Peristiwa tragis menyelimuti Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun, Yohanes Bastian Roja, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan, diduga akibat gantung diri. Insiden ini membuka tabir persoalan mendasar terkait akses pendidikan dan kendala administrasi yang dihadapi keluarga kurang mampu.
Kronologi Pilu: Permintaan Tak Terpenuhi hingga Titik Akhir
Menurut penuturan Bupati Ngada, Raymundus Bena, hasil investigasi tim yang dikirim ke lapangan mengungkap fakta yang memilukan. Sebelum kejadian nahas itu, Yohanes kerap kali meminta ibunya untuk segera mengurus pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP). Dana tersebut sangat diharapkan untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya, mulai dari buku hingga pena.
Kendala Administrasi yang Menghambat
Namun, permintaan Yohanes tak kunjung terpenuhi lantaran ibunya menghadapi kendala administrasi yang pelik. “Dia bertanya kapan PIP beasiswanya diurus dan mamanya bilang tunggu nanti pencairan ke bank di kabupaten,” ungkap Bupati Raymundus menirukan percakapan korban dengan ibunya.
Permasalahan administrasi tersebut timbul karena Kartu Tanda Penduduk (KTP) ibu korban masih terdaftar di Kabupaten Nagekeo, padahal domisili barunya kini berada di Kabupaten Ngada. Ibu korban diminta untuk mengurus perpindahan administrasi terlebih dahulu di kampung halamannya.
Rangkaian Kejadian di Hari Tragis
Tim menemukan bahwa urusan administrasi perpindahan penduduk untuk kakak-kakak korban telah selesai, namun belum sampai pada giliran Yohanes. Pada hari kejadian, Yohanes tidak masuk sekolah dan memilih pergi ke kebun neneknya. Sang nenek ternyata tidak berada di tempat, sehingga Yohanes berada sendirian.
Beberapa warga yang melintas sempat menanyakan ketidakhadiran Yohanes di sekolah. Ia menjawab sedang sakit kepala. Bupati Raymundus menambahkan bahwa beasiswa PIP korban sebenarnya sudah tersedia, namun sulit dicairkan akibat permasalahan administrasi tersebut. Hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah ke depannya.
Respons dan Tindakan Pemerintah Daerah
Tindakan Tegas untuk Kepatuhan Administrasi
Menyikapi insiden ini, Pemerintah Kabupaten Ngada berencana mengambil tindakan tegas untuk memastikan warganya tertib dalam melengkapi administrasi kependudukan. “Saya akan tegas dan melaksanakan rapat koordinasi untuk identifikasi benar-benar. Kalau masih ada masyarakat yang masa bodoh ya kita mesti tekan door to door,” ujar Bupati Raymundus.
Program Lokal dan Perhatian Khusus
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Ngada juga sedang merancang program PIP versi daerah sendiri dan berupaya menyediakan pakaian seragam sekolah bagi siswa yang membutuhkan. Bupati Raymundus juga berencana untuk hadir langsung dalam acara adat kedukaan di makam korban sebagai bentuk kepedulian.
Latar Belakang Psikologis Korban yang Kompleks
Kondisi Keluarga dan Trauma Masa Kecil
Temuan awal tim juga mengungkap fakta bahwa Yohanes adalah seorang yatim. Ayahnya telah meninggal dunia saat ia masih kecil. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Dalam kesehariannya, Yohanes dirawat oleh neneknya di rumah kebun dan sesekali mengunjungi ibunya yang tinggal terpisah bersama ayah tiri dan empat saudaranya.
Faktor-faktor latar belakang ini diduga kuat memengaruhi kondisi psikologis Yohanes. “Sehingga pengalaman-pengalaman inilah yang mungkin membuat anak ini traumatis dan juga dalam perjalanan diambil-alih oleh neneknya di kebun,” jelas Bupati Raymundus, menyoroti kerentanan emosional yang mungkin dialami korban.























