Di tengah derasnya arus informasi dan globalisasi yang mempercepat laju krisis, profesi Humas dihadapkan pada tantangan krusial. Sekretaris Umum Perhumas Indonesia, Benny Siga Butar Butar, menegaskan perlunya transformasi fundamental dari peran reaktif menjadi proaktif, yaitu menjadi pengambil keputusan strategis.
- Humas harus bergeser dari sekadar “pemadam kebakaran” menjadi perencana dan pelaksana strategi komunikasi yang visioner.
- Pemahaman mendalam tentang dinamika media dan sentimen publik menjadi kunci utama dalam membentuk persepsi positif dan mendorong tindakan yang diinginkan.
- Lima kelemahan fundamental dalam praktik PR tradisional perlu segera dibenahi agar tidak tertinggal dalam menghadapi kompleksitas era digital.
Peran Krusial Humas dalam Membentuk Persepsi di Era Digital
Globalisasi dan laju informasi yang kian cepat telah mengubah lanskap komunikasi secara drastis. Dalam konteks ini, peran Public Relations (PR) dan media menjadi sangat vital dalam membentuk persepsi publik. Benny Siga Butar Butar, yang juga menjabat sebagai Direktur Umum LKBN ANTARA, dalam sebuah talkshow yang diselenggarakan oleh BPC Perhumas Makassar, menekankan betapa strategisnya peran humas di tengah banjir informasi.
Menurut Benny, “Peran humas di tengah derasnya arus informasi semakin strategis. Media akan memberitakan sekaligus membentuk persepsi. Sementara humas harus jauh lebih memahami bagaimana menciptakan understanding, penerimaan, agar pesannya diterima, dan kemudian memotivasi orang untuk bertindak.” Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran paradigma yang dibutuhkan, di mana humas tidak hanya bertugas menyebarkan informasi, tetapi juga menciptakan pemahaman yang mendalam dan menginspirasi audiens.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: M. Ridham
Add wartakita.id as a preferred source on Google























