Pulau Kalimantan kembali diselimuti ancaman serius dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin mengganas. Fenomena El-Nino ‘Godzilla’ memperparah situasi, menciptakan kabut asap pekat yang berdampak langsung pada kehidupan ribuan warga di berbagai provinsi.
- Lonjakan titik api dan kabut asap pekat melanda Kalimantan, diperparah oleh El-Nino ‘Godzilla’.
- Warga di Banjarbaru, Pontianak, dan Palangka Raya berjuang menghadapi udara kotor dan dampaknya.
- Kisah pilu kerugian materiil dan gangguan kesehatan dialami warga terdampak langsung.
- Petugas pemadam menghadapi medan sulit dan keterbatasan sumber daya dalam upaya pemadaman di lahan gambut.
- Peningkatan kasus ISPA dan ancaman kesehatan bagi kelompok rentan menjadi perhatian utama.
- Muncul dugaan keterlibatan korporasi dan oknum aparat dalam akar permasalahan karhutla.
- Harapan masyarakat adalah penanganan karhutla yang efektif dan berkelanjutan untuk mencegah siklus bencana berulang.
Ancaman Kabut Asap dan Dampaknya di Seluruh Kalimantan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda berbagai provinsi di Pulau Kalimantan, memicu lonjakan titik api dan menghasilkan kabut asap pekat yang menyelimuti sejumlah wilayah. Fenomena El-Nino ‘Godzilla’ turut memperparah situasi, membuat warga harus berjuang menghadapi udara kotor.
Kisah Warga Terdampak di Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, wajah kelam karhutla terlihat jelas. Riri Jayanti, seorang ibu rumah tangga, menjadi sorotan setelah mengunggah foto kedua anaknya yang berangkat sekolah dikelilingi kabut asap tebal. Ia mengaku kualitas udara yang buruk telah menyebabkan keluarganya batuk-batuk, bahkan bayi dan lansia di lingkungannya juga terdampak Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Abdul Kholik, tetangga Riri, harus menelan pil pahit kerugian puluhan juta rupiah setelah peternakan ayamnya dilalap api. Istrinya yang sedang hamil kini mengalami gangguan pernapasan. Sementara itu, Dony Restu, seorang mahasiswa, telah terbiasa dengan aroma asap ‘apek’ yang mengingatkan pada sampah terbakar, mengganggu aktivitasnya bahkan saat berkendara.
Kabut Asap di Berbagai Kota Kalimantan
Kondisi serupa juga terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat, hingga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, di mana kabut asap masih menjadi momok bagi masyarakat. Ribuan hektare lahan gambut terbakar, menghasilkan kepulan asap tebal yang membuat indeks polusi udara mencapai kategori berbahaya.
Kesulitan Petugas Pemadam di Lapangan
Di tengah situasi krisis ini, tim pemadam kebakaran hutan dan lahan menghadapi tantangan berat. Terutama di lahan gambut, api kerap muncul kembali setelah dipadamkan. Petugas harus menggunakan metode khusus seperti ‘suntik gambut’ dan memikul alat berat menembus semak belukar. Keterbatasan sumber air dan alat yang menua turut memperumit upaya pemadaman. Meskipun begitu, mereka bertekad menjalankan tugasnya tanpa keluhan.
Dampak Kesehatan dan Langkah Penanganan
Kabut asap tebal berdampak signifikan pada kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Peningkatan kasus ISPA tercatat di Banjarbaru. Dinas Kesehatan telah mengambil langkah pencegahan, seperti mengimbau penggunaan masker standar N95/KN95 dan mengurangi aktivitas luar ruangan.
Akar Permasalahan dan Potensi Korupsi
Di balik bencana berulang ini, muncul pertanyaan mengenai penanganan yang dinilai belum menjawab akar permasalahan. Dugaan keterlibatan oknum aparat penegak hukum dan korporasi dalam praktik ilegal pembakaran lahan mencuat. Walhi menyoroti bahwa sebagian besar titik api berada di dalam kawasan konsesi perusahaan, menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab negara dalam melindungi lingkungan.
Harapan dan Upaya Mitigasi
Masyarakat berharap agar karhutla tidak terulang kembali dan penanganannya dilakukan secara efektif. Pemerintah mengklaim telah memperkuat operasi terpadu pengendalian karhutla dengan melibatkan ribuan personel gabungan. Namun, para ahli mengingatkan pentingnya upaya mitigasi yang berkelanjutan agar krisis ini tidak menjadi siklus yang terus berputar.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























