berbagai kolaborasi.























