Di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik, Amerika Serikat telah mengumumkan pengerahan armada militernya ke arah Iran. Keputusan ini, yang dikonfirmasi oleh Presiden Donald Trump, menandai langkah signifikan dalam merespons ketegangan yang kian memanas di kawasan tersebut.
Pengerahan Militer AS dan Respons Trump
Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengerahan armada militer negaranya ke arah Iran, didampingi pernyataan harapannya agar kekuatan tersebut tidak perlu sampai digunakan. Pernyataan ini disampaikan usai Trump menghadiri pertemuan para pemimpin dunia di Davos, Swiss. Tindakan ini merupakan perluasan opsi militer AS, baik untuk memperkuat pertahanan pasukan di wilayah tersebut maupun sebagai persiapan tindakan lanjutan.
Sumber pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln, beserta beberapa kapal perusak berpeluru kendali, diperkirakan akan tiba di Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang. Selain itu, Washington juga tengah mempertimbangkan pengerahan sistem pertahanan udara tambahan untuk melindungi pangkalan-pangkalan AS di kawasan dari potensi serangan.
Latar Belakang Ketegangan yang Memuncak
Langkah pengerahan militer ini diambil menyusul serangan AS terhadap situs-situs nuklir Iran pada Juni lalu. Ketegangan mulai meningkat secara signifikan setelah militer AS memindahkan kapal-kapal perangnya dari kawasan Asia-Pasifik. Situasi ini dipicu oleh tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes yang melanda negara itu dalam beberapa bulan terakhir. Presiden Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan mengambil tindakan terhadap Iran jika Teheran terus membunuh para demonstran, meskipun ia mengklaim bahwa retorikanya telah membuat Iran mengendurkan langkah represifnya.
Isu Nuklir Iran dan Situasi Domestik
Dalam konteks program nuklir, Iran diwajibkan melaporkan kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengenai kondisi fasilitas nuklir yang diserang AS. Dugaan keberadaan sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60% berpotensi cukup untuk membuat hingga sepuluh bom nuklir jika diperkaya lebih lanjut. Namun, IAEA belum dapat memverifikasi stok uranium Iran selama setidaknya tujuh bulan terakhir.
Sementara itu, situasi dalam negeri Iran masih belum sepenuhnya stabil. Protes yang berawal dari kesulitan ekonomi pada 28 Desember telah menyebar ke berbagai wilayah. Kelompok pemantau hak asasi manusia HRANA mencatat ribuan kematian terkait kerusuhan, sementara pemerintah Iran merilis data resmi pertamanya yang menyebutkan 2.427 orang tewas, terdiri dari warga sipil dan personel pasukan keamanan, yang dikategorikan sebagai “martir” oleh Teheran.
Pihak yang Terlibat
- Donald Trump (Presiden AS): Mengumumkan pengerahan militer, berharap kekuatan tersebut tidak perlu digunakan, dan menegaskan AS akan bertindak tegas terkait program nuklir Iran.
- Pemerintah Iran: Dituding melakukan tindakan keras terhadap demonstran dan diduga melanjutkan program nuklir.
- Pejabat AS Anonim: Memberikan detail mengenai pengerahan kapal induk dan kapal perusak.
- Badan Energi Atom Internasional (IAEA): Bertugas melaporkan kondisi fasilitas nuklir Iran.
- Kelompok Pemantau Hak Asasi Manusia HRANA: Mencatat jumlah kematian terkait kerusuhan.
- Martyrs Foundation (Iran): Merilis data resmi jumlah korban jiwa dalam unjuk rasa.























