Fenomena permainan tembak-tembakan menggunakan senjata mainan jenis “mega” yang berpeluru plastik dan jeli tengah menjadi sorotan serius di Makassar. Aktivitas yang dilakukan oleh sejumlah pemuda dan pelajar ini dilaporkan meresahkan warga, mendorong Pemerintah Kota Makassar untuk segera mengambil tindakan tegas.
Inti Permasalahan: Gangguan Ketertiban dan Potensi Bahaya
- Pemerintah Kota Makassar mendesak kepolisian untuk menindak tegas pelaku permainan senapan mainan.
- Aktivitas ini marak terjadi selama bulan Ramadan, terutama pada malam hari setelah salat Tarawih.
- Permainan ini melibatkan aksi saling tembak di jalan raya, bahkan saat berkendara motor, yang berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain.
- Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menekankan bahwa fenomena ini mengganggu ketertiban umum dan kenyamanan beribadah warga.
Kronologi dan Bentuk Permainan yang Meresahkan
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara tegas menyatakan keprihatinan atas maraknya permainan yang melibatkan senjata mainan berpeluru plastik dan jeli. Menurutnya, aktivitas ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan memerlukan penanganan serius dari berbagai elemen, mulai dari aparat penegak hukum hingga aparat kewilayahan di tingkat RT/RW.
Istilah “mega” dalam konteks ini umumnya merujuk pada seri senjata mainan seperti Nerf Mega. Meskipun produk aslinya dirancang untuk permainan anak-anak yang relatif aman dengan peluru busa yang lebih besar, di Makassar, fenomena ini justru melibatkan kalangan muda, termasuk pelajar, dengan penggunaan peluru yang berpotensi lebih berbahaya. Aksi saling serang seringkali dilakukan di malam hari, pasca-salat Tarawih, bahkan dilakukan di tengah jalan raya sambil mengendarai sepeda motor.
Mengapa Permainan Ini Dianggap Berbahaya?
Munafri Arifuddin menggarisbawahi bahwa eskalasi permainan ini sudah melampaui batas kewajaran. Aksi menembak dari atas motor saat melaju adalah tindakan yang sangat berisiko tinggi. Hal ini tidak hanya mengganggu ketenteraman masyarakat dan suasana khidmat bulan Ramadan, tetapi yang lebih krusial, memiliki potensi besar untuk mencederai orang lain.
“Jika permainan ini mencelakakan orang lain dan mengganggu ketertiban umum, maka langkah tegas dari pihak keamanan sangat diperlukan.”
– Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin
Pemerintah Kota Makassar berkomitmen penuh untuk memastikan keamanan dan ketertiban selama bulan Ramadan. Tujuannya adalah agar seluruh elemen masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan nyaman, bebas dari gangguan yang berpotensi menimbulkan ancaman atau bahaya.
Peran Pihak Terkait dalam Penanganan
Penanganan isu ini melibatkan berbagai pihak:
- Pemerintah Kota Makassar: Melalui Wali Kota Munafri Arifuddin, memimpin desakan untuk penindakan tegas.
- Kepolisian: Diharapkan menjadi ujung tombak dalam melakukan penegakan hukum terhadap pelaku.
- Pemerintah Kecamatan dan Aparat Lingkungan (RT/RW): Dilibatkan untuk melakukan pengawasan dan pencegahan di tingkat akar rumput.
- Pemuda dan Pelajar: Merupakan kelompok yang paling sering terlibat dalam aktivitas ini dan perlu mendapatkan edukasi serta arahan.
- Masyarakat Luas: Menjadi pihak yang merasakan dampak langsung dari keresahan yang ditimbulkan dan diharapkan dapat memberikan laporan jika menemukan aktivitas serupa.
Fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya keseimbangan antara aktivitas rekreasi dan tanggung jawab sosial, terutama di bulan suci Ramadan, demi terciptanya suasana kota yang aman, tertib, dan harmonis.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: MA. Untung























