Pada tanggal 18 Januari 2026, penerbangan Korean Air KE81 dari Seoul ke New York mengalami momen menegangkan saat kru mendeklarasikan sinyal urgensi “PAN-PAN” akibat masalah pada sistem hidrolik pesawat Airbus A380-800 saat mendekati Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK). Meskipun menghadapi tantangan teknis yang membatasi kemampuan manuver, kru pesawat menunjukkan profesionalisme luar biasa, berkoordinasi erat dengan Air Traffic Control (ATC) untuk memastikan pendaratan yang aman. Kejadian ini menyoroti efektivitas prosedur keselamatan penerbangan modern dan keandalan kru dalam menghadapi situasi darurat.
- Penerbangan Korean Air KE81 dari Seoul ke New York mengalami masalah hidrolik saat mendekati JFK.
- Kru mendeklarasikan “PAN-PAN”, sinyal urgensi, bukan darurat penuh.
- Pilot meminta “long final” untuk melakukan prosedur ekstensi roda pendaratan manual.
- Pesawat mendarat dengan aman di Runway 4 Right dengan tim darurat siaga.
- Setelah mendarat, pesawat ditarik ke gerbang (gate) untuk pemeriksaan lebih lanjut.
- Tidak ada korban jiwa atau cedera, penumpang dilaporkan selamat.
Wartakita.id – Insiden yang melibatkan penerbangan Korean Air KE81 dari Incheon (ICN) ke New York (JFK) pada 18 Januari 2026, menjadi bukti nyata ketangguhan prosedur keselamatan penerbangan global. Pesawat Airbus A380-800 dengan registrasi HL7627, yang membawa 417 penumpang dan kru, berhasil mendarat dengan selamat di JFK meskipun menghadapi gangguan signifikan pada sistem hidrolik selama fase pendekatan akhir. Deklarasi “PAN-PAN” oleh kru menandakan situasi yang memerlukan perhatian segera, namun belum mencapai tingkat darurat penuh seperti “MAYDAY”. Keberhasilan pendaratan ini adalah hasil dari koordinasi yang cermat antara pilot, menara pengawas lalu lintas udara (ATC), dan tim respons darurat bandara, serta kemampuan kru dalam menjalankan prosedur darurat yang telah dilatihkan.
Kronologi Rinci Insiden Korean Air KE81
Perjalanan Korean Air KE81 dari Seoul menuju jantung kota New York dimulai tanpa adanya indikasi masalah. Pesawat megah jenis Airbus A380-800 lepas landas dari Bandara Incheon pada pagi hari 18 Januari 2026, sekitar pukul 10:00 waktu setempat. Dengan membawa ratusan penumpang dan kru, penerbangan yang diperkirakan memakan waktu sekitar 14 jam melintasi Samudra Pasifik ini dijadwalkan untuk mendarat di Bandara JFK.
1. Keberangkatan dari Seoul Incheon (ICN/RKSI) – Pagi Hari, 18 Januari 2026
Pesawat Airbus A380-800 dengan nomor registrasi HL7627, salah satu armada kebanggaan Korean Air, memulai perjalanannya dari Bandara Internasional Incheon (ICN) pada hari Sabtu, 18 Januari 2026. Lepas landas dilakukan sekitar pukul 10:00 waktu Korea Selatan (sekitar 01:10 UTC). Dengan kapasitas total 417 orang di dalamnya, termasuk penumpang dan kru, penerbangan KE81 dirancang untuk menjadi penerbangan trans-pasifik yang panjang, melintasi berbagai wilayah udara sebelum tiba di tujuan akhirnya di New York.
2. Perjalanan Trans-Pasifik – Siang hingga Sore Hari, 18 Januari 2026
Fase jelajah penerbangan KE81 berjalan mulus di atas Samudra Pasifik. Pesawat terbang pada ketinggian jelajah yang optimal, umumnya di kisaran 39.000 kaki, dengan kecepatan rata-rata sekitar 500 knot. Tidak ada laporan mengenai cuaca buruk yang signifikan atau anomali teknis yang terdeteksi selama berjam-jam perjalanan udara ini. Bahan bakar yang tersedia juga terpantau memadai, dengan cadangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pendaratan normal, bahkan menyisakan sekitar 1 jam 45 menit cadangan saat pesawat mulai mendekati wilayah udara New York.
3. Pendekatan ke JFK – Sore Hari, 18 Januari 2026 (Sekitar 14:00-15:00 UTC)
Momen krusial terjadi ketika kru pesawat mulai melakukan persiapan untuk pendaratan di Bandara JFK. Saat pesawat berada dalam fase penurunan (descent) menuju bandara, sistem diagnosis internal mendeteksi adanya masalah pada sistem hidrolik. Gangguan ini dilaporkan memengaruhi kemampuan pengujian sistem dan operasi normal dari roda pendaratan (landing gear). Menyadari potensi risiko yang ditimbulkan oleh masalah teknis ini, pilot segera mengambil tindakan dengan mendeklarasikan “PAN-PAN” kepada ATC New York. Deklarasi ini merupakan sinyal urgensi yang menandakan adanya situasi yang memerlukan prioritas penanganan, namun belum mencapai tingkat darurat kritis yang memerlukan deklarasi “MAYDAY”. Komunikasi antara kokpit dan ATC terdengar jelas, di mana kru menyatakan, “Uh, 081, we have a hydraulic problem that limits our uh, taxing capabilities. So after landing, we’re going to vacate the runway at the end, and after that we need a towing truck to the gate.” Lebih lanjut, pilot meminta untuk diberikan “long final” atau jalur pendekatan yang lebih panjang. Permintaan ini bertujuan untuk memberikan waktu ekstra bagi kru untuk melakukan prosedur ekstensi roda pendaratan secara manual, sebuah metode cadangan yang digunakan ketika sistem otomatis tidak dapat dioperasikan sepenuhnya.
REPORT: A Korean Air Airbus A380 arriving from Seoul triggered a serious moment in the skies over New York after the flight crew declared PAN PAN while descending toward JFK. The massive double decker jet was operating Flight KE81 when pilots reported a hydraulic issue and… pic.twitter.com/B8lsoEdvBs
— aircraftmaintenancengineer (@airmainengineer) January 23, 2026
4. Pendaratan di Runway 4 Right – Sore Hari, 18 Januari 2026 (Sekitar 15:00 UTC)
Menanggapi deklarasi “PAN-PAN” dan permintaan kru, ATC New York segera merespons dengan sigap. Seluruh lalu lintas udara di sekitar area pendaratan diarahkan untuk memberi prioritas penuh kepada Korean Air KE81. Tim respons darurat bandara, termasuk unit pemadam kebakaran dan ambulans, disiagakan di sepanjang Runway 4 Right, lokasi pendaratan yang telah ditentukan. Dengan ketenangan dan profesionalisme yang patut diacungi jempol, kru berhasil mendaratkan pesawat Airbus A380-800 dengan selamat di landasan pacu tersebut. Tidak ada insiden tambahan yang terjadi selama proses pendaratan. Setelah roda menyentuh landasan, pesawat dengan hati-hati bermanuver keluar dari runway melalui taxiway FB dan berhenti sejenak untuk penilaian awal oleh kru di darat.
5. Pasca-Pendaratan dan Penanganan Darat – Sore hingga Malam Hari, 18 Januari 2026
Usai mendarat, pesawat KE81 tetap berada di taxiway selama lebih dari satu jam. Periode ini dimanfaatkan oleh tim teknisi Korean Air untuk melakukan penilaian mendalam terhadap kerusakan pada sistem hidrolik. Demi menjaga keselamatan seluruh penumpang, mereka diinstruksikan untuk tetap berada di dalam kabin pesawat. Sebagai tindakan pencegahan tambahan dan untuk menghindari risiko taksi mandiri dengan kondisi hidrolik yang tidak optimal, pesawat akhirnya ditarik (towed) menuju gerbang keberangkatan menggunakan truk penarik pesawat khusus. Seluruh rangkaian penanganan pasca-pendaratan ini menunjukkan komitmen maskapai terhadap keselamatan penumpang dan efisiensi operasional dalam menghadapi situasi tak terduga.
Perbedaan PAN-PAN dan MAYDAY: Sinyal Urgensi dan Darurat
Dalam dunia penerbangan, komunikasi yang jelas dan tepat adalah kunci keselamatan. Dua sinyal yang paling sering dibicarakan dalam situasi darurat adalah “PAN-PAN” dan “MAYDAY”. Memahami perbedaan antara keduanya sangat penting untuk mengapresiasi respons kru dalam insiden Korean Air KE81.
PAN-PAN: Sinyal Urgensi
“PAN-PAN” adalah sinyal yang digunakan oleh pilot untuk mengindikasikan adanya situasi urgensi yang memerlukan perhatian segera dari pihak darat atau unit terkait, namun belum mengancam keselamatan penerbangan secara langsung. Sinyal ini biasanya dikirimkan tiga kali berturut-turut, diikuti dengan identifikasi pesawat dan sifat urgensi. Dalam kasus KE81, masalah hidrolik yang membatasi kemampuan manuver pesawat dianggap sebagai urgensi. Pilot masih memiliki kendali atas pesawat dan kondisi memungkinkan untuk melakukan pendaratan, meskipun dengan prosedur tambahan. Sejarah penggunaan “PAN-PAN” dapat ditelusuri kembali ke awal era penerbangan, sebagai cara untuk membedakan antara masalah yang memerlukan perhatian tanpa harus menghentikan semua operasi penerbangan.
MAYDAY: Sinyal Darurat Kritis
Di sisi lain, “MAYDAY” adalah sinyal darurat yang paling serius. Sinyal ini dikirimkan ketika pesawat berada dalam bahaya kritis dan mengancam keselamatan jiwa, seperti tabrakan, kebakaran hebat di pesawat, atau kegagalan sistem yang fatal. Sama seperti “PAN-PAN”, sinyal “MAYDAY” juga diulang tiga kali. Deklarasi “MAYDAY” akan memicu respons paling cepat dan paling komprehensif dari semua pihak, termasuk pengerahan tim SAR (Search and Rescue) jika diperlukan. Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada tingkat ancaman terhadap keselamatan jiwa dan pesawat.
Akun terverifikasi @airmainengineer di platform X (sebelumnya Twitter) memberikan kedalaman dan perspektif dari seorang profesional di bidang teknik penerbangan, dalam statusnya:
“Incidents like this highlight how airline crews and controllers work together in real time, following strict procedures to manage problems without taking unnecessary risks. For the hundreds on board, the outcome was the one everyone hopes for a safe landing and a reminder of how much planning and training goes into moments passengers rarely see.” – @airmainengineer, Verified Account.
Kesimpulan dan Implikasi Keselamatan Penerbangan
Insiden yang dialami Korean Air KE81 merupakan contoh nyata bagaimana sistem keselamatan penerbangan modern bekerja secara efektif. Kegagalan pada sistem hidrolik, meskipun berpotensi serius, berhasil dikelola dengan baik berkat redundansi sistem pada pesawat Airbus A380, keahlian kru, dan respons cepat dari ATC. Keberhasilan pendaratan ini tidak hanya menenangkan ratusan penumpang di dalamnya, tetapi juga menegaskan kembali standar keselamatan penerbangan internasional yang terus ditingkatkan. Korean Air telah mengonfirmasi bahwa pesawat A380 yang terlibat dalam insiden tersebut telah menjalani perbaikan dan kembali beroperasi. Kejadian ini menjadi pengingat bagi publik untuk tetap percaya pada keandalan industri penerbangan, meskipun insiden teknis, yang sangat jarang terjadi, dapat saja muncul.























