Di tengah hiruk-pikuk data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan ketahanan, pasar logam mulia justru menampilkan dinamika kenaikan yang signifikan. Emas dan perak mencatatkan lonjakan harga yang impresif pada perdagangan Rabu (11/2/2026), mengabaikan sinyal positif dari pasar tenaga kerja AS dan menunjukkan ketahanan fundamental yang kuat.
Harga Emas Melonjak Melampaui 1%, Abaikan Data Ketenagakerjaan AS
Pada hari Rabu, harga emas dunia mencatat kenaikan mencengangkan sebesar 1,11%, mencapai US$5.078,50 per troy ons. Lonjakan ini berhasil membalikkan tren penurunan sehari sebelumnya dan mengembalikan kepercayaan investor. Meskipun pada Kamis (12/2/2026) pukul 06.44 WIB terlihat sedikit pelemahan menjadi US$5.063,69 per troy ons di pasar spot, momentum kenaikan tetap menjadi sorotan utama.
Ketahanan Emas di Tengah Laporan Pekerjaan yang Kuat
Kenaikan harga emas terjadi secara kontradiktif dengan rilis data pekerjaan AS yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang positif pada Januari dan penurunan tingkat pengangguran ke 4,3%. Data ini seyogianya memberikan ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, Tai Wong, seorang pedagang logam independen, berpendapat bahwa “Satu laporan pekerjaan yang kuat tidak akan merusak mentalitas di balik pembelian emas yang dianggap jangka panjang dan fundamental.” Ia menekankan tren emas yang secara konsisten menunjukkan puncak yang lebih tinggi dan lembah yang lebih tinggi pasca-keruntuhan besar, didorong oleh keyakinan investor terhadap narasi utang dan divestasi dari AS.
Faktor Fundamental Pendukung Emas Semakin Menguat
Secara fundamental, emas terus memperkuat posisinya sebagai aset ‘safe haven’. Peningkatan ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, ditambah dengan pembelian signifikan oleh bank sentral, menjadi katalis utama. Hingga saat ini, logam mulia ini telah mencatat kenaikan lebih dari 17% sepanjang tahun, melanjutkan tren rekor dari tahun sebelumnya. Ditambah lagi, data penjualan ritel AS yang stagnan pada Desember mengindikasikan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang semakin memperkuat daya tarik emas di tengah ketidakpastian.
Proyeksi Kebijakan Suku Bunga The Fed dan Dampaknya pada Emas
Perkiraan dari jajak pendapat Reuters mengindikasikan bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah hingga Mei, namun diperkirakan akan melakukan pemangkasan pada Juni. Kekhawatiran muncul terkait potensi kebijakan yang terlalu longgar di bawah calon pengganti Ketua Jerome Powell, Kevin Warsh. Dalam konteks ini, emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, cenderung berkinerja baik dalam periode ketidakpastian geopolitik atau ekonomi, serta saat suku bunga rendah.
Perak Mengikuti Tren Penguatan dalam Area Konsolidasi
Di sisi lain, perak (XAG) juga menunjukkan penguatan pada perdagangan Rabu (11/2/2026) dengan kenaikan 4,15% mencapai US$84,03 per troy ons di pasar spot. Meskipun demikian, perak masih bergerak dalam area konsolidasi, serupa dengan emas. Pada Kamis (12/2/2026) hingga pukul 06.44 WIB, harga perak mengalami sedikit pelemahan sebesar 0,71% di level US$83,43 per troy ons.
Fokus Investor Berikutnya: Indeks Harga Konsumen AS
Para investor saat ini menanti rilis laporan indeks harga konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan pada hari Jumat. Data ini diharapkan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai tingkat inflasi dan mengarahkan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed di masa mendatang.























