PAREPARE – Sebuah tragedi kebakaran hebat yang melanda kawasan padat penduduk di Jalan Menara, Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang, Kota Parepare, pada Selasa dini hari, 23 September 2025, bukan hanya menghanguskan lima rumah, tetapi juga merenggut nyawa dua anggota keluarga: seorang kakek dan cucunya. Peristiwa memilukan ini mencuatkan kembali pertanyaan mendasar tentang kerentanan infrastruktur keselamatan di permukiman padat perkotaan, serta mengapa sistem pencegahan dan respons darurat masih sering kali belum memadai.
Kematian Abdul Muin (70) dan cucunya, Muhammad Azril (9), yang terjebak dalam kobaran api setelah sang kakek dengan heroik kembali ke dalam rumah untuk menyelamatkan cucunya, menjadi simbol pilu akan risiko yang dihadapi masyarakat di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya kesadaran akan bahaya kebakaran. Artikel ini akan mengupas tuntas kronologi, menganalisis faktor-faktor risiko sistemik, serta menyoroti dampak dan urgensi langkah konkret bagi Pemerintah Kota Parepare.
Tragedi yang Mengguncang Parepare: Kronologi Memilukan di Jalan Menara
Api mulai berkobar sekitar pukul 01:58 WITA, melahap cepat rumah-rumah yang berdekatan di Jalan Menara. Kawasan tersebut, layaknya banyak permukiman tua di Parepare, didominasi oleh bangunan semi-permanen dengan material yang mudah terbakar, serta jarak antar-rumah yang sangat rapat. Kondisi ini menjadi “bahan bakar” bagi api untuk menyebar dengan kecepatan mengerikan.
Detik-detik mencekam terekam dalam kesaksian warga. Abdul Muin, yang semula berhasil menyelamatkan diri dari rumahnya, kembali masuk ke dalam kobaran api setelah menyadari cucunya, Muhammad Azril, masih terjebak. Niat luhur sang kakek untuk melindungi darah dagingnya sayangnya berujung tragis. Keduanya tidak berhasil keluar dan ditemukan meninggal dunia setelah delapan unit mobil pemadam kebakaran, yang tiba beberapa saat kemudian, berhasil menjinakkan api setelah berjuang selama beberapa jam.
Tim Pemadam Kebakaran Kota Parepare menghadapi tantangan besar. Selain kecepatan rambatan api, akses menuju lokasi yang sempit dan padat menyulitkan mobil pemadam untuk mendekat. Keterbatasan hidran air di area tersebut juga disinyalir memperlambat upaya pemadaman awal, memperparah kerusakan dan memperkecil peluang penyelamatan.
Mengapa Api Cepat Melalap Lima Rumah? Analisis Risiko Sistemik di Kawasan Padat
Peristiwa di Jalan Menara bukan sekadar insiden tunggal, melainkan cerminan dari masalah sistemik yang mengakar di banyak kota, termasuk Parepare. Ada beberapa faktor fundamental yang berkontribusi pada cepatnya penyebaran api dan tingginya korban jiwa:
Ancaman Urbanisasi dan Kesenjangan Infrastruktur Keselamatan
Pertumbuhan penduduk di Parepare, seperti kota-kota lain di Sulawesi Selatan, seringkali tidak diimbangi dengan perencanaan tata kota yang komprehensif, khususnya dalam hal keselamatan kebakaran. Kawasan padat seperti Jalan Menara, yang berkembang secara alami tanpa zonasi yang jelas, menjadi bom waktu. Data nasional menunjukkan, mayoritas kasus kebakaran dengan dampak besar sering terjadi di permukiman padat penduduk yang minim standar keselamatan. Bangunan yang terbuat dari kayu atau material ringan lain, ditambah instalasi listrik yang tidak standar, menciptakan lingkungan yang sangat rentan.
Dilema Akses dan Ketersediaan Hidran
Permukiman padat seringkali memiliki jalan-jalan sempit yang tidak memadai untuk dilalui kendaraan besar seperti mobil pemadam kebakaran. Ini berarti waktu respons menjadi lebih lama, dan ketika petugas tiba, mereka harus mengatasi hambatan fisik yang signifikan. Selain itu, ketersediaan hidran air yang berfungsi dan terawat di lokasi-lokasi rawan seringkali menjadi masalah krusial. Tanpa pasokan air yang memadai dan mudah diakses, upaya pemadaman akan terhambat parah, memberikan waktu bagi api untuk terus melahap bangunan.
Dampak Sosial dan Ekonomi: Jejak Luka di Jantung Kota Parepare
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar. Selain kehilangan nyawa yang tak ternilai, lima keluarga kini kehilangan tempat tinggal dan seluruh harta benda mereka. Dampak psikologis berupa trauma, kecemasan, dan kesedihan mendalam akan membayangi para korban dan saksi mata.
Bagi masyarakat Parepare, khususnya mereka yang tinggal di pesisir atau kawasan lama kota dengan kepadatan serupa, insiden ini menjadi pengingat pahit. Banyak keluarga di Parepare, terutama yang berprofesi sebagai nelayan atau pekerja informal, tinggal di rumah-rumah sederhana yang rentan. Kehilangan rumah berarti kehilangan mata pencarian dan stabilitas hidup, mendorong mereka ke jurang kemiskinan yang lebih dalam. Tanpa tempat berlindung dan modal usaha, pemulihan ekonomi bagi mereka akan menjadi perjuangan panjang yang membutuhkan dukungan serius dari pemerintah dan komunitas.
Menuntut Evaluasi Menyeluruh: Langkah Konkret untuk Mencegah Tragedi Berulang
Peristiwa heroik namun tragis yang menimpa Abdul Muin adalah pengingat yang menyakitkan: ketika sistem dan infrastruktur keselamatan publik tidak memadai, warga seringkali terpaksa mengambil risiko fatal untuk melindungi orang yang mereka cintai. Ini adalah kegagalan kolektif yang menuntut respons serius dari pihak berwenang.
Pemerintah Kota Parepare, bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur keselamatan kebakaran di wilayahnya. Ini mencakup:
- Pemetaan Area Rawan: Mengidentifikasi dan memetakan secara detail area-area permukiman padat dan rawan kebakaran di seluruh kota.
- Audit Infrastruktur: Pemeriksaan menyeluruh terhadap ketersediaan, fungsi, dan aksesibilitas hidran air, serta jalur evakuasi di setiap kelurahan.
- Perbaikan Akses: Membangun akses darurat atau melebarkan jalan di area yang sangat padat untuk memungkinkan mobil pemadam kebakaran bergerak lebih cepat.
- Regulasi Bangunan: Memperketat peraturan terkait standar bahan bangunan dan instalasi listrik di permukiman, serta memberikan insentif bagi warga untuk melakukan perbaikan.
Urgensi Edukasi dan Kesiapsiagaan Masyarakat
Tidak kalah penting adalah pelaksanaan program edukasi publik secara masif mengenai pencegahan kebakaran dan prosedur evakuasi yang aman. Edukasi harus mencakup pelatihan penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), pentingnya pengecekan instalasi listrik secara berkala, dan penentuan titik kumpul darurat. Pembentukan tim relawan pemadam kebakaran di tingkat RW/RT juga dapat menjadi langkah proaktif untuk respons cepat sebelum petugas pemadam tiba.
Tragedi di Jalan Menara Parepare adalah sebuah tamparan keras, menyoroti bahwa di balik hiruk-pikuk pembangunan kota, masih ada celah besar dalam jaring pengaman keselamatan publik. Kematian Abdul Muin dan Muhammad Azril harus menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Parepare untuk tidak hanya berduka, tetapi juga bertindak cepat dan komprehensif. Hanya dengan komitmen serius untuk meningkatkan infrastruktur, memperketat regulasi, dan memberdayakan masyarakat melalui edukasi, kita dapat memastikan bahwa pengorbanan heroik seperti yang terjadi di Jalan Menara tidak akan terulang kembali, dan setiap warga Parepare dapat merasa aman di rumah mereka sendiri.























