Senin, 2 Februari 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Alam dan Lingkungan Hidup

Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar”

Dan Krisis Hidrometeorologi Sumatera Pasca-Deforestasi 2025

by A. Burhany
01/12/2025
in Alam dan Lingkungan Hidup
Reading Time: 30 mins read
A A
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured

Tanggal: 1 Desember 2025

Klasifikasi: Laporan Analisis Iklim dan Kebijakan Lingkungan

Status: Final – Tinjauan Mendalam dibantu Gemini AI 3 Pro dan Grok

Ringkasan Eksekutif

Laporan ini menyajikan analisis mendalam mengenai peristiwa bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatera dan Semenanjung Malaysia pada akhir November 2025. Fokus utama studi ini terbagi menjadi tiga pilar: (1) evaluasi meteorologis terhadap anomali pembentukan Siklon Tropis “Senyar” di dekat garis khatulistiwa, (2) analisis forensik lingkungan terkait dampak deforestasi dan alih fungsi lahan menjadi kelapa sawit terhadap intensitas banjir bandang, serta (3) formulasi strategi mitigasi berbasis komunitas dan kebijakan negara.

Temuan utama menunjukkan bahwa pembentukan Siklon Senyar di Selat Malaka merupakan manifestasi dari pergeseran termodinamika atmosfer global, di mana kenaikan Suhu Permukaan Laut (SPL) telah mengompensasi lemahnya gaya Coriolis di lintang rendah. Di sisi terestrial, data menunjukkan Provinsi Sumatera Utara telah kehilangan sekitar 28-29% tutupan pohonnya sejak tahun 2000, yang secara langsung berkorelasi dengan peningkatan koefisien aliran permukaan (runoff coefficient) hingga sepuluh kali lipat dibandingkan kondisi hutan primer. Insiden hanyutnya ribuan batang kayu gelondongan pada 25-28 November 2025 diidentifikasi bukan sekadar kecelakaan alam, melainkan konsekuensi hidrologis dari degradasi daerah aliran sungai (DAS).

BAGIAN I: ANOMALI METEOROLOGIS DAN SIKLUS BARU DI KHATULISTIWA

1.1 Paradigma Baru: Runtuhnya “Zona Aman” Ekuatorial

Secara historis dan teoritis, wilayah ekuator (lintang 0° hingga 5° LU/LS) dianggap sebagai “zona aman” dari pembentukan siklon tropis. Mekanisme pembentukan siklon, atau cyclogenesis, sangat bergantung pada keseimbangan geostropik yang membutuhkan gaya Coriolis untuk membelokkan angin yang bergerak menuju pusat tekanan rendah, sehingga menciptakan sirkulasi pusaran (vortisitas). Mengingat parameter Coriolis ($f = 2\Omega \sin \phi$) bernilai nol tepat di garis khatulistiwa dan sangat kecil di sekitarnya, konsensus ilmiah sebelumnya meyakini bahwa pembentukan vorteks yang koheren di wilayah ini adalah kemustahilan dinamis.1

Namun, kemunculan Siklon Tropis Senyar (Bibit 95B) di perairan timur Aceh dan Selat Malaka pada akhir November 2025 telah memaksa komunitas meteorologi global untuk merevisi pemahaman ini.3 Fenomena ini tidak berdiri sendiri; dalam lima tahun terakhir (2020-2025), Indonesia telah menyaksikan peningkatan frekuensi bibit siklon yang “melanggar” batas lintang ini, termasuk Siklon Seroja (2021) dan Anggrek (2024).5 Ini menandakan bahwa atmosfer tropis sedang mengalami transisi menuju ekuilibrium baru yang lebih volatil.

1.1.1 Mekanisme Kompensasi Dinamis

Analisis data reanalisis atmosfer pada periode pembentukan Senyar mengungkapkan adanya mekanisme kompensasi yang memungkinkan siklogenesis terjadi meskipun gaya Coriolis lemah. Terdapat tiga faktor fundamental yang bekerja secara sinergis:

  1. Pemanasan Lautan Ekstrem (Hyper-SST):Data oseanografi menunjukkan bahwa Suhu Permukaan Laut (SPL) di Selat Malaka dan pesisir barat Sumatera pada November 2025 mencapai anomali positif yang signifikan, dengan suhu absolut melebihi 30°C.6 Batas ambang konvensional untuk pembentukan siklon adalah 26.5°C. Energi panas laten yang dilepaskan dari laut yang sangat hangat ini memberikan daya apung (buoyancy) yang luar biasa pada parsel udara. Dalam persamaan termodinamika, energi statik lembab (moist static energy) yang berlebih ini mampu menggerakkan konveksi vertikal yang begitu kuat sehingga vortisitas skala kecil dapat teramplifikasi menjadi sistem skala sinoptik melalui proses vortex stretching, tanpa memerlukan bantuan gaya Coriolis yang besar.1
  2. Interaksi Gelombang Ekuatorial:Pada saat kejadian, analisis gelombang atmosfer mendeteksi fase aktif dari Madden-Julian Oscillation (MJO) yang melintas di atas “Benua Maritim” Indonesia.7 MJO membawa selubung konveksi basah dan angin baratan (westerlies) di lapisan bawah. Ketika angin baratan dari MJO bertemu dengan angin pasat timuran, terjadi geseran angin horizontal (horizontal wind shear) yang menciptakan vortisitas latar belakang. Selain itu, kehadiran Equatorial Rossby Waves (ER) dan Kelvin Waves memberikan gangguan awal yang diperlukan untuk memicu rotasi. Gelombang-gelombang ini bertindak sebagai “pemutar awal” (starter motor) bagi mesin siklon ketika rotasi bumi tidak cukup kuat untuk melakukannya.8
  3. Kelemahan Geseran Angin Vertikal (Low Vertical Wind Shear):Agar badai tropis dapat tumbuh, struktur vertikalnya harus tetap tegak. Geseran angin yang kuat antara lapisan bawah dan atas troposfer biasanya akan “memenggal” puncak badai. Pada akhir November 2025, data radiosonde dan satelit menunjukkan kondisi geseran angin yang sangat lemah (< 10 knot) di wilayah pembentukan Senyar.1 Hal ini memungkinkan kolom udara panas (hot tower) untuk menjulang tinggi hingga menembus tropopause, mengkonsolidasikan tekanan rendah di permukaan dengan sangat efisien.

1.2 Proyeksi Masa Depan: Apakah Ini Menjadi Siklus Permanen?

Pertanyaan kritis yang muncul dari peristiwa ini adalah apakah Siklon Senyar merupakan anomali statistik (black swan event) atau indikator awal dari tren iklim jangka panjang. Berdasarkan sintesis laporan IPCC AR6 dan model iklim CMIP6 terkini, bukti-bukti mengarah pada kesimpulan kedua: kita sedang memasuki era di mana siklon ekuatorial akan menjadi bagian dari siklus hidrometeorologi regional.10

1.2.1 Perluasan Sel Hadley dan Migrasi Lintasan Badai

Perubahan iklim antropogenik menyebabkan ekspansi sirkulasi Sel Hadley ke arah kutub. Secara paradoks, hal ini mengubah dinamika di wilayah tropis dalam. Pelemahan sirkulasi Walker dan perubahan pola angin pasat dapat menciptakan zona konvergensi yang lebih sering terbentuk di dekat ekuator.12 Studi pemodelan menunjukkan bahwa area dengan kondisi yang mendukung siklogenesis (genesis potential index) meluas, tidak hanya ke lintang tinggi tetapi juga merambah ke zona lintang rendah yang sebelumnya stabil.

1.2.2 Intensifikasi Siklus Hidrologi

Atmosfer yang lebih hangat mampu menampung uap air lebih banyak (sesuai persamaan Clausius-Clapeyron, kapasitas uap air meningkat ~7% per kenaikan 1°C). Ini berarti setiap sistem tekanan rendah, sekecil apapun, memiliki potensi untuk memicu curah hujan yang jauh lebih ekstrem dibandingkan masa lalu.10 Data curah hujan selama siklon Senyar di Sumatera Utara mengonfirmasi hal ini, di mana hujan harian melampaui rekor historis.3

1.2.3 Skenario 2025-2030

Jika tren emisi karbon dan pemanasan lautan berlanjut sesuai skenario Business as Usual (RCP 8.5), Indonesia harus bersiap menghadapi:

  • Peningkatan Frekuensi Bibit Siklon: Sistem tekanan rendah (depresi tropis) akan lebih sering terdeteksi di Laut Jawa, Laut Banda, dan Selat Malaka.8

  • Efek Jarak Jauh (Remote Effects): Meskipun siklon tidak mendarat (landfall) secara langsung, “ekor” badai (tail effect) akan memicu cuaca ekstrem berupa angin kencang dan hujan lebat yang memicu banjir bandang, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumut.4

  • Musim Badai yang Memanjang: Durasi musim basah dan periode aktif siklon di Belahan Bumi Selatan (BBS) dan Utara (BBU) yang mengapit Indonesia akan semakin tumpang tindih, membuat jeda antar-bencana semakin singkat.

Kesimpulan Bagian I: Siklon Senyar adalah peringatan keras bahwa parameter iklim masa lalu tidak lagi valid untuk memprediksi risiko masa depan. Ekuator tidak lagi menjadi tameng pelindung, dan anomali ini berpotensi besar menjadi siklus tahunan yang persisten.


BAGIAN II: ANALISIS FORENSIK LINGKUNGAN DAN DEFORESTASI SUMATERA

Bencana tidak pernah terjadi di ruang hampa. Keparahan dampak Siklon Senyar, khususnya banjir bandang yang membawa material kayu gelondongan masif pada 25-28 November 2025, sangat erat kaitannya dengan kondisi tutupan lahan di daratan Sumatera.

2.1 Kuantifikasi Deforestasi Sumatera: Sebuah Neraca Kerusakan

Untuk memahami skala kerentanan, kita harus melihat data deforestasi secara rinci. Berdasarkan data pemantauan satelit Global Forest Watch dan analisis citra Landsat, kondisi hutan Sumatera berada pada titik kritis.

BACA JUGA:

Penyebab Cuaca Ekstrem di Jabodetabek: BMKG Ungkap Faktor Pemicu Hujan Lebat hingga Akhir Januari

Siklon Senyar Menguak Kerentanan Aceh: Jejak Kolonialisme dan Pembangunan Pascakolonial

BMKG Peringatkan Bibit Siklon 91S: Potensi Hujan Lebat & Petir

Banjir Susulan Hantam Sumatera: Pidie Jaya Terendam Lumpur, Agam Kembali Mengungsi

BMKG Pantau Bibit Siklon 93S di Selatan Indonesia, Potensi Menguat Menjadi Badai Kategori 1

2.1.1 Data Kehilangan Tutupan Pohon (2001-2024)

Provinsi Sumatera Utara, yang menjadi episentrum bencana banjir kayu gelondongan, mencatat statistik yang mengkhawatirkan:

  • Total Kehilangan: Antara tahun 2001 hingga 2024, Sumatera Utara kehilangan 1.600.000 hektare (1.6 Mha) tutupan pohon.17

  • Persentase Penurunan: Angka ini setara dengan penurunan sebesar 28% hingga 29% dari total tutupan pohon yang ada pada tahun 2000.

  • Emisi Karbon: Kehilangan ini melepaskan estimasi 810 Juta ton (Mt) emisi CO₂ ekivalen, memperburuk umpan balik iklim lokal.

2.1.2 Kehancuran Hutan Primer

Hutan primer (hutan hujan tropis basah yang belum terganggu) memegang peranan paling vital dalam regulasi air.

  • Penurunan Luas: Sumatera Utara kehilangan 390.000 hektare (390 kha) hutan primer basah pada periode 2002-2024.17

  • Proporsi Kerusakan: Kehilangan hutan primer ini menyumbang 25% dari total kehilangan tutupan pohon, menandakan bahwa deforestasi merambah jauh ke dalam kawasan konservasi dan hulu sungai yang seharusnya dilindungi.

  • Tren Akselerasi 2024: Data terbaru menunjukkan lonjakan tajam deforestasi di Sumatera pada tahun 2024, mencapai 91.248 hektare dalam satu tahun saja, meningkat hampir tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.19 Lonjakan ini didorong oleh pembukaan lahan baru (land clearing) untuk komoditas, terutama di wilayah yang berbatasan dengan kawasan lindung seperti Ekosistem Leuser dan Rawa Singkil.

Indikator Sumatera Utara (Sumut) Sumatera Selatan (Sumsel) Implikasi Hidrologis
Kehilangan Tutupan Pohon (2001-2024) 1.6 Mha (~28% hilang) 3.3 Mha (~47% hilang) Hilangnya kapasitas intersepsi hujan.
Kehilangan Hutan Primer (2002-2024) 390 kha (19-25% penurunan) 230 kha (25% penurunan) Degradasi fungsi spons alami di hulu DAS.
Emisi CO₂e 810 Mt 2.5 Gt Perubahan iklim mikro dan pola hujan lokal.
Dominasi Pemicu Perkebunan Sawit & Pembalakan Perkebunan, HTI, Kebakaran Konversi ke monokultur dengan runoff tinggi.

Tabel 2.1: Perbandingan Statistik Deforestasi di Provinsi Kunci Sumatera 17

2.2 Analisis Komparatif: Hidrologi Hutan Hujan vs. Perkebunan Sawit

Inti dari permasalahan banjir bandang bukan hanya pada “berapa luas” hutan yang hilang, tetapi “apa penggantinya”. Sebagian besar lahan hutan di Sumatera dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit monokultur. Perubahan ini mengubah karakteristik fisika tanah dan hidrologi permukaan secara fundamental.

2.2.1 Koefisien Aliran Permukaan (Runoff Coefficient – C)

Koefisien C mengukur persentase air hujan yang menjadi aliran permukaan (overland flow) alih-alih meresap ke dalam tanah.

  • Hutan Hujan Tropis: Memiliki nilai C sangat rendah, berkisar antara 0.03 hingga 0.05.22 Struktur vegetasi yang kompleks (strata kanopi berlapis, liana, epifit) memecah energi kinetik butiran hujan. Lantai hutan yang tertutup serasah tebal (humus) bertindak sebagai spons raksasa yang menyerap air seketika.

  • Perkebunan Sawit: Memiliki nilai C yang jauh lebih tinggi, dapat mencapai 0.30 hingga 0.60 tergantung pada manajemen lahan dan usia tanaman.22 Kanopi sawit yang seragam kurang efektif menahan intersepsi.

  • Dampak: Pada curah hujan yang sama, perkebunan sawit dapat menghasilkan volume aliran permukaan 10 kali lipat lebih besar dibandingkan hutan alam. Ini menjelaskan mengapa sungai-sungai di Sumatera kini meluap dengan sangat cepat (flashy) segera setelah hujan turun.

2.2.2 Laju Infiltrasi dan Pemadatan Tanah

Infiltrasi adalah kemampuan tanah menyerap air per satuan waktu.

  • Hutan Alam: Sistem perakaran pohon hutan yang beragam (akar tunggang dalam, akar lateral luas) menciptakan macropori dan saluran biopori di dalam tanah. Hal ini menjaga konduktivitas hidrolik jenuh yang tinggi.

  • Perkebunan Sawit: Studi lapangan di Jambi dan Sumatera menunjukkan bahwa konversi hutan ke sawit menyebabkan penurunan drastis laju infiltrasi.24 Penyebab utamanya adalah pemadatan tanah (soil compaction) akibat penggunaan alat berat saat pembukaan lahan dan lalu lintas panen yang intensif. Selain itu, sistem akar serabut sawit yang dangkal tidak mampu menciptakan pori tanah yang dalam, sehingga air cepat jenuh di permukaan (saturation excess overland flow).

2.2.3 Evapotranspirasi dan Iklim Mikro

Hutan alam memiliki laju evapotranspirasi (penguapan air dari tanah dan tanaman) yang tinggi dan stabil sepanjang tahun, yang berfungsi “mengosongkan” kapasitas simpan air tanah untuk hujan berikutnya. Sawit memiliki pola penggunaan air yang berbeda dan seringkali menyebabkan tanah menjadi lebih kering di musim kemarau (meningkatkan risiko kebakaran) namun cepat jenuh di musim hujan (meningkatkan risiko banjir).26 Studi menunjukkan bahwa fluktuasi penggunaan air pada sawit dan karet jauh lebih tinggi, membuat ekosistem ini kurang resilien terhadap anomali cuaca.26

2.3 Insiden Kayu Gelondongan: Bukti Forensik Kegagalan Tata Kelola

Banjir bandang periode 25-28 November 2025 memiliki karakteristik yang merusak karena material bawaannya: ribuan batang kayu gelondongan (logs).27 Analisis terhadap fenomena ini menyingkap realitas tata kelola hutan:

  1. Asal-Usul Kayu: Investigasi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengindikasikan kayu tersebut berasal dari wilayah Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) di Areal Penggunaan Lain (APL).27 Namun, volume yang masif dan jenis kayu yang hanyut menimbulkan dugaan kuat adanya praktik pencucian kayu (timber laundering), di mana kayu dari penebangan liar di hutan lindung “diselundupkan” melalui izin legal APL.

  2. Mekanisme “Dam-Break”: Kayu-kayu ini kemungkinan besar adalah sisa tebangan (logging debris) yang ditinggalkan begitu saja di alur-alur sungai kering atau lereng curam di hulu. Saat curah hujan ekstrem dari Siklon Senyar turun, kayu-kayu ini terbawa arus, menumpuk di penyempitan sungai (seperti jembatan atau tikungan sungai), membentuk bendungan alam sementara. Ketika tekanan air menjebol bendungan kayu ini, terjadilah efek dam-break yang melepaskan gelombang air bercampur lumpur dan kayu dengan kekuatan penghancur yang berlipat ganda.30

  3. Kelemahan Penegakan Hukum: Fakta bahwa kayu gelondongan ini baru “ketahuan” saat banjir besar menunjukkan lemahnya pengawasan rutin di lapangan. Sistem pelacakan kayu (SIPUHH) tampaknya belum efektif memantau residu penebangan di lokasi-lokasi terpencil.27

Konklusi Skenario: Jika hutan Sumatera tidak digunduli, vegetasi alami akan mampu meredam energi kinetik hujan badai Senyar. Aliran permukaan akan terminimalisir, dan tanah hutan akan menahan air untuk dilepaskan perlahan (baseflow). Yang paling krusial, tidak akan ada suplai ribuan batang kayu gelondongan yang menjadi proyektil penghancur permukiman di hilir.


BAGIAN III: STRATEGI MITIGASI TERINTEGRASI DAN AKSI NYATA

Mencegah terulangnya bencana katastropik ini memerlukan sinergi radikal antara kearifan lokal, kebijakan tegas pemerintah, dan partisipasi aktif masyarakat.

3.1 Masyarakat: Revitalisasi Kearifan Lokal dan Kesiapsiagaan

Masyarakat Sumatera memiliki sejarah panjang adaptasi terhadap alam, yang kini perlu dibangkitkan kembali.

  1. Revitalisasi “Lubuk Larangan” dan Hutan Adat:Konsep Lubuk Larangan (zona sungai yang dilarang diambil ikannya dalam periode tertentu) di Sumatera Barat dan Utara bukan sekadar tradisi panen ikan, tetapi mekanisme konservasi ekosistem sungai yang efektif. Aturan adat ini seringkali mencakup larangan menebang pohon di sempadan sungai (riparian) yang berfungsi sebagai sabuk pengaman alami. Masyarakat didorong untuk menegakkan kembali hukum adat ini dengan sanksi sosial yang tegas bagi pelanggar, melengkapi hukum positif negara.32
  2. Pembentukan Komunitas Peduli Sungai (KPS):Di tingkat desa, pembentukan KPS sangat krusial. Tugas utamanya adalah pemantauan rutin kondisi hulu sungai, pembersihan sampah dan debris kayu yang berpotensi menyumbat aliran sebelum musim hujan tiba, serta pengelolaan sistem peringatan dini berbasis komunitas (misalnya menggunakan kentongan atau sirine manual saat level air hulu naik).34
  3. Adaptasi Pola Tanam (Agroforestry):Petani sawit rakyat didorong untuk beralih dari monokultur murni ke sistem agroforestry. Menanam tanaman sela (seperti jengkol, petai, atau buah-buahan lokal) di antara sawit dapat meningkatkan infiltrasi tanah, memperbaiki struktur akar tanah, dan mengurangi laju erosi permukaan dibandingkan lahan sawit gundul.24

3.2 Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten): Tata Ruang dan Pengawasan

Pemda memegang kunci dalam pengendalian pemanfaatan lahan.

  1. Audit dan Moratorium Izin Berbasis Risiko:Gubernur dan Bupati harus melakukan audit total terhadap izin HGU (Hak Guna Usaha) perkebunan dan pertambangan yang berada di zona kerentanan gerakan tanah tinggi dan hulu DAS kritis. Moratorium (penghentian sementara) pembukaan lahan baru harus diberlakukan di wilayah-wilayah ini, terlepas dari status kawasannya (APL atau Hutan Produksi).37
  2. Sistem Peringatan Dini (EWS) yang Tahan Banting:Belajar dari kegagalan komunikasi saat bencana, Pemda harus menginvestasikan anggaran untuk EWS yang tidak bergantung pada jaringan seluler atau listrik PLN semata. Penggunaan radio komunikasi (HT) antar desa di hulu dan hilir serta sirine bertenaga surya/baterai harus diperbanyak di sepanjang DAS rawan banjir bandang.39
  3. Penegakan RTRW yang Ketat:Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) harus memasukkan peta risiko bencana terbaru pasca-Siklon Senyar. Zona sempadan sungai harus dibebaskan dari bangunan permanen. Relokasi permukiman yang berada di jalur banjir (floodway) harus menjadi prioritas jangka panjang, meskipun tidak populer secara politis.31

3.3 Pemerintah Pusat (Kemenhut, PUPR, BNPB): Kebijakan Makro

Pemerintah pusat harus mengubah paradigma dari responsif menjadi preventif.

  1. Penegakan Hukum Lingkungan (Gakkum) Tanpa Pandang Bulu:Kementerian Kehutanan harus mengusut tuntas kasus kayu gelondongan November 2025. Gunakan teknologi forensik kayu dan citra satelit time-series untuk membuktikan asal usul kayu. Penerapan pidana korporasi dan pencabutan izin bagi perusahaan yang terbukti lalai membiarkan logging debris hanyut harus dilakukan sebagai efek jera.
  2. Infrastruktur Pengendali Banjir Generasi Baru:Kementerian PUPR perlu merevisi standar desain infrastruktur air di Sumatera. Pembangunan sabanda (sabo dam) di hulu sungai harus diperbanyak untuk menahan debris sedimen dan kayu, bukan hanya menahan air. Normalisasi sungai harus dibarengi dengan konsep naturalisasi yang mempertahankan vegetasi bantaran sungai.
  3. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) Pre-emptif:BNPB dan BMKG harus mengadopsi protokol TMC (hujan buatan) yang lebih agresif. Saat bibit siklon terdeteksi mendekati wilayah Indonesia, operasi penyemaian garam (NaCl) harus segera dilakukan untuk menjatuhkan hujan di laut sebelum sistem badai masuk ke daratan, guna mengurangi intensitas hujan di hulu DAS.

KESIMPULAN PENUTUP

Bencana November 2025 di Sumatera adalah kulminasi dari dua krisis yang bertabrakan: krisis iklim global yang membawa siklon ke ekuator, dan krisis ekologis lokal akibat deforestasi yang tak terkendali. Laporan ini menyimpulkan bahwa Siklon Senyar bukanlah anomali tunggal, melainkan peringatan dini dari perubahan rezim iklim tropis. Di sisi lain, banjir kayu gelondongan adalah bukti forensik dari salah urus bentang alam Sumatera.

Tanpa intervensi segera—melalui moratorium konversi hutan, penegakan hukum lingkungan yang keras, dan revitalisasi kearifan lokal—Sumatera menghadapi risiko menjadi wilayah yang semakin tidak layak huni akibat bencana hidrometeorologi yang berulang dan semakin intens. Rekomendasi dalam laporan ini diharapkan menjadi peta jalan bagi pemulihan keseimbangan ekologis dan keselamatan masyarakat di masa depan.


Karya-karya yang dikutip

  1. Proses Terbentuknya Siklon Tropis – BMKG, diakses Desember 1, 2025, https://web-meteo.bmkg.go.id/id/component/content/article/37-siklon-tropis/269-proses-terbentuknya-siklon-tropis
  2. Tropical cyclone – Wikipedia, diakses Desember 1, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Tropical_cyclone
  3. BMKG: Cuaca ekstrem di Sumut dampak Siklon Tropis Senyar, diakses Desember 1, 2025, https://www.antaranews.com/berita/5268453/bmkg-cuaca-ekstrem-di-sumut-dampak-siklon-tropis-senyar
  4. BMKG: Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di Selat Malaka, diakses Desember 1, 2025, https://www.antaranews.com/berita/5269593/bmkg-siklon-tropis-senyar-tergolong-tidak-umum-di-selat-malaka
  5. Daftar siklon tropis di Indonesia – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Desember 1, 2025, https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_siklon_tropis_di_Indonesia
  6. The Threshold Sea Surface Temperature Condition for Tropical Cyclogenesis – American Meteorological Society, diakses Desember 1, 2025, https://journals.ametsoc.org/view/journals/clim/24/17/jcli-d-10-05006.1.pdf
  7. Global Tropical Hazards Outlook – Climate Prediction Center – NOAA, diakses Desember 1, 2025, https://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/precip/CWlink/ghaz/index.php
  8. Prospek Cuaca Mingguan Periode 28 November–4 Desember 2025: Siklon Tropis “SENYAR” Punah, Gelombang Atmosfer Pengaruhi Cuaca Signifikan di Indonesia – BMKG, diakses Desember 1, 2025, https://www.bmkg.go.id/cuaca/prospek-cuaca-mingguan/prospek-cuaca-mingguan-periode-28-november-04-desember-2025-siklon-tropis-senyar-punah-gelombang-atmosfer-pengaruhi-cuaca-signifikan-di-indonesia
  9. Penyebab Terjadinya Siklon Tropis – BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta, diakses Desember 1, 2025, https://bpbd.jogjaprov.go.id/berita/penyebab-terjadinya-siklon-tropis
  10. Global Warming and Hurricanes – Geophysical Fluid Dynamics Laboratory – NOAA, diakses Desember 1, 2025, https://www.gfdl.noaa.gov/global-warming-and-hurricanes/
  11. Special Report on the Ocean and Cryosphere in a Changing Climate —, diakses Desember 1, 2025, https://www.ipcc.ch/srocc/
  12. Poleward expansion of tropical cyclone latitudes in warming climates, diakses Desember 1, 2025, https://texmex.mit.edu/pub/emanuel/PAPERS/Studholme_et_al_2021.pdf
  13. New insights into the poleward migration of tropical cyclones and its association with Hadley circulation – PubMed Central, diakses Desember 1, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10495354/
  14. Chapter 11: Weather and Climate Extreme Events in a Changing Climate | Climate Change 2021: The Physical Science Basis – Intergovernmental Panel on Climate Change, diakses Desember 1, 2025, https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg1/chapter/chapter-11/
  15. Prospek Cuaca Mingguan Periode 25 November–1 Desember 2025: Waspada Bibit Siklon Tropis Pengaruhi Cuaca di Indonesia Bagian Utara – BMKG, diakses Desember 1, 2025, https://www.bmkg.go.id/cuaca/prospek-cuaca-mingguan/prospek-cuaca-mingguan-periode-25-november-01-desember-2025-waspada-bibit-siklon-tropis-pengaruhi-cuaca-di-indonesia-bagian-utara
  16. Imbauan Perjalanan: Dampak Siklon Tropis Senyar – AirAsia Newsroom, diakses Desember 1, 2025, https://newsroom.airasia.com/news/2025/11/28/imbauan-perjalanan-dampak-siklon-tropis-senyar
  17. Sumatera Utara, Indonesia Deforestation Rates & Statistics | GFW – Global Forest Watch, diakses Desember 1, 2025, https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/32/
  18. Sumatera Utara, Indonesia Deforestation Rates & Statistics | GFW, diakses Desember 1, 2025, https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/32/?dashboardPrompts=eyJzaG93UHJvbXB0cyI6dHJ1ZSwicHJvbXB0c1ZpZXdlZCI6WyJkb3dubG9hZERhc2hib2FyZFN0YXRzIl0sInNldHRpbmdzIjp7Im9wZW4iOmZhbHNlLCJzdGVwSW5kZXgiOjAsInN0ZXBzS2V5IjoiIn0sIm9wZW4iOnRydWUsInN0ZXBzS2V5Ijoic2hhcmVXaWRnZXQifQ%3D%3D&lang=id&map=eyJjZW50ZXIiOnsibGF0IjotMi41Nzg0NTMwNjA1OTE1NDYsImxuZyI6MTE4LjAxNTE1NTc5MDA2Mjc1fSwiem9vbSI6Mi41OTczODE5NDQ0NDQ5MjE4LCJjYW5Cb3VuZCI6dHJ1ZSwiZGF0YXNldHMiOlt7ImRhdGFzZXQiOiJwb2xpdGljYWwtYm91bmRhcmllcyIsImxheWVycyI6WyJkaXNwdXRlZC1wb2xpdGljYWwtYm91bmRhcmllcyIsInBvbGl0aWNhbC1ib3VuZGFyaWVzIl0sImJvdW5kYXJ5Ijp0cnVlLCJvcGFjaXR5IjoxLCJ2aXNpYmlsaXR5Ijp0cnVlfSx7ImRhdGFzZXQiOiJOZXQtQ2hhbmdlLVNUQUdJTkciLCJsYXllcnMiOlsiZm9yZXN0LW5ldC1jaGFuZ2UiXSwib3BhY2l0eSI6MSwidmlzaWJpbGl0eSI6dHJ1ZSwicGFyYW1zIjp7InZpc2liaWxpdHkiOnRydWUsImFkbV9sZXZlbCI6ImFkbTAifX1dfQ%3D%3D&showMap=true&treeLossPct=eyJoaWdobGlnaHRlZCI6ZmFsc2V9
  19. Surge in legal land clearing pushes up Indonesia deforestation rate in 2024 – Mongabay, diakses Desember 1, 2025, https://news.mongabay.com/2025/02/surge-in-legal-land-clearing-pushes-up-indonesia-deforestation-rate-in-2024/
  20. Sumatera Selatan, Indonesia Deforestation Rates & Statistics | GFW – Global Forest Watch, diakses Desember 1, 2025, https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/31/
  21. Sumatera Utara, Indonesia Deforestation Rates & Statistics | GFW, diakses Desember 1, 2025, https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/32/?category=forest-change&lang=id&map=eyJjYW5Cb3VuZCI6dHJ1ZX0%3D
  22. Development Zero Runoff Model in Palm Oil Plantation for Water Resources Conservation by Using Recharge Wells – CIGR Journal, diakses Desember 1, 2025, https://cigrjournal.org/index.php/Ejounral/article/download/5913/3425/0
  23. Modeling the impacts of oil palm plantations on water quantity and quality in the Kais River Watershed of Indonesia | Request PDF – ResearchGate, diakses Desember 1, 2025, https://www.researchgate.net/publication/379877089_Modeling_the_impacts_of_oil_palm_plantations_on_water_quantity_and_quality_in_the_Kais_River_Watershed_of_Indonesia
  24. Enhancing soil water infiltration through tree-enrichment planting within an oil-palm dominated landscape in Jambi, Indonesia – Universität Göttingen, diakses Desember 1, 2025, https://www.uni-goettingen.de/de/document/download/193644e68107feb89a3eec0f1b185e15.pdf/MasterThesis_B11_Johanna%20K%C3%BCckes_2019.pdf
  25. The infiltration variability under oil palm plantation related to moss and understory vegetation covers in terrestrial and riparian sites in Jambi, Indonesia – ResearchGate, diakses Desember 1, 2025, https://www.researchgate.net/publication/381493073_The_infiltration_variability_under_oil_palm_plantation_related_to_moss_and_understory_vegetation_covers_in_terrestrial_and_riparian_sites_in_Jambi_Indonesia/download
  26. Oil Palm and Rubber Tree Water Use Patterns: Effects of Topography and Flooding, diakses Desember 1, 2025, https://www.frontiersin.org/journals/plant-science/articles/10.3389/fpls.2017.00452/full
  27. Kemenhut Selidiki Asal Kayu Gelondongan Hanyut Terbawa Banjir Sumatera, diakses Desember 1, 2025, https://www.viva.co.id/berita/nasional/1864633-kemenhut-selidiki-asal-kayu-gelondongan-hanyut-terbawa-banjir-sumatera
  28. Banjir dan Longsor Sumatera Tewaskan 174 Orang, Ribuan Kayu Gelondongan Hasil Pembalakan Liar yang Terseret Arus Jadi Perhatian – Radar Surabaya, diakses Desember 1, 2025, https://radarsurabaya.jawapos.com/nasional/776895010/banjir-dan-longsor-sumatera-tewaskan-174-orang-ribuan-kayu-gelondongan-hasil-pembalakan-liar-yang-terseret-arus-jadi-perhatian
  29. Ribuan Kayu Gelondongan Terseret Banjir Sumatera, Kemenhut Buka Suara, diakses Desember 1, 2025, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251130124240-20-1301054/ribuan-kayu-gelondongan-terseret-banjir-sumatera-kemenhut-buka-suara
  30. Sumatera Dilanda Banjir, Pakar: Kerusakan Hutan Memperparah Dampak, diakses Desember 1, 2025, https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8235836/sumatera-dilanda-banjir-pakar-kerusakan-hutan-memperparah-dampak
  31. Berhentilah Menyalahkan Hujan Penyebab Bencana di Pulau Sumatera, diakses Desember 1, 2025, https://www.kompas.com/properti/read/2025/11/30/210000621/berhentilah-menyalahkan-hujan-penyebab-bencana-di-pulau-sumatera?page=all
  32. Kesalehan Ekologi, diakses Desember 1, 2025, https://www.waspada.id/opini/kesalehan-ekologi/
  33. ‘Local community-based disaster management’ The transformation of religious and local wisdom values in preparation to deal with natural hazards in West Sumatra, Indonesia – PubMed Central, diakses Desember 1, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8424724/
  34. Home – Yayasan Gerakan Peduli Sungai (GPS) | Medan Sumatera Utara, diakses Desember 1, 2025, https://gerakanpedulisungai.org/
  35. Pembentukan Komunitas Peduli Sungai Ayik Padang Guci – BWS Sumatera VII, diakses Desember 1, 2025, https://sda.pu.go.id/balai/bwssumatera7/pembentukan-komunitas-peduli-sungai-ayik-padang-guci
  36. (PDF) Differences in soil-water characteristics of monoculture oil-palm plantations, agroforestry oil-palm plantations and natural forest – ResearchGate, diakses Desember 1, 2025, https://www.researchgate.net/publication/375012711_Differences_in_soil-water_characteristics_of_monoculture_oil-palm_plantations_agroforestry_oil-palm_plantations_and_natural_forest
  37. Pelajaran dari “Galodo”: Pentingnya Penguatan Mitigasi Bencana – masterplandesa, diakses Desember 1, 2025, https://www.masterplandesa.com/desa-aman-bencana/pelajaran-dari-galodo-pentingnya-penguatan-mitigasi-bencana/
  38. Menhut: Bencana di Sumatera titik balik perbaikan tata kelola hutan, diakses Desember 1, 2025, https://m.antaranews.com/amp/berita/5275545/menhut-bencana-di-sumatera-titik-balik-perbaikan-tata-kelola-hutan
  39. Indonesia has implemented a range of tools and strategies for disaster risk reduction (DRR) – UNECE, diakses Desember 1, 2025, https://unece.org/sites/default/files/2024-11/Ms.%20Dwikorita%20Karnawati%C2%A0Head%20of%20the%20Agency%20for%20Meteorology%2C%20Climatology%20and%20Geophysics%2C%20Indonesia.pdf
  40. 2010 Early Warning Practices can Save Lives: Selected Examples, diakses Desember 1, 2025, https://www.unisdr.org/files/15254_EWSBBLLfinalweb.pdf
  41. [UPDATE] Banjir Lahar Dingin dan Tanah Longsor Sumatra Barat: Pemerintah Siapkan TMC Hingga Opsi Relokasi Rumah Untuk Warga Terdampak – BNPB, diakses Desember 1, 2025, https://bnpb.go.id/berita/update-banjir-lahar-dingin-dan-tanah-longsor-sumatra-barat-pemerintah-siapkan-tmc-hingga-opsi-relokasi-rumah-untuk-warga-terdampak
  42. Waka MPR Sorot Kayu Gelondongan di Bencana Sumatera, Minta Cek Legalitas, diakses Desember 1, 2025, https://rmol.id/politik/read/2025/11/29/688462/waka-mpr-sorot-kayu-gelondongan-di-bencana-sumatera-minta-cek-legalitas
  43. BWS Sumatera I Ikut Serta dalam Rapat Mitigasi Hidrometeorologi Pemprov Aceh – SDA PU, diakses Desember 1, 2025, https://sda.pu.go.id/balai/bwssumatera1/article/bws-sumatera-i-ikut-serta-dalam-rapat-mitigasi-hidrometeorologi-pemprov-aceh
  44. BNPB Mulai Operasi Modifikasi Cuaca di Sumatra: Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, diakses Desember 1, 2025, https://www.merdeka.com/peristiwa/bnpb-mulai-operasi-modifikasi-cuaca-di-sumatra-antisipasi-bencana-hidrometeorologi-500740-mvk.html
Tags: penelitian komprehensifpenelitian siklon senyarSenyarSiklon SenyarSiklon TropisSiklon tropis ekuator Indonesia 2025Siklon Tropis Senyar
Share14Tweet9Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured

Banjir Subang: Ribuan Rumah Terendam, Pemkab Dirikan Dapur Umum dan Pantau Tanggul

31/01/2026
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured

BMKG Peringatkan Potensi Hujan Petir di Sejumlah Wilayah Indonesia, Waspadai Cuaca Ekstrem

30/01/2026
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured

Update Longsor Bandung Barat: 34 Korban Teridentifikasi, Identitas 4 Jenazah Baru Dirilis

29/01/2026
paccerakkang banjir cr

Banjir Langganan Depan RSUD Bekasi: Akses Vital Terancam, Warga Resah Menanti Solusi Tuntas

29/01/2026
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured

BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Jakarta: Hujan Sedang Mengintai 29-30 Januari 2026

29/01/2026
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured

Longsor Bandung Barat Renggut Nyawa: Kombinasi Alam dan Manusia Picu Bencana Maut, Puluhan Hilang

28/01/2026
Wartakita Seismograf Gempa 4

Gempa 5,5 Magnitudo Guncang Pacitan Hingga Bali, 4,5 di Bantul

27/01/2026
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured

Badai Musim Dingin Landa AS: Jutaan Tanpa Listrik, Ribuan Penerbangan Dibatalkan, Enam Tewas

27/01/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured

    APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Demo Pemekaran Luwu Berujung Kelangkaan BBM dan Lonjakan Harga di Luwu Raya

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • 16 Model Rambut Pria yang Terbukti Disukai Wanita, Keren dan Stylish! (Update 2026)

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Banjir Langganan Depan RSUD Bekasi: Akses Vital Terancam, Warga Resah Menanti Solusi Tuntas

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    448 shares
    Share 179 Tweet 112
  • Manifesto Reformasi Parpol: Membubarkan ‘PO Bus’ dan Mengembalikan Daulat Rakyat

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • MSCI Bekukan Rebalancing Indeks: Sinyal Darurat Transparansi Kepemilikan Saham Indonesia

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Asap Kuning di Cilegon: Kebocoran Asam Nitrat di PT Vopak Merak Picu Kepanikan Warga, Walikota Turun Tangan

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Pengunduran Diri Dirut BEI: Contoh Tanggung Jawab Moral (yang Langka) di Tengah Gejolak Pasar Saham Indonesia

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Strategi Jitu Tiket Mudik Lebaran 2026: Raih Diskon Hingga 90% dan Hindari Lonjakan Harga

    31 shares
    Share 12 Tweet 8
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
menari bersama misteri nara saluna
Gaya Hidup

Merasa Tertinggal dari Teman Seusiamu? Mari Berdamai dengan “Garis Waktu” Hidup yang Tak Terduga

29/11/2025
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Gadget

Hacker Gunakan AI Claude Code untuk Serangan Otonomus

14/11/2025
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Gaya Hidup

Parfum Lokal Wangi Sultan: Mirip Niche Eropa, Harga Murah!

04/12/2025
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Otomotif

Vespa Primavera vs. Sprint 2025: Dua Jiwa, Satu Mesin, Pilihan Anda?

30/11/2025
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
Laporan Investigasi Komprehensif: Anomali Siklon Tropis Ekuatorial “Senyar” - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.