Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul serangan militer Amerika Serikat ke Iran dan balasan dari Teheran, kini berdampak langsung pada mobilitas penerbangan internasional, termasuk bagi jamaah haji dan umroh asal Indonesia. Penutupan wilayah udara oleh sejumlah negara di kawasan menimbulkan ketidakpastian jadwal kepulangan, memaksa ratusan jamaah tertahan di Arab Saudi.
- Serangan militer AS ke Iran dan balasan rudal Iran memicu penutupan wilayah udara di beberapa negara Timur Tengah.
- Maskapai internasional seperti Qatar Airways, Emirates, Etihad Airways, dan Turkish Airlines membatalkan atau menunda penerbangan menuju/dari kawasan, termasuk rute Jeddah dan Doha.
- Jamaah umroh asal Indonesia di Madinah yang seharusnya pulang tertahan, menunggu informasi kepastian jadwal kepulangan.
- Penutupan ini berdampak signifikan pada penerbangan transit jamaah umroh Indonesia yang menjadikan Doha dan Dubai sebagai hub utama.
- Otoritas penerbangan masih mengevaluasi situasi keamanan sebelum membuka kembali wilayah udara secara penuh.
Dampak Langsung Penutupan Wilayah Udara
Situasi keamanan yang memanas di Timur Tengah telah memaksa otoritas penerbangan di sejumlah negara, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, untuk mengambil langkah antisipatif dengan membatasi atau menutup sementara ruang udara mereka. Keputusan ini diambil demi menjamin keselamatan penerbangan di tengah potensi eskalasi konflik.
Penutupan wilayah udara ini berimbas besar pada operasional maskapai internasional, khususnya yang berbasis di kawasan tersebut. Maskapai seperti Qatar Airways, Emirates, Etihad Airways, dan Turkish Airlines dilaporkan telah membatalkan sejumlah jadwal penerbangan yang melintasi atau menuju Timur Tengah. Dampak paling terasa adalah bagi jamaah umroh Indonesia yang bergantung pada rute transit melalui Doha dan Dubai, yang selama ini menjadi hub vital bagi perjalanan mereka dari Jeddah dan Madinah menuju Tanah Air.
Jamaah Umroh Menanti Kepastian Jadwal Pulang
Salah satu jamaah umroh asal Indonesia, Natria Baskoro (37), yang saat ini berada di Madinah, mengungkapkan rasa cemasnya. Ia seharusnya dijadwalkan kembali ke Indonesia pada hari berikutnya menggunakan Qatar Airways dengan transit di Doha. Namun, hingga kini, ia dan rombongannya masih menanti informasi lanjutan mengenai kepastian jadwal kepulangan mereka.
“Di sini alhamdulillah aman, kondisi Madinah kondusif. Tapi saya seharusnya pulang besok, insya Allah. Sampai sekarang rombongan kami masih menunggu informasi lanjutan,” ujar Natria saat dihubungi pada Sabtu (28/2/2026). Meski situasi di Madinah terasa tenang, kabar mengenai eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah tetap menimbulkan kekhawatiran di kalangan jamaah.
“Semoga tidak berdampak langsung ke Tanah Suci. Semoga semuanya dilindungi Allah SWT,” tambahnya, merefleksikan harapan banyak jamaah yang kini situasinya menjadi tidak pasti akibat gejolak di luar kendali mereka.
Evaluasi Keamanan dan Imbauan
Hingga berita ini diturunkan, otoritas penerbangan di kawasan terkait masih terus melakukan evaluasi mendalam terhadap situasi keamanan. Pembukaan kembali wilayah udara secara penuh akan bergantung pada perkembangan kondisi di lapangan. Oleh karena itu, para jamaah umroh dan calon jamaah haji diimbau untuk terus memantau informasi resmi yang dikeluarkan oleh maskapai penerbangan dan biro perjalanan masing-masing terkait penjadwalan ulang penerbangan.























