Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) membawa kekayaan kopi Nusantara ke panggung internasional di Dieng Culture Festival 2026, memamerkan 14 kopi Indikasi Geografis (IG) sebagai pijakan awal pengembangan konsep GI Tourism.
- DJKI memperkenalkan 14 kopi IG Indonesia di Dieng Culture Festival 2026.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi pengembangan GI Tourism dengan Dieng sebagai pilot project.
- Pameran menampilkan keragaman cita rasa kopi Indonesia yang dipengaruhi kondisi geografis dan tradisi lokal.
- Konsep “Jelajah Kopi Indikasi Geografis Indonesia” mengajak masyarakat mengenal asal-usul, cita rasa, dan peran komunitas.
- Indikasi Geografis (IG) berpotensi besar memberikan nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat di wilayah asalnya.
- Produk IG Dieng seperti Kopi Arabika Pegunungan Dieng, Carica, dan Purwaceng juga turut diperkenalkan.
DJKI Gelar 14 Kopi Indikasi Geografis di Dieng Culture Festival 2026
Kehadiran 14 produk kopi yang telah terdaftar sebagai indikasi geografis (IG) dari berbagai penjuru Indonesia di Dieng Culture Festival 2026 menjadi sorotan utama. Langkah strategis DJKI ini tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan dan keunikan produk IG Indonesia kepada khalayak luas, tetapi juga sebagai pondasi dalam mempersiapkan pengembangan konsep GI Tourism, di mana kawasan Dieng dipilih sebagai pilot project.
Ragam Cita Rasa Kopi IG Indonesia Memukau Pengunjung
Ke-14 jenis kopi IG yang dipamerkan di Dieng Culture Festival 2026 merepresentasikan kekayaan cita rasa kopi Indonesia yang begitu beragam. Setiap kopi membawa jejak karakter geografis, kondisi alam yang spesifik, serta keterampilan dan tradisi masyarakat yang turun-temurun di wilayah asalnya. Kopi-kopi unggulan yang hadir meliputi:
- Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara
- Arabika Sumatera Simalungun
- Arabika Sumatera Minang Solok
- Arabika Java Preanger
- Arabika Java Sindoro-Sumbing
- Arabika Flores Bajawa
- Arabika Sembalun Lombok
- Arabika Bantaeng
- Arabika Rumbia Jeneponto
- Arabika Toraja
- Arabika Mamasa
- Robusta Simalungun
- Robusta Pagaralam
- Robusta Mamasa
Konsep “Jelajah Kopi Indikasi Geografis Indonesia”: Pengalaman Holistik
Melalui konsep inovatif “Jelajah Kopi Indikasi Geografis Indonesia”, DJKI berupaya membuka pintu bagi masyarakat untuk menyelami lebih dalam tentang asal-usul suatu produk. Pengunjung tidak hanya diajak untuk menikmati cita rasa khasnya, tetapi juga untuk memahami peran krusial yang dimainkan oleh masyarakat dan komunitas dalam menjaga reputasi produk-produk ini. Pengalaman komprehensif ini dirangkum dalam alur Show, Taste, Protect, Sell, dan Visit yang dapat dinikmati di Paviliun Terpadu DJKI.
"Melalui pelindungan indikasi geografis, kita ingin mendorong produk-produk khas daerah memiliki nilai ekonomi yang lebih besar. Keunikan asal, reputasi, kualitas, hingga cerita di balik produk dapat menjadi kekuatan untuk membuka pasar sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat."
Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, dalam sebuah wawancara daring pada Rabu, 26 Agustus 2026. Beliau menekankan bahwa indikasi geografis lebih dari sekadar perlindungan nama atau produk semata. Lebih jauh lagi, IG memiliki potensi luar biasa untuk memberikan nilai tambah dan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat di wilayah asalnya. Dengan perlindungan yang memadai, keunikan, reputasi, dan kualitas produk dapat terus terjaga dan berkembang, menjadi kekuatan yang mampu memperluas pasar dan secara fundamental mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Produk Unggulan Dieng Turut Memeriahkan Panggung IG
Tidak hanya kopi dari berbagai daerah di Indonesia, DJKI juga secara khusus memperkenalkan produk-produk unggulan asal kawasan Dieng yang telah memiliki status IG. Ketiga produk yang menjadi kebanggaan daerah ini adalah Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara, Carica Dieng, dan Purwaceng. Kehadiran ketiganya menegaskan komitmen dalam membangun pengalaman wisata berbasis asal yang kuat, yang secara harmonis menghubungkan produk-produk unggulan dengan kekayaan budaya, lanskap alam yang memukau, masyarakat lokal, serta wilayah penghasilnya.
Kontributor: MA. Untung
Penyunting: M. Ridham























