Sebuah tragedi menggemparkan Kota Bekasi dini hari Senin, 4 Maret 2024, bertepatan dengan momen sakral bulan Ramadan. Pasangan suami istri lanjut usia, Ermanto Usman (65) dan Pasmilawati (60), menjadi korban dugaan perampokan disertai kekerasan sadis di kediaman mereka di Perumahan Prima Lingkar Asri, Jatibening, Pondok Gede.
Ermanto ditemukan tewas dengan luka mengenaskan, sementara istrinya dalam kondisi kritis. Kejadian ini memicu sorotan publik, bukan hanya karena kekejaman pelaku, tetapi juga karena latar belakang korban yang dikenal vokal sebagai aktivis buruh dan pengungkap dugaan korupsi di PT Jakarta International Container Terminal (JICT).
- Peristiwa tragis terjadi saat sahur, Senin (4/3/2024), dini hari.
- Korban, Ermanto Usman (65), ditemukan tewas dengan luka parah.
- Istri korban, Pasmilawati (60), dalam kondisi kritis dan dirawat intensif.
- Pelaku diduga membobol rumah, merampas barang berharga, dan melarikan diri.
- Latar belakang korban sebagai aktivis anti-korupsi memunculkan spekulasi motif lain.
Wartakita.id – Peristiwa yang sangat mungkin mengubah cara pandang publik terhadap kasus ini terjadi sekitar pukul 04.00 WIB. Saat mayoritas warga tengah bersiap menyambut waktu sahur, suasana di rumah Ermanto Usman dan Pasmilawati tiba-tiba diselimuti kegelapan dan keheningan yang tidak biasa.
Sang putri korban, yang juga tinggal serumah, mendapati keganjilan tersebut. Panggilan yang dilayangkan tidak mendapat respons, menandakan ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Kepanikan pun membuncah. Setelah memastikan ada tanda-tanda mencurigakan, keluarga terpaksa melakukan upaya paksa untuk masuk ke kamar kedua orang tua mereka. Pintu kamar yang terkunci rapat dari dalam menjadi tantangan tersendiri. Akhirnya, melalui jendela yang ditemukan dalam kondisi rusak atau diduga dibobol, keluarga berhasil masuk dan menemukan pemandangan yang mengerikan.
Ermanto Usman ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kamarnya. Tubuhnya mengalami luka berat, terutama di bagian belakang kepala, yang diduga kuat akibat hantaman benda tumpul. Beberapa laporan awal juga mengindikasikan adanya luka tusukan senjata tajam, menambah dimensi kekejaman dari aksi pelaku.
Sementara itu, Pasmilawati, sang istri, ditemukan dalam kondisi kritis. Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis intensif, seperti yang dilaporkan terjadi di RS Primaya Bekasi atau RS Bhayangkara.
Investigasi Polisi dan Dugaan Motif yang Mengemuka
Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota bergerak cepat menanggapi laporan ini. Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Kompol Andi Muhammad Iqbal secara resmi menyatakan bahwa insiden ini diklasifikasikan sebagai “perampokan maut”. Pihaknya menegaskan bahwa pelaku saat ini masih dalam pengejaran. Jumlah pelaku yang pasti belum dapat dipastikan, dan tim Jatanras Polda Metro Jaya dilaporkan ikut turun tangan untuk membantu penyelidikan.
Namun, aspek yang membuat kasus ini menjadi sorotan utama dan memicu spekulasi luas adalah latar belakang Ermanto Usman. Beliau bukanlah sosok sembarangan. Ermanto adalah seorang pensiunan dari PT Jakarta International Container Terminal (JICT), sebuah perusahaan yang merupakan bagian dari Pelindo II. Lebih dari sekadar pensiunan, Ermanto dikenal sebagai mantan pengurus serikat pekerja dan seorang aktivis buruh yang sangat vokal.
Ia kerap menyuarakan dugaan praktik korupsi besar di lingkungan JICT dan Pelindo, termasuk isu pengalihan saham dan kerugian negara yang diperkirakan mencapai miliaran, bahkan triliunan rupiah, sepanjang periode 2014 hingga 2022. Beliau sering tampil di berbagai podcast dan media sosial untuk menyampaikan pandangannya.
Keluarga Yakin Ada Motif di Balik “Perampokan”
Perbedaan pandangan mengenai motif pun mencuat. Anak korban, Fiandy Amirullah Putra (33), secara tegas menyatakan keyakinannya bahwa peristiwa ini bukanlah perampokan biasa. Ia menduga kuat bahwa pembunuhan terhadap ayahnya terkait erat dengan pekerjaan dan perjuangan sang ayah dalam mengungkap dugaan korupsi.
Fiandy bahkan secara terbuka meminta keadilan langsung kepada Presiden terpilih, Prabowo Subianto, menunjukkan betapa seriusnya ia memandang kasus ini dan dampaknya.
Pihak keluarga dan beberapa kalangan lain turut menduga adanya motif lain yang lebih dalam di balik insiden yang diklaim sebagai perampokan oleh kepolisian. Keterkaitan dengan aktivitas anti-korupsi Ermanto Usman menjadi faktor utama yang mendorong dugaan ini.
Meskipun polisi masih mengklasifikasikannya sebagai perampokan, penyelidikan mendalam terhadap latar belakang korban tampaknya menjadi krusial.
Proses Penyelidikan dan Harapan Keadilan
Hingga awal Maret 2026, penyelidikan terhadap kasus ini masih terus berlangsung. Pihak kepolisian tengah fokus pada pendataan barang-barang yang diduga hilang, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara menyeluruh, serta mencari jejak-jejak yang ditinggalkan oleh pelaku.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penangkapan yang dilakukan, dan motif resmi selain dugaan perampokan belum dirilis oleh pihak berwenang.
Kasus ini memang sangat menghebohkan, terlebih lagi terjadi di bulan Ramadan, bulan yang seharusnya diisi dengan kedamaian dan ibadah. Latar belakang korban sebagai seorang aktivis yang berani menyuarakan kebenaran semakin menambah kompleksitas peristiwa ini. Publik menanti hasil penyelidikan yang tuntas dan berharap keadilan dapat segera ditegakkan bagi keluarga Ermanto Usman dan Pasmilawati.






















