Makassar, sebuah kota yang denyut nadi budayanya tak pernah padam, kini menemukan cara baru untuk meredam ancaman kejahatan jalanan. Melalui sebuah inisiatif unik bernama ‘Trauma Kota’, seni bukan lagi sekadar hiburan, melainkan sebuah senjata kultural yang strategis.
Poin-Poin Kunci:
- Program ‘Trauma Kota’ hadir sebagai respons Pemkot Makassar terhadap maraknya kejahatan jalanan, khususnya aksi geng motor.
- Pendekatan seni dipilih sebagai strategi inovatif untuk membangun kesadaran, memperkuat dialog sosial, dan menciptakan ruang publik yang aman.
- Inisiatif ini didukung oleh Komunitas Trauma Kota dan mendapat audiensi langsung dari Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin.
- Program ini akan melibatkan pameran foto, diskusi publik, seni performansi, dan lokakarya di lima kecamatan yang terdampak.
Seni Sebagai Kanvas Perubahan di Makassar
Maraknya aksi negatif geng motor di Makassar telah menciptakan gelombang kekhawatiran di tengah masyarakat. Fenomena ini tidak hanya mengancam ketertiban umum, tetapi juga meninggalkan luka psikologis dan merusak citra kota. Menyadari kompleksitas persoalan ini, Pemerintah Kota Makassar, melalui inisiatif yang digagas oleh Komunitas Trauma Kota, memutuskan untuk menempuh jalur yang tidak konvensional: seni.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dalam audiensi yang berlangsung di Makassar baru-baru ini, menyambut baik rencana penyelenggaraan pertunjukan seni yang secara khusus mengangkat isu kejahatan jalanan. Beliau menegaskan harapannya agar pendekatan kultural berbasis seni ini dapat menjadi strategi yang efektif untuk membangun kesadaran kolektif dan memperkuat dialog sosial. Ini adalah upaya nyata untuk menciptakan ruang kota yang lebih aman dan inklusif bagi seluruh warga Makassar.
‘Trauma Kota’: Lebih dari Sekadar Pertunjukan
Penggagas program, Soekarno Hatta, menjelaskan bahwa persoalan kejahatan jalanan oleh oknum geng motor telah menjadi momok serius di Makassar sejak tahun 2012. Ia menekankan bahwa inisiatif ini tidak bermaksud menggeneralisasi seluruh komunitas geng motor, sebab ada pula kelompok yang justru berkontribusi positif. ‘Trauma Kota’ hadir sebagai wadah yang komprehensif, mempertemukan seni, warga, dan pemerintah untuk mencari solusi bersama.
Program ini dirancang dalam beberapa tahapan yang interaktif dan edukatif:
Rangkaian Kegiatan ‘Trauma Kota’:
- Pameran Foto: Sebuah jendela visual untuk merefleksikan fenomena geng motor dan dampaknya.
- Diskusi Publik: Ruang dialog yang mempertemukan aparat kecamatan, penggagas program, dan pakar psikologi untuk pemahaman mendalam.
- Seni Performansi: Pertunjukan seni yang akan ditampilkan langsung di ruang-ruang publik yang membutuhkan intervensi.
- Lokakarya: Sesi kreatif untuk mematangkan konsep dan karya performansi yang akan dipentaskan.
Kegiatan ini akan difokuskan di lima kecamatan yang dinilai paling terdampak, yaitu Kecamatan Ujung Pandang, Mariso, Mamajang, Rappocini, dan Manggala. Proses lokakarya performansi sendiri telah dimulai sejak Februari 2026, dengan pelaksanaan terakhir pada Sabtu, 28 Februari 2026, di Studio Kala Teater, menandakan keseriusan dan kedalaman persiapan program ini. Dengan ‘Trauma Kota’, Makassar berupaya menyembuhkan luka melalui keindahan dan kekuatiran seni.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: MA. Untung























