Wartakita.id – Pemerintah China menyuarakan keberatan tegas terhadap rencana Amerika Serikat untuk mengambil alih 30 hingga 50 juta barel minyak dari Venezuela. Langkah AS ini menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro, yang dinilai China melanggar hukum internasional dan kedaulatan Venezuela.
Poin-poin Penting:
- China menolak rencana AS mengambil minyak Venezuela, menyebutnya pelanggaran kedaulatan.
- AS mengumumkan kesepakatan dengan otoritas sementara Venezuela untuk mengambil minyak sebagai imbalan dukungan.
- China menekankan pentingnya melindungi hak dan kepentingan sahnya di Venezuela.
- Penangkapan Maduro oleh AS dikritik China sebagai upaya menegakkan Doktrin Monroe dan memperkuat pengaruh AS.
Keberatan China atas Pengambilan Minyak Venezuela
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, menyatakan bahwa Venezuela adalah negara berdaulat dengan hak penuh atas sumber daya alam dan kegiatan ekonominya. Permintaan Amerika Serikat, menurut Mao Ning, tidak hanya melanggar hukum internasional tetapi juga merusak kedaulatan Venezuela serta hak rakyatnya.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan minyak mentah antara 30 juta hingga 50 juta barel kepada AS. Trump mengklaim minyak tersebut akan dijual sesuai harga pasar dan hasilnya akan dikontrol olehnya untuk memastikan manfaat bagi rakyat Venezuela dan AS.
Konteks dan Sejarah Hubungan Minyak Venezuela-China
Situasi ini terjadi di tengah penurunan produksi minyak Venezuela. Berdasarkan data dari perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela s.a. (PDVSA), ekspor minyak negara tersebut mencapai 952.000 barel per hari pada November 2025, sebelum sanksi militer AS diterapkan. Mayoritas dari jumlah tersebut, sekitar 778.000 barel, dikirim ke Tiongkok, yang memberikan Beijing pangsa 81,7 persen dari total ekspor minyak Venezuela pada periode tersebut.
Produksi minyak harian Venezuela pada 2025 tercatat sekitar 1,1 juta barel per hari, jauh menurun dari era 1970-an yang mencapai 3,5 juta barel per hari. Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti masalah tata kelola, minimnya investasi infrastruktur, dan dampak sanksi yang telah lama diberlakukan AS terhadap sektor energi Venezuela.
Peran China dalam Industri Minyak Venezuela
Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 303 miliar barel, kontribusinya terhadap impor minyak China terbilang minor, sekitar 4 persen dari total kebutuhan China yang mayoritas dipenuhi dari Timur Tengah dan Rusia. Namun, China telah menunjukkan komitmen investasinya yang signifikan.
Sejak 2016, China dilaporkan telah menginvestasikan 2,1 miliar dolar AS ke industri minyak Venezuela. Perusahaan-perusahaan besar seperti China National Petroleum Corporation (CNPC) dan China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec) memegang saham dalam konsorsium dengan konsesi yang mencakup miliaran barel minyak. Beberapa perusahaan swasta China juga aktif berinvestasi dalam ekstraksi minyak di negara tersebut.
Penangkapan Maduro dan Dampaknya
Pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian dibawa ke New York untuk diadili. Keduanya diduga terlibat dalam kejahatan terorisme narkoba dan konspirasi. Pemerintahan Trump mengklaim operasi ini adalah bagian dari penegakan Doktrin Monroe, pemberantasan narkoba dan korupsi, serta penguatan pengaruh AS di Venezuela.
China mengutuk keras tindakan AS ini, menyebutnya sebagai pukulan telak terhadap tatanan ekonomi dan sosial Venezuela serta ancaman terhadap stabilitas rantai pasok global. Mao Ning menegaskan bahwa kerja sama antara China dan Venezuela adalah hubungan antar-negara berdaulat yang dilindungi oleh hukum internasional, dan hak serta kepentingan sah China di Venezuela harus dihormati dan dilindungi.























