Keputusan mengejutkan datang dari Pemerintah Kota Fujiyoshida, Jepang. Festival bunga sakura tahunan yang telah menjadi daya tarik selama satu dekade terpaksa dibatalkan. Alasan utama: lonjakan wisatawan yang tak terkendali telah merusak ketenangan dan kenyamanan hidup warga setempat.
Pembatalan Festival Sakura: Mundur Demi Ketenangan Warga
Pemerintah Kota Fujiyoshida mengambil langkah drastis dengan membatalkan festival sakura yang telah diselenggarakan selama sepuluh tahun. Keputusan ini, yang diumumkan pada Selasa (03/02), mencerminkan keputusasaan kota dalam menghadapi dampak negatif pariwisata yang berlebihan.
Kronologi dan Latar Belakang Keputusan
Kota Fujiyoshida, yang berlokasi di kaki Gunung Fuji, menawarkan pemandangan spektakuler dengan ribuan pohon sakura yang bermekaran di musim semi. Keindahan alam ini telah menarik perhatian global, menjadikan kota ini destinasi populer. Namun, popularitas yang meningkat pesat, didorong oleh faktor seperti pelemahan nilai yen dan promosi media sosial, berujung pada ancaman serius terhadap kehidupan warga.
Wali Kota Shigeru Horiuchi menyatakan bahwa situasi tersebut telah mencapai titik kritis, mengancam “kehidupan tenang warga”. Ia menambahkan, “Untuk melindungi martabat dan lingkungan hidup warga kami, kami telah memutuskan untuk mengakhiri festival yang telah berlangsung selama 10 tahun ini.” Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan dampak buruk pariwisata berlebihan terhadap lingkungan dan kenyamanan penduduk.
Dampak Negatif Overtourism di Fujiyoshida
Peningkatan jumlah pengunjung di Fujiyoshida dilaporkan “meningkat secara dramatis, melebihi kapasitas kota”. Pada puncak musim mekarnya bunga sakura, kota ini bisa dibanjiri hingga 10.000 pengunjung setiap hari. Lonjakan ini membawa serangkaian masalah serius:
- Kemacetan Lalu Lintas Kronis: Arus kendaraan yang padat menyebabkan kemacetan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Masalah Sampah: Sampah berserakan di berbagai sudut kota, mencemari keindahan alam dan lingkungan.
- Perilaku Tidak Sopan Wisatawan: Warga melaporkan insiden-insiden yang sangat mengganggu, seperti:
- Masuk tanpa izin ke properti pribadi, termasuk membuka pintu rumah untuk menggunakan toilet.
- Buang air besar (BAB) di taman milik warga.
- Membuat keributan ketika penduduk mencoba memprotes perilaku tersebut.
Antisipasi dan Solusi Pengelolaan Wisatawan
Meskipun festival dibatalkan, pemerintah kota menyadari bahwa lonjakan pengunjung selama bulan April dan Mei mendatang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, upaya sedang dilakukan untuk mengembangkan strategi pengelolaan arus wisatawan yang lebih baik, guna mencegah terulangnya masalah serupa di masa depan.
Kasus Serupa: Fenomena Overtourism di Jepang dan Dunia
Kasus Fujiyoshida bukanlah fenomena yang terisolasi. Jepang sendiri telah menghadapi tantangan serupa. Pada tahun 2024, otoritas di Fujikawaguchiko terpaksa menutup salah satu titik foto paling ikonik untuk menghentikan perilaku wisatawan yang tidak pantas, seperti membuang sampah sembarangan dan parkir liar.
Fenomena overtourism juga merambah ke negara lain. Italia, misalnya, telah menerapkan biaya masuk sebesar €2 (sekitar Rp40.000) ke Air Mancur Trevi di Roma. Kebijakan ini bertujuan untuk mengelola jumlah pengunjung dan mendanai pemeliharaan situs bersejarah yang terancam oleh keramaian.
Pembatalan festival sakura di Fujiyoshida menjadi pengingat penting tentang perlunya keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan pelestarian kualitas hidup masyarakat lokal serta kelestarian lingkungan.























