Upaya pengamatan hilal Ramadan 1447 Hijriah di Sulawesi Selatan pada Selasa (18/2/2026) sore dilaporkan tidak berhasil melihat penampakan bulan sabit muda. Kondisi ini mengarahkan penentuan resmi awal puasa sepenuhnya pada Sidang Isbat yang dijadwalkan malam ini oleh Kementerian Agama.
Rukyatul Hilal Ramadan 1447 H di Sulsel Gagal
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan, bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Hisab Rukyat (BHR) Sulsel, serta sejumlah organisasi keagamaan, telah melaksanakan kegiatan Rukyatul Hilal di Observatorium Menara Iqra, Universitas Muhammadiyah Makassar. Kegiatan ini krusial untuk menetapkan permulaan bulan 1 Ramadan 1447 Hijriah.
Namun, hasil awal pengamatan menunjukkan bahwa hilal hampir mustahil untuk terlihat secara kasat mata. Kakanwil Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, menginformasikan bahwa data BMKG pada Selasa, pukul 18.23 WITA, mencatat posisi bulan di Sulawesi Selatan berada pada ketinggian minus 1 derajat di bawah ufuk saat matahari terbenam. Hal serupa dilaporkan BHR Sulsel yang mencatat pada pukul 18.24 WITA, ketinggian bulan berada pada minus 1 derajat 5 menit.
Kriteria Visibilitas Hilal MABIMS Tidak Terpenuhi
Menurut H. Ali Yafid, hasil pengamatan ini tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal yang disepakati oleh negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria tersebut menetapkan syarat minimum:
- Ketinggian hilal: Minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam.
- Sudut elongasi: Minimal 6,4 derajat (jarak sudut antara bulan dan matahari).
Kedua parameter ini secara signifikan tidak tercapai berdasarkan observasi di Sulawesi Selatan, sehingga visibilitas hilal secara kasat mata sangat kecil kemungkinannya.
Sidang Isbat Kementerian Agama Menentukan 1 Ramadan
Menyikapi kondisi tersebut, Kakanwil Kemenag Sulsel menegaskan bahwa keputusan final mengenai penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah akan sepenuhnya diserahkan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia melalui forum Sidang Isbat yang diselenggarakan pada malam harinya.
Terkait adanya organisasi masyarakat yang telah mengumumkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, H. Ali Yafid menjelaskan bahwa perbedaan tersebut umumnya disebabkan oleh penggunaan metodologi hisab dan rukyat yang berbeda antarlembaga. Ia mengimbau seluruh masyarakat untuk senantiasa merujuk pada keputusan resmi pemerintah yang akan dikeluarkan melalui Sidang Isbat sebagai pedoman utama.
Penting untuk dipahami bahwa kriteria MABIMS yang bersifat empiris dan didukung data astronomis akurat, telah mengalami penyesuaian dari batas ketinggian 2 derajat menjadi 3 derajat. Peningkatan batas ketinggian ini didasarkan pada riset yang menunjukkan kesulitan pengamatan hilal pada ketinggian sebelumnya, demi kepastian yang lebih tinggi dalam menentukan awal bulan hijriah.























