Wartakita.id – Keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas kasus dugaan korupsi tambang nikel di Konawe Utara kembali menimbulkan pertanyaan publik. Menghentikan kasus yang melibatkan mantan Bupati Aswad Sulaiman ini, KPK beralasan tidak ada perhitungan kerugian negara yang dapat dilakukan. Namun, langkah ini justru memicu kekhawatiran tentang efektivitas pemberantasan korupsi di Indonesia.
SP3 Kasus Tambang Nikel: Alasan KPK dan Dampaknya
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyatakan bahwa penghentian penyidikan kasus dugaan korupsi izin tambang nikel di Konawe Utara, yang menjerat mantan Bupati Aswad Sulaiman, didasarkan pada temuan auditor. Auditor tidak dapat menghitung kerugian negara karena pengelolaan tambang tersebut dinilai tidak masuk dalam ranah keuangan negara menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa ketiadaan perhitungan kerugian negara menyebabkan kecukupan alat bukti tidak terpenuhi, terutama terkait penerapan Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Sementara itu, untuk sangkaan suap, perkara tersebut terkendala oleh daluwarsa. KPK mengklaim keputusan ini telah sesuai dengan asas pelaksanaan tugas dan kewenangan lembaga sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019.
Kronologi Kasus dan Kerugian Negara yang Diperkirakan
Kasus ini bermula ketika KPK menetapkan Aswad Sulaiman sebagai tersangka pada tahun 2017. Wakil Ketua KPK saat itu, Saut Situmorang, menyebut Aswad diduga melakukan dua tindak pidana korupsi sekaligus. Skenarionya adalah penyalahgunaan wewenang terkait penerbitan izin kuasa pertambangan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan nikel, serta izin usaha pertambangan operasi produksi, yang berlangsung dari tahun 2007 hingga 2014. KPK kala itu memperkirakan negara dirugikan hingga Rp 2,7 triliun, berasal dari penjualan hasil tambang yang proses perizinannya menyalahi aturan.
Aswad tidak hanya diduga menyalahgunakan wewenang, tetapi juga ditengarai menerima suap dari perusahaan-perusahaan yang mendapatkan izin tambang. Pengembangan perkara bahkan membuka peluang KPK untuk menjerat pihak lain yang terlibat, termasuk perusahaan pemberi suap.
Kritik Tajam dari ICW: Transparansi dan Kepercayaan Publik
Namun, langkah KPK ini mendapat sorotan tajam dari Indonesian Corruption Watch (ICW). Lembaga antikorupsi tersebut menilai penerbitan SP3 ini menambah panjang daftar perkara besar yang dihentikan tanpa penjelasan yang memadai kepada publik. ICW menyoroti ketidaksesuaian antara klaim KPK dan catatan resmi.
Menurut ICW, nama Aswad Sulaiman tidak tercantum dalam laporan tahunan KPK maupun laporan Dewan Pengawas KPK, padahal SP3 diklaim diterbitkan Desember 2024. ICW mempertanyakan keterlambatan KPK dalam menyampaikan informasi penghentian perkara ini kepada publik, hampir satu tahun setelah SP3 diterbitkan. Hal ini berlawanan dengan Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 70/PUU-XVII/2019, yang mewajibkan pelaporan penghentian penyidikan dan penuntutan kepada Dewan Pengawas paling lambat 14 hari setelah SP3 diterbitkan.
“SP3 ini bukan hanya menambah daftar perkara yang dihentikan, tapi juga dapat dilihat sebagai dampak dari penghancuran KPK secara sistemik sejak 2019,” ujar Peneliti ICW, Wana Alamsyah, dalam keterangan tertulisnya.
Peran Auditor dan Interpretasi Hukum
Inti perdebatan terletak pada interpretasi ‘kerugian negara’. Alasan KPK bahwa pengelolaan tambang tidak masuk ranah keuangan negara menimbulkan pertanyaan:
- Apakah definisi ‘keuangan negara’ dalam UU No. 17/2003 terlalu sempit untuk mencakup kerugian akibat praktik korupsi sumber daya alam?
- Bagaimana peran auditor independen dalam memastikan semua potensi kerugian negara terdeteksi, bahkan jika tidak secara langsung terkait APBN/APBD?
- Apakah ada celah hukum yang sengaja dimanfaatkan atau memang merupakan kelemahan sistemik dalam penanganan korupsi sumber daya alam?
Taring KPK Makin Tumpul?
Penerbitan SP3 ini, terutama dengan rentang waktu penyampaian informasi yang minim transparansi, tentu menimbulkan kekhawatiran publik. Apakah ini menandakan taring KPK dalam memberantas korupsi mulai tumpul, atau ada faktor-faktor lain yang lebih kompleks yang bekerja di balik layar?
FAQ Seputar SP3 KPK
1. Apa itu SP3 dalam konteks hukum Indonesia?
SP3 adalah singkatan dari Surat Perintah Penghentian Penyidikan. Ini adalah surat yang dikeluarkan oleh penyidik untuk menghentikan proses penyidikan suatu perkara pidana. Penghentian ini bisa dilakukan jika tidak terdapat cukup bukti, peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana, atau karena sebab-sebab lain yang diatur dalam undang-undang.
2. Mengapa KPK mengeluarkan SP3 untuk kasus tambang nikel ini?
Menurut KPK, alasan utama adalah tidak adanya perhitungan kerugian negara yang dapat dilakukan oleh auditor, karena pengelolaan tambang tersebut dianggap tidak masuk dalam ranah keuangan negara berdasarkan UU No. 17 Tahun 2003. Selain itu, sangkaan suap juga terkendala daluwarsa.
3. Apa kritik utama ICW terhadap penerbitan SP3 ini?
ICW mengkritik kurangnya transparansi KPK dalam menyampaikan informasi penghentian perkara ini kepada publik. Mereka juga menilai penerbitan SP3 ini menambah daftar panjang perkara besar yang dihentikan tanpa penjelasan memadai dan menganggapnya sebagai dampak dari ‘penghancuran KPK secara sistemik’.
4. Berapa perkiraan kerugian negara dalam kasus tambang nikel ini sebelum dihentikan?
Sebelum dihentikan, KPK memperkirakan kerugian negara mencapai Rp 2,7 triliun. Nilai ini berasal dari penjualan hasil tambang akibat proses perizinan yang diduga menyalahi aturan.
5. Apakah penghentian penyidikan harus dilaporkan ke publik?
Berdasarkan UU No. 19 Tahun 2019 dan Putusan MK No. 70/PUU-XVII/2019, setiap penghentian penyidikan wajib dilaporkan kepada Dewan Pengawas KPK paling lambat 14 hari setelah SP3 diterbitkan. Keterlambatan pelaporan inilah yang disoroti oleh ICW.
6. Apa implikasi penerbitan SP3 ini bagi kepercayaan publik terhadap KPK?
Penerbitan SP3, apalagi dengan adanya isu keterlambatan transparansi, berpotensi mengurangi kepercayaan publik terhadap efektivitas dan integritas KPK dalam memberantas korupsi. Hal ini bisa menimbulkan persepsi bahwa kasus-kasus besar sulit untuk dituntaskan.























