Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didihnya dengan Iran yang kini bersiaga penuh menghadapi potensi gelombang serangan rudal dari Amerika Serikat dan Israel. Pengerahan armada tempur AS semakin mempertegas potensi eskalasi militer di kawasan yang sarat konflik ini.
- Iran meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan serangan rudal dari AS dan Israel.
- Pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln memicu kekhawatiran akan peningkatan kesiapan militer Washington.
- Analis meyakini AS dan Israel memiliki kapabilitas melancarkan serangan besar yang berpotensi menggulingkan pemerintahan Iran.
- Militer AS akan menggelar latihan untuk menunjukkan kemampuan proyeksi kekuatan udara.
- Fokus serangan potensial diperkirakan beralih dari program nuklir ke kepemimpinan politik Iran, dengan tujuan memicu kemarahan publik akibat krisis ekonomi.
- Iran menuduh AS berupaya menghancurkan kohesi sosial melalui narasi darurat sebelum serangan.
- Iran menegaskan kesiapsiagaan militer dan memperingatkan konsekuensi pelanggaran prinsip internasional.
- Terdapat perdebatan internal di AS mengenai strategi perubahan rezim di Iran.
- Akses internet di Iran dibatasi, sementara Uni Eropa mempertimbangkan IRGC sebagai organisasi terlarang.
Eskalasi Militer dan Potensi Serangan ke Iran
Pemerintah Iran kini berada dalam siaga tinggi, mengantisipasi kemungkinan serangan rudal dari Amerika Serikat dan Israel. Pemicu utama eskalasi ini adalah pengerahan kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah, yang oleh banyak pengamat militer dinilai sebagai indikasi peningkatan signifikan kesiapan Washington untuk melancarkan operasi militer terhadap Teheran.
Sejumlah analis militer berpendapat bahwa kombinasi kekuatan udara Amerika Serikat dan Israel kini memiliki daya tembak yang cukup untuk melancarkan serangan berskala besar. Serangan ini tidak hanya dibidikkan pada sasaran militer konvensional, namun juga memiliki potensi untuk mengguncang stabilitas, bahkan secara hipotetis menjatuhkan pemerintahan Iran. Pemerintah Teheran sendiri telah menghadapi kritik luas terkait penindasan brutal terhadap gelombang protes dalam negeri yang dilaporkan menewaskan ribuan warga.
Pengerahan Armada AS dan Respons Regional
Meskipun armada laut Amerika Serikat, termasuk kapal perusak berpeluru kendali, belum menempati posisi final, mereka sudah berada dalam jangkauan strategis untuk menyerang Iran. Namun, kepastian mengenai apakah serangan lanjutan AS akan memicu kembali gelombang demonstrasi besar-besaran di dalam negeri masih belum jelas. Beberapa negara regional, seperti Uni Emirat Arab, telah menyatakan sikap tegas tidak akan mengizinkan wilayah mereka digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran. Meskipun demikian, kehadiran kapal induk AS di Laut Mediterania secara teori dapat mengurangi ketergantungan Washington pada izin dari negara ketiga.
Fokus Serangan dan Dampak Ekonomi
Militer Amerika Serikat telah mengumumkan rencana untuk menggelar latihan militer di kawasan tersebut, sebuah langkah yang bertujuan untuk mendemonstrasikan kapabilitas dalam mengerahkan dan mempertahankan kekuatan udara tempur. Perkiraan mengenai fokus serangan yang dikhawatirkan kali ini menunjukkan adanya pergeseran. Serangan tersebut tidak lagi hanya berpusat pada program nuklir Iran, melainkan berpotensi besar menyasar langsung kepemimpinan politik negara itu. Tujuan utama dari strategi ini kemungkinan adalah untuk memicu kemarahan publik yang timbul akibat merosotnya standar hidup, mengingat inflasi di Iran dilaporkan telah mencapai angka mencemaskan sebesar 60 persen dalam sebulan terakhir.
Tuduhan Iran dan Sikap Menjelang Perundingan
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, secara terbuka menuduh Amerika Serikat berupaya merusak kohesi sosial Iran sebelum melancarkan serangan militer. Ia mengklaim bahwa Presiden AS Donald Trump sengaja menggambarkan Iran dalam kondisi darurat sebagai bagian dari strategi perang psikologis, dengan tujuan memecah belah publik sebelum melakukan tindakan militer. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah laporan mengenai adanya kontak diplomatik antara utusan AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran memantau setiap pergerakan musuh dengan ketat. Ia memperingatkan bahwa pengerahan pasukan dan ancaman militer bertentangan dengan prinsip-prinsip fundamental sistem internasional, dan pelanggaran semacam itu akan menciptakan ketidakamanan bagi semua pihak, serta Iran siap memberikan respons menyeluruh terhadap agresi.
Sementara itu, Kepala Mahkamah Agung Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, menyerukan agar Iran menolak kembali ke meja perundingan dengan pihak Barat. Sebelumnya, Trump dilaporkan menahan diri untuk menyerang Iran karena belum memiliki opsi yang cukup tegas untuk menyingkirkan Pemimpin Tertinggi Iran atau rencana militer yang rinci untuk menjamin keamanan Israel dari potensi serangan balasan.
Perdebatan Internal AS dan Isu HAM
Perdebatan internal masih berlangsung di dalam pemerintahan Amerika Serikat mengenai dorongan untuk perubahan rezim di Iran. Jumlah korban tewas akibat penindasan demonstrasi masih menjadi subjek perdebatan sengit, dengan lembaga hak asasi manusia melaporkan angka mencapai 5.419 orang. Namun, Pelapor Khusus PBB untuk Iran menyatakan belum dapat memverifikasi angka tersebut secara independen dan melaporkan adanya permintaan tebusan yang diajukan kepada keluarga korban untuk mengambil jenazah orang yang dicintai.
Di sisi lain, akses internet di Iran dilaporkan mengalami pembatasan sejak 8 Januari. Di Eropa, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani berencana merekomendasikan agar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ditetapkan sebagai organisasi terlarang di kawasan tersebut, menambah dimensi diplomatik pada ketegangan yang terus meningkat.























