Beijing melontarkan kecaman tajam terhadap Presiden Taiwan Lai Ching-te, menyebutnya sebagai “penyulut perang” sebagai respons atas wawancara eksklusifnya yang membahas kekhawatiran mengenai potensi agresi China di kawasan Indo-Pasifik.
Peringatan Keras Presiden Taiwan Terhadap Ambisi Ekspansionis Beijing
Dalam sebuah wawancara yang menarik perhatian internasional, Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan peringatan tegas kepada negara-negara di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Jepang dan Filipina. Lai menekankan bahwa wilayah mereka berpotensi menjadi target aneksasi oleh China jika Beijing berhasil menguasai Taiwan. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa ambisi ekspansionis Beijing tidak akan berhenti di Taiwan, melainkan dapat meluas hingga ke Amerika Serikat dan Eropa.
Presiden Lai juga menyerukan peningkatan kerja sama yang lebih erat di bidang pertahanan dan kecerdasan buatan (AI) antara Taiwan dan Eropa. Ia menambahkan bahwa Taipei berkomitmen untuk mendukung perusahaan chipnya agar berinvestasi di luar negeri, termasuk di benua Eropa, guna memperkuat posisinya dalam rantai pasok global.
Respons Keras dan Tuduhan dari Beijing
Menanggapi pernyataan Lai Ching-te, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers rutinnya, menegaskan bahwa pernyataan tersebut mencerminkan sikap “keras kepala yang pro-kemerdekaan” dan membuktikan Lai sebagai “pengganggu perdamaian, pencipta krisis, dan penyulut perang”. Lin Jian menekankan bahwa tidak ada argumen yang dapat mengubah fakta sejarah fundamental bahwa Taiwan adalah bagian integral dari wilayah China.
Lin Jian juga mengkritik upaya Taiwan untuk memperluas kerja sama dengan Eropa, menyebutnya sebagai tindakan yang “sangat keliru dan pasti akan gagal”. Ia berpendapat bahwa mencari kemerdekaan dengan mengandalkan dukungan asing dan menolak reunifikasi dengan kekuatan Tiongkok adalah strategi yang secara fundamental salah dan tidak akan membuahkan hasil.
Konteks Geopolitik dan Strategi Taiwan di Tengah Ketegangan
China secara konsisten menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan tidak ragu mengancam akan menggunakan kekuatan militer untuk membawa pulau itu di bawah kendalinya. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, Taiwan telah mengambil langkah-langkah proaktif untuk memperkuat hubungan keamanan dan ekonomi dengan Eropa, yang merupakan pasar ekspor terbesarnya. Langkah strategis ini juga diambil di tengah munculnya pertanyaan mengenai tingkat kesiapan Amerika Serikat untuk membela Taiwan jika terjadi serangan dari China.
Selama ini, konsentrasi produksi chip semikonduktor canggih di Taiwan dipandang sebagai faktor penangkal potensial bagi serangan China sekaligus alasan strategis bagi AS untuk mempertahankan pulau tersebut. Ketergantungan global pada chip Taiwan menjadikannya aset yang sangat berharga dan krusial dalam dinamika geopolitik kawasan.
Tekanan AS dan Upaya Taiwan dalam Memperkuat Kapasitas Pertahanan dan Ekonomi
Meskipun Taiwan telah menginvestasikan miliaran dolar untuk memodernisasi militernya dalam dekade terakhir, Amerika Serikat terus mendesak Taipei untuk meningkatkan belanja pertahanan lebih lanjut dan memperluas kapasitas produksi semikonduktor di wilayahnya. Desakan ini mencerminkan kekhawatiran AS terhadap ketidakseimbangan kekuatan di kawasan dan pentingnya Taiwan dalam rantai pasok teknologi global.























