Periode Januari hingga Agustus 2026 menyajikan gambaran suram karhutla di Sulawesi Selatan, dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 112 kejadian yang melahap lebih dari 1.600 hektare lahan.
Kerugian Lahan Meluas: Catatan Kelam Karhutla di Sulawesi Selatan
- BPBD Sulsel mencatat 112 kejadian karhutla antara Januari-Agustus 2026.
- Total luas lahan terbakar mencapai 1.613,67 hektare.
- Mayoritas area terdampak adalah hutan dan lahan lainnya, disusul sebagian kecil perkebunan masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Sulsel, Amson Padolo, memaparkan bahwa angka 112 kejadian ini tersebar di 15 kabupaten/kota di seluruh Sulawesi Selatan. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan.
Rincian Wilayah Terdampak Karhutla di Sulsel
Analisis mendalam dari data BPBD Sulsel menunjukkan distribusi kejadian yang bervariasi antar wilayah, dengan beberapa daerah mengalami dampak paling signifikan:
- Kabupaten Enrekang menempati urutan teratas sebagai wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar, mencapai 1.044,55 hektare dari total 10 kejadian.
- Kabupaten Barru mencatat luas area terbakar sekitar 315 hektare yang tersebar dalam lima kejadian kebakaran.
- Kabupaten Tana Toraja menghadapi 11 kejadian kebakaran dengan total luasan terdampak mencapai 125 hektare.
- Kota Parepare, meskipun mencatat jumlah kejadian terbanyak, yaitu 25 kejadian karhutla, luas area terbakar relatif lebih kecil, yaitu 20,06 hektare.
- Kabupaten Pinrang melaporkan 18 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 54,4 hektare, ditambah tiga hektare lahan perkebunan masyarakat.
Puncak Kemarau Picu Peningkatan Intensitas Kebakaran
Menurut Amson Padolo, intensitas kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan signifikan seiring dengan masuknya puncak musim kemarau pada periode Juli hingga Agustus 2026. Kombinasi antara cuaca panas yang ekstrem dan hembusan angin kencang menjadi faktor utama yang memicu cepatnya penyebaran api, meningkatkan risiko karhutla di berbagai area.
Dampak Luas Karhutla: Ancaman Bagi Masyarakat dan Fasilitas
Lebih dari sekadar kerusakan lingkungan, karhutla telah memberikan dampak nyata yang merugikan masyarakat dan fasilitas penting di Sulawesi Selatan. Sebagai contoh, di Kota Palopo, 10 kejadian karhutla menyebabkan kebakaran pada 1,25 hektare kebun dan 3,5 hektare hutan serta lahan. Dampak sosialnya pun terasa, dengan 12 keluarga terdampak dan empat individu yang menjadi korban.
Kerugian materiil juga tidak sedikit. Sebanyak 39 unit usaha dan fasilitas mengalami kerusakan akibat amukan api. Rinciannya, 37 unit tercatat di Kabupaten Barru dan dua unit di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Imbauan BPBD Sulsel: Kewaspadaan dan Sanksi Hukum Menanti
Menghadapi situasi yang mengkhawatirkan ini, BPBD Sulsel secara terus-menerus mengingatkan masyarakat untuk menahan diri dari segala bentuk aktivitas pembakaran terbuka. Kebiasaan membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar sangat berisiko, mengingat kondisi lahan yang kering mudah tersulut api, terutama saat angin bertiup kencang.
Amson Padolo menegaskan kembali pentingnya membangun kesadaran kolektif dan kewaspadaan bersama untuk mencegah timbulnya titik api baru. Upaya pencegahan ini sangat krusial mengingat potensi musim kemarau yang masih dapat meningkatkan risiko karhutla di banyak wilayah Sulsel.
BPBD Sulsel juga memberikan peringatan tegas bahwa kejadian karhutla memiliki implikasi hukum yang serius. Tindakan penanganan terhadap kasus-kasus yang teridentifikasi telah dan akan terus dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Dengan rekor luas area terbakar yang telah melampaui angka 1.600 hektare hingga bulan Agustus 2026, BPBD Sulsel kembali menyerukan kepada seluruh masyarakat dan pihak terkait untuk secara simultan memperkuat upaya pencegahan. Prioritas utama diberikan pada wilayah-wilayah yang memiliki vegetasi kering dan secara historis rentan terhadap ancaman kebakaran.
Kontributor: MA. Untung























