Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Laksmana TNI (Purn) Didit Herdiawan Ashaf, menunjukkan komitmen kuat dalam mendampingi keluarga korban kecelakaan pesawat ATR 42-500. Kunjungan ke Makassar, Sulawesi Selatan, ini menegaskan keseriusan pemerintah dalam menangani dampak musibah tersebut.
Poin Penting:
- Wamen KKP memastikan pendampingan menyeluruh bagi seluruh keluarga korban.
- Pemerintah berkomitmen memberikan layanan trauma healing tanpa terkecuali.
- Tiga ASN KKP menjadi korban dalam insiden ini saat menjalankan tugas.
- Proses identifikasi korban melalui DVI terus dikawal hingga tuntas.
Pendampingan Penuh dan Trauma Healing
Didit Herdiawan secara tegas menyatakan bahwa tidak ada satupun keluarga korban yang terlewat dalam proses pendampingan. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa, 20 Januari 2026, seiring dengan berjalannya operasi pencarian dan evakuasi oleh Tim SAR gabungan di wilayah Pegunungan Bulusaraung.
Lebih lanjut, KKP berkomitmen untuk menyediakan layanan pendampingan psikologis atau trauma healing bagi seluruh anggota keluarga korban. Hal ini menjadi prioritas di tengah upaya evakuasi yang terus berjalan secara optimal. “Pelaksanaan kegiatan evakuasi terus dilakukan secara tepat,” ujar Didit.
Identitas Tiga ASN KKP yang Menjadi Korban
Tiga aparatur sipil negara (ASN) dari KKP tercatat menjadi penumpang dalam kecelakaan pesawat nahas ini. Ketiganya adalah Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal. Mereka tengah menjalankan tugas penting pengawasan udara ketika insiden tersebut terjadi.
Proses Identifikasi dan Dukungan Berkelanjutan
Seluruh keluarga korban yang berasal dari lingkungan KKP dilaporkan telah berada di Makassar untuk mendampingi proses yang berlangsung. Tahap penting pengambilan sampel untuk keperluan Disaster Victim Identification (DVI) juga telah dilaksanakan.
“Keluarga korban dari KKP sudah lengkap di Makassar. Sampel DVI sudah diambil dan seluruh proses kami kawal,” jelas Wakil Menteri KKP. KKP akan terus mendampingi proses identifikasi ketiga pegawainya hingga seluruh tahapan selesai sebagai bentuk empati dan tanggung jawab pemerintah. “Kami tentu merasa prihatin atas kejadian ini,” tutup Didit.























