Jumat, 6 Februari 2026, mencatat geliat ekonomi yang signifikan di Indonesia. Berbagai inisiatif strategis diluncurkan, mulai dari akselerasi hilirisasi industri hingga penguatan sektor padat karya, yang diperkirakan akan mendorong pertumbuhan dan stabilitas ekonomi nasional.
- Peletakan batu pertama enam proyek hilirisasi senilai USD 7 miliar (Rp110 triliun) di 13 daerah.
- Pemerintah menyiapkan dana USD 6 miliar untuk perbaikan industri padat karya, terutama tekstil.
- Proses demutualisasi bursa berpotensi melalui private placement atau IPO dengan dasar hukum yang sedang disusun.
- MoU investasi dengan Australia diharapkan memperkuat akses global Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
- Menteri Keuangan optimistis kinerja ekonomi Indonesia akan meredam keraguan dari lembaga pemeringkat Moody’s.
Akselerasi Hilirisasi: Investasi Rp110 Triliun untuk Masa Depan Industri
Pemerintah Indonesia, melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), secara resmi memulai fase I dari enam proyek hilirisasi pada Jumat, 6 Februari 2026. Dengan total investasi masif senilai 7 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp110 triliun, inisiatif ini menjadi tonggak penting dalam upaya revitalisasi dan penguatan struktur industri nasional.
Proyek-proyek yang tersebar di 13 provinsi ini mencakup berbagai sektor strategis, menandakan komitmen kuat untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam domestik dan mengurangi ketergantungan pada bahan mentah. Keberhasilan implementasi proyek hilirisasi ini krusial untuk menciptakan ekosistem industri yang lebih mandiri dan berdaya saing di kancah global.
Sinergi Investasi RI-Australia: Memperluas Jangkauan Global Danantara
Dalam rangkaian kunjungan resmi Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, ke Indonesia, terjalin kesepakatan strategis melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di bidang investasi. Perjanjian ini tidak hanya mempererat hubungan bilateral kedua negara tetapi juga memiliki implikasi signifikan bagi Danantara.
Diharapkan, kerja sama ini akan membuka pintu akses Danantara ke jejaring investasi global yang lebih luas, memfasilitasi masuknya modal asing berkualitas, serta transfer teknologi dan keahlian. Sinergi ini vital dalam mendukung pembiayaan proyek-proyek hilirisasi dan infrastruktur strategis lainnya.
Penguatan Sektor Padat Karya: USD 6 Miliar untuk Dukung Industri Lokal
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan kesiapan pemerintah untuk menyalurkan dana sebesar 6 miliar dolar AS guna mendukung sektor padat karya. Fokus utama dari alokasi dana ini adalah perbaikan dan peningkatan daya saing industri tekstil yang memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja.
Melalui skema co-invest dan/atau co-financing, pemerintah berupaya menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif bagi pelaku industri padat karya. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan operasional, meningkatkan kapasitas produksi, serta mendorong inovasi agar industri tekstil tetap relevan di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Demutualisasi Bursa: Menuju Struktur Pasar Modal yang Lebih Efisien
Perkembangan penting lainnya datang dari sektor pasar modal, di mana Menteri Koordinator Bidang Perekonomian turut menjelaskan mengenai prospek demutualisasi bursa efek Indonesia. Proses ini diproyeksikan dapat ditempuh melalui dua jalur utama: private placement atau initial public offering (IPO).
Meskipun dasar hukum berupa peraturan pemerintah (PP) untuk mekanisme demutualisasi ini masih dalam tahap finalisasi, langkah ini mengindikasikan adanya upaya reformasi struktural untuk menciptakan bursa yang lebih profesional, transparan, dan kompetitif. Potensi IPO memungkinkan publik untuk berpartisipasi langsung dalam kepemilikan bursa, sementara private placement menawarkan fleksibilitas bagi investor strategis.
Keyakinan Menkeu atas Kinerja Ekonomi di Tengah Penilaian Eksternal
Menyikapi potensi keraguan dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s Investors Service (Moody’s), Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menunjukkan optimisme yang kuat. Ia meyakini bahwa kinerja perekonomian Indonesia yang solid dan terus menunjukkan tren positif akan mampu menepis segala keraguan tersebut.
Fokus pada implementasi kebijakan fiskal dan moneter yang prudent, serta upaya berkelanjutan dalam mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi, menjadi landasan keyakinan Menteri Keuangan. Data dan realisasi ekonomi yang akurat akan menjadi bukti konkret atas ketahanan dan potensi besar ekonomi Indonesia.























