Korea Utara melayangkan kecaman keras terhadap serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, menyebut tindakan tersebut sebagai ‘agresi ilegal’ dan menyamakan AS dengan perilaku ‘gangster’.
- Korea Utara mengutuk serangan AS-Israel ke Iran sebagai ‘agresi ilegal’.
- AS disebut berperilaku ‘hegemonik dan seperti gangster’.
- Serangan ‘Epic Fury’ AS dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
- Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke pangkalan AS di Semenanjung Arab.
- Rusia dan China juga mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
Kecaman Tajam Korea Utara: AS adalah ‘Gangster’ Internasional
Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), pemerintah Korea Utara dengan tegas mengecam serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Tindakan ini dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan nasional Iran dan melanggar prinsip-prinsip hukum internasional.
Menurut laporan Al-Jazeera, juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyatakan bahwa keterlibatan AS dalam serangan ini, yang diberi nama sandi ‘Epic Fury’, sesuai dengan apa yang telah diperkirakan oleh Pyongyang. Ia menambahkan bahwa perilaku AS yang ‘hegemonik dan seperti gangster’ telah membawa konsekuensi yang tak terhindarkan. Pernyataan tersebut menekankan, “Perang agresi oleh AS dan Israel tidak dapat diterima dalam keadaan apa pun.”
Operasi ‘Epic Fury’ dan Narasi Pentagon
Operasi ‘Epic Fury’, sebagaimana diklaim oleh AS, dilaporkan sebagai operasi udara paling mematikan, kompleks, dan presisi dalam sejarah militer AS. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam unggahannya di platform X, menyatakan bahwa rezim Iran telah menanggung konsekuensi karena menolak kesepakatan dan terus berupaya mencari senjata paling ampuh untuk memajukan tujuan radikal mereka. Hegseth mengklaim, “Tadi malam, tidak seperti presiden sebelumnya, Presiden Trump mulai menangani kanker ini.”
Komentar ini menyiratkan bahwa tindakan militer tersebut merupakan respons terhadap ancaman yang dianggap telah lama dibiarkan oleh pemerintahan sebelumnya.
Dampak Serangan dan Respon Global
Serangan ‘Epic Fury’ dilaporkan menimbulkan korban jiwa di kalangan pimpinan tertinggi Iran, termasuk tewasnya Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pemimpin lainnya. Insiden ini memicu respons balasan dari Iran, yang melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai pangkalan AS yang berada di wilayah Semenanjung Arab.
Kecaman terhadap serangan AS-Israel ke Iran tidak hanya datang dari Korea Utara. Sebelumnya, Rusia dan China juga telah menyatakan penolakan mereka, menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional yang serius. Sikap tegas ini menunjukkan adanya potensi perpecahan geopolitik yang semakin dalam terkait respons terhadap konflik di Timur Tengah.
Dari perspektif saya yang telah mengamati dinamika geopolitik global selama bertahun-tahun, retorika ‘gangster’ yang dilontarkan Korea Utara, meskipun keras, mencerminkan pandangan mereka terhadap kebijakan luar negeri AS yang seringkali dianggap intervensionis. Pernyataan ini juga bisa dilihat sebagai upaya Korut untuk memperkuat posisi mereka di kancah internasional, menunjukkan solidaritas dengan negara-negara yang menentang dominasi AS.























