Pasar keuangan Indonesia menunjukkan performa mengesankan pada penutupan perdagangan Rabu, 11 Oktober 2026. Baik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kompak menguat, mengisyaratkan tren positif yang diharapkan berlanjut di tengah gejolak global.
Performa Solid Pasar Keuangan Indonesia: Penguatan Ganda IHSG dan Rupiah
Pada Rabu (11/10/2026), IHSG berhasil melonjak signifikan, menambah 159 poin atau menguat 1,96% dan ditutup di level 8.290,97. Volume perdagangan menunjukkan aktivitas pasar yang sangat dinamis, dengan 544 saham menguat, 156 saham melemah, dan 122 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 29,80 triliun dari 62,06 miliar saham yang berpindah tangan dalam 3,40 juta transaksi. Kapitalisasi pasar pun turut terangkat menjadi Rp 15.094 triliun.
Dominasi Saham Unggulan dan Sektor Top Bursa
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi sorotan utama dengan nilai transaksi terbesar, mencapai Rp 8,24 triliun, dan mencatat kenaikan impresif sebesar 10% ke level Rp 272 per saham. Perdagangan ramai juga melibatkan emiten besar lainnya seperti Petrosea (PTRO), Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), dan Bukit Uluwatu Villa (BUVA). Mayoritas sektor di bursa mengapresiasi penguatan, dengan sektor infrastruktur memimpin kenaikan 4,37%, diikuti oleh energi (3,85%), barang baku (3,81%), dan konsumer non-primer (3,79%). Penguatan IHSG ini sangat dipengaruhi oleh emiten milik Prajogo Pangestu, yaitu Barito Pacific (BRPT), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan Barito Renewables Energy (BREN).
Rupiah Lanjutkan Tren Apresiasi Terhadap Dolar AS
Nilai tukar rupiah juga memperpanjang tren penguatannya terhadap dolar AS pada hari yang sama. Rupiah ditutup menguat 0,09% ke posisi Rp16.775 per dolar AS, menandai penguatan ketiga kalinya secara berturut-turut. Pembukaan perdagangan menunjukkan apresiasi 0,15% di level Rp16.750/US$, dan rupiah bertahan di zona hijau sepanjang sesi, meski sempat mengalami penipisan sebelum kembali menguat.
Faktor Penopang Penguatan Rupiah: Pelemahan Dolar AS dan Antisipasi Data Ketenagakerjaan
Pelemahan dolar AS di pasar global menjadi salah satu katalis utama penguatan rupiah. Indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,18% ke level 96,629. Pelaku pasar kini tengah menanti perilisan data ketenagakerjaan AS yang diproyeksikan dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Analisis Sentimen Pasar Global dan Domestik
Pasar Wall Street: Mixed dalam Antisipasi Kebijakan The Fed
Bursa Wall Street mengalami penutupan yang beragam pada Rabu (11/2/2026) waktu AS. Indeks Dow Jones turun 0,13%, S&P 500 melandai kurang dari satu poin, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 0,16%. Laporan nonfarm payrolls AS yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja solid di bulan Januari, meskipun terkonsentrasi pada sektor tertentu, menjadi fokus utama investor dalam kaitannya dengan potensi pemangkasan suku bunga The Fed.
Pasar Obligasi: Sinyal ‘Wait and See’
Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun terpantau stabil di level 6,436%, sama seperti dua hari sebelumnya. Level ini mengindikasikan sentimen wait and see yang masih dominan di pasar obligasi.
China: Perlambatan Inflasi dan Deflasi Produsen
Data inflasi konsumen China menunjukkan perlambatan permintaan domestik, dengan Indeks Harga Konsumen (CPI) melambat ke 0,2% secara tahunan (YoY). Sementara itu, Indeks Harga Produsen (PPI) terus mengalami deflasi selama 40 bulan berturut-turut, mencerminkan adanya kelebihan kapasitas produksi di negara tersebut.
Upaya Strategis Pemulihan Kepercayaan Investor Global
BEI dan MSCI: Meningkatkan Transparansi Data
Bursa Efek Indonesia (BEI) dilaporkan menggelar pertemuan lanjutan dengan MSCI guna meningkatkan transparansi data pasar, termasuk rencana penerbitan shareholders concentration list. Inisiatif ini bertujuan untuk memulihkan kepercayaan investor global pasca-pembekuan penyesuaian indeks oleh MSCI.
Muncul kabar mengenai empat surat dari MSCI kepada pemerintah terkait kurangnya transparansi pasar saham Indonesia, yang berpotensi merugikan investor global.
Respons Pemerintah Terhadap Proyeksi Moody’s dan Upaya Diplomatik
Presiden Prabowo Subianto merespons penurunan outlook utang Indonesia oleh Moody’s dengan menggelar acara “Indonesia Economic Outlook” untuk memberikan klarifikasi mendalam mengenai fundamental ekonomi Indonesia. Selain itu, Presiden dijadwalkan mengunjungi Amerika Serikat pada 19 Februari 2026 untuk penandatanganan pakta perdagangan timbal balik (ART), sebuah langkah strategis yang diharapkan memberikan keuntungan bagi produk ekspor Indonesia.
Proyeksi Pasar: Optimisme Berlanjut dengan Katalis Domestik dan Global
Pasar keuangan Indonesia diprediksi akan melanjutkan tren penguatannya. Momentum positif di pasar domestik, ditambah dengan upaya pemulihan kepercayaan investor global, menjadi faktor pendukung utama. Pelaku pasar akan tetap mencermati perkembangan data makroekonomi global serta langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah untuk memperkuat stabilitas ekonomi nasional.
Berikut adalah rangkuman agenda dan rilis data yang dijadwalkan untuk hari ini:
- Agenda Emiten: [Rincian agenda emiten]
- Indikator Perekonomian Nasional: [Rincian indikator]
Sanggahan: Artikel ini merupakan produk jurnalistik dari CNBC Indonesia Research. Analisis ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual produk investasi terkait. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.























