Sebuah insiden memilukan terjadi di Karawang, Jawa Barat, merenggut nyawa tiga orang. Sebuah truk kontainer terguling dan menimpa sebuah mobil sedan, sebuah tragedi yang diduga bermula dari keputusan sopir truk untuk memaksakan diri melewati jalur irigasi tanggul Rawagabus, Desa Kondangjaya, Karawang Timur, yang sejatinya berbahaya.
- Tiga orang tewas akibat truk kontainer terguling di Karawang.
- Sopir diduga memaksakan diri masuk jalur irigasi tanggul yang berbahaya.
- Saksi ‘Pak Ogah’ mengklaim telah memperingatkan sopir namun diabaikan.
- Jalur alternatif dipilih karena jarak ke gudang dianggap lebih dekat.
- Kecelakaan menimbulkan duka mendalam dan penyesalan atas narasi yang beredar.
Kronologi Maut di Karawang: Keengganan Mengabaikan Peringatan
Peristiwa nahas ini bermula ketika sebuah truk kontainer yang mengangkut minyak goreng terguling di jalur irigasi tanggul Rawagabus. Akibatnya, sebuah mobil sedan yang melintas di bawahnya tertimpa, menyebabkan kematian tiga orang penumpangnya. Dugaan kuat mengarah pada tindakan sopir truk yang memilih jalur yang tidak semestinya.
Keterangan Saksi: Peringatan Sopir yang Diabaikan
Menurut Rio, seorang ‘Pak Ogah’ yang kerap beraktivitas di sekitar lokasi kejadian, sopir truk kontainer sebenarnya telah melakukan survei terhadap lintasan sebelum memutuskan untuk melintas. Meskipun telah diperingatkan bahwa jalur tersebut tidak aman dan tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan besar, sopir disebut tetap bersikeras.
- Sopir melakukan survei lintasan sejak pukul 15.00 WIB.
- Rio telah menyampaikan kepada sopir bahwa jalur tersebut tidak dapat dilalui oleh truk.
- Truk dijadwalkan membongkar muatan dari Jalur Arteri menuju gudang di bawah, di sekitar jalan irigasi.
Rio melanjutkan, sopir truk kembali ke lokasi sekitar pukul 19.30 WIB dan tanpa ragu langsung memasuki turunan. Ketika ditanya mengenai tindakannya, sopir beralasan, “Kagok geus asup a, dipundurken deui teh hese” (tanggung sudah masuk, dimundurkan lagi susah). Sopir sempat diarahkan untuk mengambil jalur kanan, namun ia justru terus mengambil jalur kiri.
Sebelum akhirnya terguling dan menimpa mobil sedan, truk kontainer tersebut dilaporkan sempat menabrak kendaraan colt diesel dan kemudian menabrak pembatas jalan.
Alasan Sopir Memilih Jalur Alternatif yang Berisiko
Maryati, warga lain yang turut menyaksikan kejadian tersebut, membenarkan bahwa sopir truk diduga kuat memaksakan diri masuk ke jalan turunan tersebut. Alasan di balik keputusan nekat ini, menurut Maryati, adalah jarak yang lebih dekat menuju gudang melalui jalur tersebut dibandingkan jika harus melalui jalur utama.
“Soalnya karena katanya dekat gudangnya, lewat sana (Johar) jauh lagi,” ungkap Maryati. Ia menambahkan, biasanya proses pengantaran barang dilakukan di atas dan kemudian diangkut menggunakan pikap, namun pada hari kejadian, sistem pengantaran tersebut berbeda.
Jalan turunan yang menjadi lokasi kecelakaan ini diketahui memang kerap digunakan sebagai lintasan alternatif oleh warga setempat untuk menuju kawasan perumahan CKM dan area sekitarnya.
Tanggapan ‘Pak Ogah’ dan Dampak Narasi Pasca-Tragedi
Rio, sang ‘Pak Ogah’, menyatakan penyesalannya atas maraknya narasi yang beredar di masyarakat yang seolah-olah menyudutkan pihak pengatur lalu lintas di lokasi kejadian. Ia merasa prihatin karena usaha mereka terkadang disalahartikan.
“Menyesalkan saja, seolah-olah kita yang ngasih cuma demi serebu dua rebu,” keluhnya. Narasi yang berkembang dikhawatirkan merusak citra dan pandangan masyarakat terhadap peran mereka.
Kecelakaan maut yang terjadi pada Minggu (15/2) malam ini telah menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Investigasi lebih lanjut diharapkan dapat terus mengungkap seluruh fakta yang terjadi di balik tragedi yang merenggut tiga nyawa ini, sehingga kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.























