Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menghadapi tantangan ekstrem dalam operasi penyelamatan penambang yang dilaporkan terjebak di area galian tambang Pongkor, Kabupaten Bogor. Kondisi tambang yang membahayakan memaksa penggunaan peralatan khusus seperti Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) untuk memastikan keselamatan tim dan korban.
Poin Penting
- Basarnas mengerahkan SCBA dan peralatan SAR ruang terbatas untuk operasi penyelamatan di tambang Pongkor.
- Tambang yang tertutup PT Antam memiliki struktur tidak stabil dan kualitas udara buruk, berisiko tinggi.
- Tiga penambang lokal dilaporkan terjebak sejak Selasa (13/1) dini hari.
- Tim SAR dibagi menjadi kelompok pencari dan siaga untuk efektivitas dan keselamatan.
- Keselamatan personel SAR menjadi prioritas utama dalam operasi ini.
Operasi SAR Intensif di Tambang Berisiko Tinggi
Insiden ini bermula dari laporan masyarakat pada Minggu (18/1) mengenai dugaan adanya penambang yang terjebak di area galian tambang Pongkor. Peristiwa ini diperkirakan terjadi sejak Selasa (13/1) dini hari, ditandai dengan terdeteksinya asap dari dalam area galian. Asesmen awal oleh SAR Mission Coordinator (SMC) Desiana Kartika Bahari mengonfirmasi bahwa kondisi tambang sangat membahayakan, dengan struktur yang mengalami pelapukan dan kualitas udara yang tidak layak untuk pernapasan.
Peran Krusial SCBA dalam Lingkungan Berbahaya
Menghadapi kondisi tersebut, tim SAR tidak memiliki pilihan selain menggunakan peralatan khusus. Penggunaan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) menjadi mutlak diperlukan. SCBA adalah perlengkapan vital dalam operasi SAR di ruang terbatas, yang memungkinkan personel untuk bernapas dengan aman meskipun lingkungan sekitar terpapar gas berbahaya atau kekurangan oksigen. Diameter lubang tambang yang sempit, kurang lebih satu meter, menambah kompleksitas operasi dan menekankan pentingnya peralatan ini.
Strategi Pencarian dan Dukungan Tim
Area galian tambang yang menjadi lokasi kejadian diketahui merupakan area yang telah ditutup oleh PT Antam. Oleh karena itu, sebelum operasi penyelamatan dimulai, tim SAR melakukan asesmen mendalam untuk mengidentifikasi dan memitigasi potensi bahaya. Pada hari Selasa (20/1), tim SAR dibagi menjadi dua unit. Tim Pencarian ditugaskan untuk masuk ke dalam area galian guna melakukan identifikasi dan upaya evakuasi, sementara Tim Siaga bertanggung jawab atas kesiapan evakuasi lanjutan dan dukungan medis. Operasi ini melibatkan personel rescue dari Kantor SAR Jakarta dan Basarnas Special Group (BSG), berkolaborasi erat dengan Emergency Response Team (ERT) PT Antam Pongkor, serta didukung oleh peralatan SAR yang memadai.
Fokus pada Keselamatan Korban dan Personel
Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat tiga orang penambang yang masih berada di dalam area galian tambang. Ketiga korban tersebut diidentifikasi berinisial AK, AJ, dan AD, semuanya merupakan warga Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Basarnas menegaskan bahwa dalam setiap tahapan operasi penyelamatan ini, keselamatan personel SAR menjadi prioritas utama. Hal ini sejalan dengan penerapan prosedur operasi standar (SOP) yang ketat, terutama ketika berhadapan dengan lingkungan kerja yang memiliki tingkat risiko tinggi.























