Presiden Taiwan, Lai Ching-te, menyuarakan kekhawatiran mendesak mengenai potensi eskalasi agresi China di kawasan Indo-Pasifik. Ia menegaskan bahwa jika Taiwan jatuh ke tangan China, ambisi Beijing tidak akan berhenti di sana, melainkan akan merambah ke negara-negara tetangga dan bahkan benua lain.
- Presiden Taiwan, Lai Ching-te, memperingatkan tentang potensi perluasan agresi China di kawasan Indo-Pasifik.
- Ia menyatakan bahwa jika Taiwan dianeksasi oleh China, negara-negara seperti Jepang, Filipina, dan bahkan Amerika Serikat berpotensi menjadi target berikutnya.
- Taiwan berencana meningkatkan anggaran militernya hingga US$40 miliar untuk memperkuat pertahanan, terutama melalui pembelian persenjataan dari AS.
- Kekhawatiran serupa juga diutarakan oleh para pemimpin Jepang dan Filipina, yang menyadari risiko terseret dalam konflik terkait Taiwan.
- China terus memperluas pengaruhnya di kawasan Indo-Pasifik, termasuk klaim sepihak atas Laut China Selatan.
Peringatan Keras dari Puncak Kepemimpinan Taiwan
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan AFP di Taipei, Presiden Lai Ching-te tidak ragu-ragu menyampaikan pandangannya mengenai rencana ekspansionis China. Ia menilai bahwa invasi atau aneksasi Taiwan oleh China akan memicu serangkaian tindakan agresif lebih lanjut yang tidak hanya mengancam stabilitas dan perdamaian di kawasan Indo-Pasifik, tetapi juga merusak tatanan hukum internasional yang telah lama terbangun.
“Jika Taiwan dianeksasi China, ambisi ekspansionis Beijing tidak akan berhenti di sana,” ujar Presiden Lai dengan tegas. Ia merinci bahwa negara-negara yang paling rentan menjadi sasaran berikutnya adalah Jepang dan Filipina, yang secara geografis berdekatan. Lebih jauh lagi, ia tidak menutup kemungkinan bahwa ambisi tersebut bisa merambah hingga ke Amerika Serikat dan benua Eropa, menciptakan implikasi global.
Latar Belakang Geopolitik Taiwan dan China
Konflik antara Taiwan dan China berakar pada klaim Beijing yang menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan harus dipersatukan kembali dengan daratan utama, bahkan dengan menggunakan kekuatan militer jika diperlukan. Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, ancaman penggunaan kekuatan militer ini semakin sering dilontarkan.
Sementara itu, Taiwan selama ini menikmati perlindungan melalui pakta keamanan dengan Amerika Serikat. Perjanjian ini secara implisit menjamin keamanan Taipei, termasuk dalam aspek penyediaan senjata dan peralatan militer krusial, meskipun hal ini kerap menuai protes keras dari China.
Taiwan Perkuat Pertahanan di Tengah Ketegangan
Menghadapi situasi yang semakin memanas dan meningkatnya ancaman dari China, Presiden Lai Ching-te menekankan krusialnya penguatan kapasitas pertahanan Taiwan. Salah satu langkah konkret yang telah diambil adalah pengajuan tambahan anggaran militer sebesar sekitar 40 miliar dolar AS (sekitar Rp673 triliun).
Anggaran besar ini direncanakan secara spesifik untuk pengadaan persenjataan modern, dengan prioritas utama pada pembelian dari Amerika Serikat. Langkah ini diambil meski China telah berulang kali mengeluarkan peringatan keras kepada Washington agar menghentikan penjualan senjata kepada Taiwan, yang dianggapnya sebagai campur tangan urusan internal.
Respons dan Kekhawatiran Negara Tetangga
Kekhawatiran terhadap potensi agresi China tidak hanya menjadi monopoli Taiwan. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, secara terbuka mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer Jepang apabila China melancarkan serangan terhadap Taiwan. Pernyataan ini sontak memicu kemarahan dari Beijing, yang melihatnya sebagai provokasi.
Senada dengan itu, Presiden Filipina, Ferdinand Marcos, juga menyuarakan kekhawatirannya. Ia memperingatkan bahwa negaranya kemungkinan besar akan terseret dalam konflik yang melibatkan Taiwan, terutama mengingat adanya akses militer Amerika Serikat ke sembilan pangkalan strategis di Filipina. Lokasi ini menjadi sangat relevan dalam skenario konflik regional.
Selain itu, China terus menunjukkan ambisi perluasan pengaruhnya di kawasan Indo-Pasifik. Salah satu manifestasi terkuat adalah klaim sepihak atas hampir 90 persen perairan di Laut China Selatan, yang tumpang tindih dengan wilayah teritorial dan zona ekonomi eksklusif (ZEE) negara-negara lain di kawasan tersebut, menimbulkan ketegangan maritim yang berkelanjutan.
Memahami Konsep Kawasan Indo-Pasifik
Kawasan Indo-Pasifik merupakan sebuah mega-region yang mencakup wilayah geografis yang luas dan strategis. Secara umum, kawasan ini meliputi Asia Timur (termasuk Korea Selatan, Korea Utara, dan Jepang), Asia Selatan, seluruh negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia, hingga ke Australia, Selandia Baru, dan berbagai negara kepulauan di kawasan Pasifik.























