Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan potensi eskalasi militer yang signifikan terhadap Iran, menyatakan kesiapan Washington untuk melepaskan ‘neraka’ jika Teheran menolak menyerah. Pernyataan ini muncul di tengah perkembangan diplomatik dan militer yang tegang di kawasan.
- Presiden Trump mengancam akan menggunakan kekuatan militer penuh terhadap Iran jika negara itu tidak menyerah.
- Amerika Serikat menunda rencana serangan ke infrastruktur energi Iran setelah adanya pembicaraan yang dianggap produktif.
- Gedung Putih menegaskan bahwa otorisasi Kongres tidak diperlukan untuk tindakan militer terhadap Iran.
- AS mengklaim telah menghancurkan lebih dari 140 kapal Angkatan Laut Iran, sebuah dampak signifikan dalam periode singkat.
Ketegangan Meningkat: Ancaman ‘Neraka’ dari Washington
Dalam pernyataan yang tegas, Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt, menyerukan Iran untuk menerima realitas situasi saat ini. Jika tidak, Amerika Serikat siap untuk meningkatkan eskalasi konflik. Leavitt mengutip ucapan Presiden Trump, menegaskan bahwa AS tidak main-main dan siap untuk mengambil tindakan drastis jika diperlukan.
“Presiden tidak membual dan ia siap melepaskan neraka,” ujar Leavitt, mengutip dari Anadolu Agency. Ia menambahkan bahwa Iran harus berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan perhitungan, mengingat dampak dari kesalahan perhitungan sebelumnya yang telah menyebabkan kerugian besar, termasuk hilangnya kepemimpinan senior dan aset militer strategis.
Penundaan Serangan Infrastruktur dan Posisi Kongres
Menariknya, di tengah ancaman yang dilontarkan, Leavitt juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat saat ini menunda rencana serangan ke pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran. Penundaan ini diklaim terjadi setelah adanya pembicaraan yang produktif dalam tiga hari terakhir. Keputusan ini menunjukkan adanya celah untuk dialog atau negosiasi, meskipun retorika yang digunakan sangat keras.
Lebih lanjut, Leavitt memperjelas posisi Pemerintah AS mengenai otorisasi Kongres untuk serangan terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa Washington tidak menganggap persetujuan Kongres sebagai syarat mutlak untuk bertindak, menekankan keyakinan AS terhadap hak otonomnya dalam menentukan langkah keamanan nasional.
Dampak Militer dan Upaya di Selat Hormuz
Leavitt juga menyoroti dampak signifikan dari aksi militer AS terhadap Angkatan Laut Iran. Ia melaporkan bahwa lebih dari 140 kapal Angkatan Laut Iran, termasuk hampir 50 kapal penyebar ranjau, telah dihancurkan. Leavitt menggambarkan skala kehancuran ini sebagai “penghancuran angkatan laut terbesar di dunia dalam periode tiga minggu sejak Perang Dunia II,” menyoroti efektivitas dan kecepatan operasi militer AS.
Selain itu, terkait dengan upaya AS untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, Leavitt menyatakan bahwa belum ada jadwal spesifik untuk kapal tanker minyak pertama yang akan melewati jalur strategis tersebut. Namun, para pejabat AS terus berupaya untuk mewujudkan hal tersebut secepat mungkin, menunjukkan komitmen berkelanjutan terhadap stabilitas dan kelancaran arus energi global.























