Fenomena impor bijih nikel dari Filipina ke Indonesia pasca larangan ekspor menjadi pertanyaan besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan signifikan, mengancam potensi hilangnya daya saing industri nikel nasional yang justru didorong untuk berkembang.
Lonjakan Impor Bijih Nikel: Mengapa Filipina Jadi Sumber Utama?
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren yang mencengangkan: impor bijih nikel dari Filipina terus membanjiri pasar Indonesia, sebuah anomali mengingat pemerintah telah menerapkan larangan ekspor bijih nikel sejak tahun 2020.
Rincian Volume dan Nilai Impor
- Pada tahun 2025, volume impor bijih nikel (HS 26040000) diproyeksikan mencapai 15,33 juta ton dengan nilai US$725,17 juta.
- Pusat impor utama bijih nikel Filipina adalah kawasan Weda (Maluku Utara) dan Morowali (Sulawesi), yang merupakan sentra industri smelter nikel.
- Khususnya di Morowali, impor bijih nikel dari Filipina tercatat mencapai 2,42 juta ton.
- Weda menjadi wilayah dengan volume impor terbesar, mencapai 12,04 juta ton, mewakili 78,5% dari total impor bijih nikel Indonesia dari Filipina.
- Dibandingkan tahun 2024 yang hanya 10,18 juta ton (US$445,09 juta), terjadi peningkatan sekitar 5 juta ton pada tahun 2025.
- Impor pada tahun 2023 hanya berjumlah 374.453 ton (US$16 juta), menandakan lonjakan drastis sejak pertama kali tercatat pada tahun tersebut.
Keterbatasan Pasokan Domestik dan Banjirnya Smelter
Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, membenarkan lonjakan impor ini. Sepanjang Januari-Agustus 2025, smelter di Indonesia dilaporkan telah mengimpor sekitar 15 juta ton bijih nikel dari Filipina, meningkat signifikan dari 12 juta ton sepanjang tahun sebelumnya.
Penyebab Utama Impor Terus Meningkat
- Kekurangan Pasokan Dalam Negeri: Meidy menjelaskan bahwa impor dilakukan karena pasokan bijih nikel domestik tidak mencukupi kebutuhan industri yang berkembang pesat.
- Pertumbuhan Smelter yang Masif: Penambangan nikel di Indonesia menjadi tidak seimbang dengan jumlah smelter yang terus bertambah. Saat ini, tercatat 73 unit smelter yang beroperasi, 73 unit dalam tahap konstruksi, dan 17 unit dalam perencanaan. Total diprediksi mencapai 163 unit smelter di masa depan.
- Cadangan yang Tidak Cukup: “Dari sekian banyak 163 ini, jika berproduksi semua, nangis kalau saya bilang. Kenapa? Cadangan [bijih nikel]-nya enggak cukup. Sangat amat cadangannya enggak cukup,” ungkap Meidy dengan nada prihatin.
Pertumbuhan industri hilirisasi nikel yang digalakkan pemerintah dengan pembangunan smelter nikel yang masif tampaknya belum diimbangi dengan ketersediaan bahan baku dalam negeri. Situasi ini memaksa para pengusaha untuk mencari sumber pasokan dari luar, seperti Filipina, bahkan mulai menjajaki Kaledonia dan Papua Nugini, demi menjaga keberlangsungan produksi.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan krusial: di mana posisi bijih nikel Indonesia di tengah membanjirnya impor? Apakah potensi sumber daya alam nasional yang melimpah justru terancam dikuasai oleh pemain asing atau tergerus oleh laju pembangunan smelter yang tidak berkelanjutan? Analisis lebih lanjut dibutuhkan untuk memahami dampak jangka panjang dari anomali impor ini terhadap ketahanan industri nikel Indonesia.























