Pernahkah Anda merasa bahwa Ramadan di kota besar terkadang terasa seperti simulasi?
Kita bangun sahur di ruang makan yang hangat, lalu berangkat kerja di dalam mobil atau gerbong kereta berpendingin udara. Di kantor, kita duduk di balik meja dengan hembusan AC yang stabil, menatap layar seharian. Saat lapar mulai menyapa, ada ribuan cara untuk mengalihkannya: serial streaming, scrolling tanpa henti, atau tenggelam dalam push rank sampai lupa waktu.
Tiba-tiba saja azan Magrib sudah terdengar. Kita merasa menang karena berhasil “melewati” puasa—padahal sebenarnya kita tidak melewati apa pun. Kita hanya dikeroyok distraksi sampai kehilangan kehadiran diri.
Bagi manusia urban yang dimanjakan fasilitas, puasa sering hanya menjadi ibadah batin yang sangat halus—hampir tanpa residu fisik. Kita tidak benar-benar merasa lapar. Kita hanya sedang menunda makan dalam kenyamanan.
Cobalah tengok ke luar jendela.
Di sana ada tukang parkir yang berdiri di atas aspal yang memuai. Kuli bangunan yang mengangkat beban di bawah terik yang memanggang. Kurir paket yang mengejar target di tengah debu jalanan. Bagi mereka, puasa bukan sekadar urusan batin—puasa adalah perjuangan otot. Mereka tidak punya kemewahan untuk membunuh waktu dengan menonton film. Waktu bagi mereka adalah lawan yang harus dihadapi dengan keringat dan napas yang pendek.
Dan justru di dalam kelelahan yang jujur itu, ada sesuatu yang tidak kita miliki: kejujuran tubuh.
Saat manusia benar-benar lelah, ia tidak lagi punya energi untuk berpura-pura.
Topeng-topeng sosial kita—citra diri yang hebat, gengsi, kemarahan yang dibuat-buat—biasanya luruh saat energi kita mencapai titik nadir. Kelelahan fisik adalah penghancur ego yang paling efektif. Orang yang benar-benar lelah menjadi sangat autentik: ia hanya ingin istirahat, ia hanya ingin seteguk air, ia kembali menjadi manusia yang paling dasar.
Ironisnya, kita di kota justru menggunakan segala fasilitas untuk menghindari kelelahan itu. Kita takut menjadi lelah, maka kita mencari pelarian. Akibatnya kita lupa waktu salat, lupa berzikir, bahkan lupa mengapa kita sedang berlapar-lapar—karena otak kita terlalu sibuk disuapi konten digital.
Lapar tanpa rasa lelah sering berakhir menjadi lapar yang hambar.
Bagi kawan-kawan yang tidak berpuasa namun hidup dalam ritme kerja yang sama, refleksi ini tetap relevan. Apakah kenyamanan hidup membuat kita kehilangan otot kesadaran? Apakah kita terlalu sering melarikan diri dari ketidaknyamanan fisik hingga tidak lagi mengenal siapa diri kita saat terdesak?
Hari ini, mari coba untuk tidak terlalu banyak melarikan diri.
Jika rasa lelah itu datang, terimalah ia sebagai tamu. Jangan langsung menyalakan layar untuk mengusirnya. Rasakan bagaimana tubuh Anda bicara tentang keterbatasannya—dengan jujur, tanpa filter.
Sebab hanya melalui pengakuan akan kelemahan fisik inilah kita bisa memahami betapa besarnya kekuatan spiritual yang kita butuhkan. Rasa lelah yang jujur adalah tubuh yang sedang berdoa—mengingatkan kita bahwa kita hanyalah makhluk rapuh yang sedang merindukan kekuatan dari Yang Maha Kokoh.
Mari. Saya juga ingin berhenti membunuh waktu, dan belajar menghidupkan setiap detik kelelahan itu.
























