Setelah upaya pencarian yang panjang selama 14 hari, jasad pendaki Yazid Ahmad Firdaus akhirnya berhasil ditemukan di kawasan Gunung Lawu. Penemuan ini mengakhiri misteri hilangnya pendaki tersebut di jalur pendakian yang dikenal ekstrem.
Kronologi Penemuan Jasad Pendaki di Gunung Lawu
Jasad Yazid Ahmad Firdaus ditemukan oleh tim gabungan SAR dan BPBD Kabupaten Karanganyar pada Selasa, 10 Februari 2026, sekitar pukul 08.45 WIB. Lokasi penemuan berada di aliran sungai yang terletak di kawasan Bukit Mongkrang, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar. Penemuan ini menjadi titik akhir dari pencarian intensif yang telah dilakukan sejak korban dilaporkan hilang.
Detail Penemuan dan Tantangan Pencarian
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karanganyar, Hendro Prayitno, lokasi penemuan jasad memiliki karakteristik jalur yang sangat ekstrem. Medan yang terjal, licin, dan berada di aliran sungai menjadi tantangan utama bagi tim penyelamat. Kehati-hatian ekstra diperlukan dalam setiap langkah tim evakuasi untuk memastikan keselamatan mereka.
Jasad korban ditemukan dalam kondisi relatif utuh. Identitas pribadi korban, termasuk sepatu dan kaos kaki yang dikenakannya, juga ditemukan di sekitar lokasi, yang sangat membantu proses identifikasi sebelum dilakukannya evakuasi.
Proses Evakuasi yang Berlangsung
Saat ini, tim SAR dan BPBD tengah melakukan proses evakuasi jasad korban dari lokasi penemuan menuju titik yang lebih mudah dijangkau di bagian bawah. Proses evakuasi ini dilakukan secara bertahap karena medan yang sangat sulit dan berisiko.
Latar Belakang Hilangnya Pendaki
Yazid Ahmad Firdaus, seorang warga dari Perum Angsana, Desa Gawanan, Colomadu, Karanganyar, dilaporkan hilang sejak Minggu, 18 Januari 2026. Ia dilaporkan tidak kembali setelah melakukan pendakian di Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Operasi pencarian yang melibatkan tim SAR sempat dihentikan karena kendala yang dihadapi, termasuk faktor cuaca buruk. Angin kencang yang melanda wilayah tersebut menghambat penggunaan teknologi seperti drone, yang seharusnya dapat membantu memperluas jangkauan pencarian.
Keterangan Keluarga dan Pengalaman Pendaki
Ayah Yazid, Sapto Mulyono, mengungkapkan bahwa putranya adalah seorang pendaki yang berpengalaman. Yazid rutin melakukan aktivitas trail run di jalur Mongkrang dan memiliki kondisi fisik yang prima berkat rutinitas latihan renang dan lari.
“Anak kami sudah lebih dari lima kali ke Mongkrang dan fisiknya sedang optimal. Kami berterima kasih kepada pemerintah dan ratusan relawan yang membantu mencari putra kami,” ujar Sapto Mulyono.
Meskipun sempat kehilangan jejak sinyal GPS dari perangkat yang digunakan korban, keluarga tetap menunjukkan optimisme dan sepenuhnya mempercayakan proses pencarian kepada tim gabungan yang bertugas.























