Wartakita.id – Pemerintah tengah merancang strategi pemanfaatan material sisa bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera. Lumpur akan diolah menjadi tanggul sungai, sementara kayu gelondongan disiapkan untuk pembangunan hunian tetap (huntap) bagi para korban, sebagai upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Poin Penting
- Pemerintah berencana memanfaatkan lumpur sisa bencana banjir dan longsor di Sumatera untuk membangun tanggul sungai.
- Kayu gelondongan yang terbawa arus akan diutamakan untuk pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban bencana.
- Langkah ini merupakan bagian dari upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di tiga provinsi Sumatera.
- Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan rencana ini setelah berdiskusi dengan Menteri Pertahanan.
Strategi Pemerintah untuk Penanganan Pascabencana Sumatera
Pasca-bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pemerintah telah menyiapkan sejumlah rencana strategis untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, mengungkapkan inisiatif inovatif dalam penanganan dampak bencana.
Salah satu rencana utama adalah pemanfaatan lumpur yang mengendap di wilayah bencana. Menurut Tito Karnavian, lumpur tersebut akan digunakan untuk memperkuat dan membangun tanggul-tanggul sungai yang mengalami pendangkalan dan kerusakan akibat sedimentasi. Pendangkalan ini kerap menyebabkan sungai meluap ke permukiman warga, bahkan saat curah hujan ringan.
“Kalau yang untuk lumpur, diskusi kami dengan Pak Menhan, beliau ingin agar ini digunakan sebagai tanggul,” ungkap Tito, dalam sebuah jumpa pers di Kementerian Dalam Negeri. Ide ini muncul setelah beliau berbincang dengan Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, yang telah membentuk Satgas Kuala. Satgas Kuala merupakan unit khusus yang berfokus pada upaya pendangkalan sungai dan muara di wilayah terdampak bencana.
Proses pemanfaatan lumpur ini akan dilakukan dengan mengeruk endapan tersebut dan kemudian membentuknya menjadi tanggul di sisi kiri dan kanan sungai. Tujuannya adalah untuk mencegah luapan air saat banjir terjadi kembali dan memperkuat infrastruktur sungai yang vital bagi perlindungan warga.
Kayu Gelondongan untuk Hunian Tetap
Selain pemanfaatan lumpur, pemerintah juga berencana menggunakan kayu gelondongan yang terseret arus banjir bandang. Material kayu ini akan diprioritaskan untuk pembangunan hunian tetap (huntap) bagi para korban bencana. Hal ini disampaikan oleh Tito Karnavian sebagai bagian dari upaya pemulihan jangka panjang bagi masyarakat yang terdampak.
“Kalau untuk pemanfaatan kayu, itu lebih banyak mungkin diprioritaskan, apa namanya itu, untuk pembangunan, untuk pembangunan rumah-rumah hunian tetap nantinya itu,” jelasnya. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menyediakan tempat tinggal yang layak bagi pengungsi dan warga yang kehilangan rumah akibat bencana.
Pemanfaatan kayu gelondongan ini tidak hanya terbatas pada pembangunan huntap. Sebagian kayu juga telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk berbagai keperluan perbaikan, seperti memperbaiki rumah yang rusak, membangun pagar, serta merehabilitasi sarana publik seperti masjid, sekolah, dan fasilitas umum lainnya. Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan kondisi sosial dan infrastruktur di wilayah terdampak.
Mengenai potensi pihak swasta yang tertarik untuk membeli lumpur, Tito Karnavian mengaku belum memiliki informasi lebih lanjut. Namun, fokus utama saat ini adalah bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal untuk kepentingan publik dan mitigasi bencana di masa depan.























