Wartakita.id, SUMATERA – Bencana hidrometeorologi dahsyat melanda tiga provinsi di Sumatera: Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi sejak akhir November 2025 ini telah merenggut ratusan nyawa dan menyebabkan ribuan warga mengungsi.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan operasi SAR gabungan yang masif. Operasi ini melibatkan lebih dari 5.000 personel gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan pemerintah daerah untuk mencari korban yang hilang.
Korban Jiwa dan Hilang Meningkat
Data terbaru yang dirilis Basarnas per Senin (1/12/2025) pukul 21.00 WIB, mencatat total 539 korban meninggal dunia dan 453 korban hilang di ketiga provinsi tersebut. Angka ini terus bertambah seiring ditemukannya korban baru dalam operasi pencarian yang terus berlangsung.
Sementara itu, data komprehensif dari BNPB yang diperbarui pada pukul 17.00 WIB hari yang sama, menunjukkan angka yang sedikit berbeda. BNPB mencatat total 604 korban meninggal dunia dan sekitar 464 korban hilang. Perbedaan ini lumrah terjadi dalam situasi tanggap darurat, di mana data Basarnas fokus pada hasil evakuasi SAR langsung, sementara BNPB mengintegrasikan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Berikut rincian data terbaru per provinsi berdasarkan Basarnas (hingga 21.00 WIB, 1/12/2025):
|
Provinsi
|
Korban Meninggal Dunia
|
Korban Hilang
|
Daerah Terdampak Utama
|
|---|---|---|---|
|
Sumatera Utara (Sumut)
|
217 jiwa
|
168 jiwa
|
Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Langkat, Deli Serdang, Padang Sidempuan, Mandailing Natal, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan. Total terevakuasi: 3.029 jiwa.
|
|
Aceh
|
156 jiwa
|
169 jiwa
|
Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, Subulussalam, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Kota Langsa.
|
|
Sumatera Barat (Sumbar)
|
166 jiwa
|
116 jiwa
|
Pasaman Barat, Agam, Padang Pariaman, Kota Padang, Kota Bukittinggi, Tanah Datar, Solok, Solok Selatan, Kota Padang Panjang. Total terdampak: 29.445 jiwa.
|
|
Total
|
539 jiwa
|
453 jiwa
|
–
|
Sementara itu, data BNPB (per 17.00 WIB, 1/12/2025) memberikan rincian yang lebih luas, termasuk korban luka dan dampak keseluruhan:
|
Provinsi
|
Korban Meninggal Dunia
|
Korban Hilang
|
Korban Luka
|
Dampak Tambahan
|
|---|---|---|---|---|
|
Sumatera Utara (Sumut)
|
283 jiwa
|
169 jiwa
|
613 jiwa
|
Pengungsi terbanyak; jalur Sibolga–Padang Sidempuan putus total; 12.000 jiwa terisolir di Parmonangan dan Adiankoting.
|
|
Aceh
|
156 jiwa
|
181 jiwa
|
1.800 jiwa
|
62.000 KK pengungsi; 17 kabupaten/kota terdampak; jalur Banda Aceh–Lhokseumawe terputus.
|
|
Sumatera Barat (Sumbar)
|
165 jiwa
|
114 jiwa
|
112 jiwa
|
11.820 KK pengungsi (77.918 jiwa); konsentrasi di Kota Padang dan Pesisir Selatan.
|
|
Total
|
604 jiwa
|
464 jiwa
|
2.525 jiwa
|
570.000 pengungsi; 1,5 juta terdampak; kerusakan infrastruktur luas (jembatan, jalan nasional).
|
“Total yang terevakuasi di Sumut mencapai 3.029 jiwa, dengan korban jiwa meninggal dunia 217 jiwa dan dalam pencarian 168 jiwa,” ungkap Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI pada Selasa pagi (2/12/2025).
Dampak Luas Melanda Tiga Provinsi
Bencana ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menyebabkan dampak luas bagi masyarakat. Berdasarkan data BNPB, total masyarakat yang terdampak mencapai 1,5 juta jiwa. Sebanyak 570.000 di antaranya terpaksa mengungsi, sementara 2.600 lainnya mengalami luka-luka.
Rincian Dampak di Masing-masing Provinsi
Sumatera Utara (Sumut) menjadi salah satu provinsi dengan korban meninggal terbanyak, mencapai 283 jiwa menurut data BNPB. Daerah seperti Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Langkat menjadi yang paling parah terdampak. Jalur transportasi penting seperti Sibolga–Padang Sidempuan dilaporkan putus total, membuat sekitar 12.000 jiwa terisolir.
Di Aceh, tercatat 156 korban meninggal dunia dan 181 korban hilang. Sebanyak 17 kabupaten/kota terdampak, menyebabkan 62.000 Kepala Keluarga (KK) mengungsi. Jalur Banda Aceh–Lhokseumawe juga terputus, menghambat upaya penanganan dan distribusi bantuan.
Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) melaporkan 165 korban meninggal dunia dan 114 korban hilang. Ribuan warga mengungsi, dengan konsentrasi terbanyak di Kota Padang dan Pesisir Selatan. Bencana ini juga menyebabkan kerusakan infrastruktur yang luas, termasuk jembatan dan jalan nasional.
Operasi SAR dan Bantuan Darurat Berlangsung Intensif
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI pada Selasa pagi (2/12/2025), melaporkan bahwa total evakuasi selamat di ketiga provinsi mencapai 33.620 jiwa. Upaya ini didukung oleh peralatan canggih seperti helikopter, drone, kapal, dan perahu karet.
Kepala BNPB, Letjen TNI (Ret) Suharyanto, menegaskan bahwa data korban masih akan terus berkembang. “Operasi SAR gabungan masih menemukan korban baru, terutama di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau,” ujarnya.
Penanganan darurat difokuskan pada pencarian korban yang belum ditemukan, pemenuhan kebutuhan logistik bagi pengungsi, pembukaan akses jalan yang terputus, serta distribusi bantuan dari Presiden, termasuk alat komunikasi, tenda, genset, dan makanan siap saji.
Koordinasi Data dan Imbauan Keselamatan
Perbedaan angka korban antara Basarnas dan BNPB dijelaskan sebagai dinamika lapangan yang umum terjadi. BNPB terus berkoordinasi ketat dengan Basarnas untuk sinkronisasi data yang akurat. Pihak berwenang juga mengingatkan potensi longsor susulan di daerah rawan seperti Tapanuli Selatan dan Agam.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, menjauhi bantaran sungai dan lembah curam yang berisiko. Jika ada keluarga atau kerabat yang hilang, laporan dapat segera disampaikan melalui hotline Basarnas (115) atau BNPB.























