Wartakita.id – Bibit siklon tropis 96S memicu hujan lebat yang berujung banjir di berbagai penjuru negeri. Data mencatat, ribuan jiwa terdampak langsung.
Kekuatan Bibit Siklon 96S
Bermula dari deteksi bibit siklon tropis 96S yang terbentuk di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak 25 Desember. Puncaknya pada 27 Desember, fenomena ini menghadirkan curah hujan ekstrem yang tak kunjung reda, disertai angin kencang. Akibatnya, banjir bandang dan genangan air menerjang sejumlah wilayah, bahkan memicu potensi longsor di daerah perbukitan.
Kondisi diperparah oleh kehadiran siklon tropis Grant di Samudra Hindia selatan Bengkulu. Meskipun bergerak menjauh, siklon ini turut berkontribusi dalam memperburuk pola cuaca di tanah air. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan angka korban jiwa mencapai 1.137 orang secara nasional sepanjang Desember akibat banjir dan longsor. Angka ini belum termasuk 163 orang yang dilaporkan hilang dan 457 ribu lainnya terpaksa mengungsi.
Sebagian besar pengungsi berasal dari bencana yang terjadi sebelumnya di Sumatera, yang dampaknya masih berlanjut hingga kini. Di Sulawesi Selatan (Sulsel), meskipun hingga malam hari belum ada laporan banjir signifikan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat yang bisa menyebabkan banjir di beberapa kabupaten.
Detail Kejadian
Hujan Tak Henti Sejak Pagi
Hujan deras yang berlangsung intens sejak pagi hingga malam hari pada Sabtu, 27 Desember 2025. Puncak dampak dari bibit siklon 96S diprediksi akan berlangsung dari tanggal 27 hingga 30 Desember. Banjir bandang di Kalimantan Selatan (Kalsel) dilaporkan terjadi pada pagi hari, sementara potensi banjir di wilayah lain terus berlanjut hingga malam. BMKG memperkirakan cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga akhir bulan.
Lokasi Terdampak: Dari Kalimantan Hingga Sumatera
Kalimantan Selatan menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak langsung oleh siklon 96S. Beberapa desa di Kabupaten Balangan, seperti Desa Juuh, Sungsum, Gunung Batu, Maranting, Tebing Tinggi, dan Halong, terendam banjir dengan ketinggian air mencapai atap rumah.
Potensi banjir juga meluas ke berbagai provinsi lain, termasuk:
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Bali
- Nusa Tenggara Barat (NTB)
- Nusa Tenggara Timur (NTT)
- Bengkulu
- Lampung
- Aceh
- Kalimantan Tengah
- Sumatera Selatan
Di Sumatera, banjir dan longsor susulan akibat siklon sebelumnya masih memberikan pukulan telak. Aceh mencatat korban jiwa terbanyak (504 orang), disusul Sumatera Utara (371 orang) dan Sumatera Barat (262 orang).
Khusus untuk Sulawesi Selatan, berdasarkan pemantauan hingga malam 27 Desember, belum ada laporan banjir aktual. Namun, BMKG mengeluarkan peringatan dini hujan lebat berpotensi banjir di kabupaten seperti Barru, Bone, Bulukumba, Enrekang, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Palopo, Pinrang, Sidrap, Sinjai, Tana Toraja, Toraja Utara, Wajo, dan Makassar. Warga di daerah rawan genangan seperti Bantaeng dan Palopo diimbau untuk tetap waspada terhadap pola cuaca serupa.
Warga Terdampak
Pengungsi tersebar di Sumatera dan Kalimantan Selatan, kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Mayoritas korban jiwa dan hilang adalah warga sipil yang tak berdaya menghadapi amukan alam.
Instansi pemerintah seperti BMKG, BNPB, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi bekerja keras memantau situasi dan mengoordinasikan upaya penanganan. Gubernur Sulsel sendiri telah bergerak cepat mengirimkan bantuan darurat ke daerah yang terdampak bencana sebelumnya. Para nelayan dan petani di wilayah pesisir selatan juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gelombang tinggi dan potensi banjir.
Faktor Pemicu dan Pendukung
Penyebab utama banjir dahsyat ini adalah kehadiran bibit siklon tropis 96S yang secara konsisten memicu curah hujan tinggi dan gelombang laut yang kuat. Ditambah lagi dengan adanya siklon tropis Grant yang turut meningkatkan kecepatan angin hingga mencapai 30 knot.
Namun, fenomena alam ini tidak berdiri sendiri. Beberapa faktor pendukung turut memperparah kondisi:
- Suhu Laut yang Hangat: Kondisi laut yang hangat memberikan energi tambahan bagi siklon untuk tumbuh dan berkembang.
- Konvergensi Angin: Bertemunya massa udara dari berbagai arah menciptakan area tekanan rendah yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
- Pendangkalan Sungai: Sungai yang dangkal tidak mampu menampung volume air hujan yang besar, sehingga mudah meluap.
- Sistem Drainase Tersumbat: Tumpukan sampah dan sedimentasi di saluran air menghambat aliran sungai, memperparah genangan.
Di Sulawesi Selatan, curah hujan tinggi yang sudah terjadi sejak akhir November juga menjadi faktor risiko yang signifikan, meskipun banjir aktual baru menjadi perhatian pasca peringatan dini BMKG di tanggal 27 Desember.
Bagaimana Penanganan Dilakukan? Evakuasi dan Bantuan Darurat
Hujan lebat yang mengguyur sejak pagi hari langsung memicu meluapnya sungai-sungai, berujung pada banjir bandang di Kalsel pada pagi harinya. BMKG terus memantau perkembangan cuaca melalui citra satelit dan secara proaktif mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat dan pemerintah daerah.
Upaya penanganan darurat meliputi:
- Evakuasi Warga: Prioritas utama adalah menyelamatkan warga dari zona bahaya, terutama yang rumahnya terendam banjir atau berada di area rawan longsor.
- Penyaluran Bantuan Logistik: Pemerintah daerah bekerja sama dengan BNPB dan berbagai pihak lainnya untuk menyalurkan bantuan pangan, air bersih, selimut, dan kebutuhan pokok lainnya kepada para pengungsi.
- Penyediaan Tempat Pengungsian: Fasilitas umum seperti sekolah, balai desa, atau tenda darurat disiapkan untuk menampung warga yang kehilangan rumah.
Berdasarkan validasi dari sumber BMKG dan BNPB, potensi cuaca ekstrem ini diperkirakan masih akan berlangsung. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada, menghindari area rawan bencana, dan selalu mematuhi instruksi dari otoritas lokal.
Tetap Waspada Menjelang Akhir Tahun
Banjir yang melanda berbagai daerah pada 27 Desember 2025 menjadi pengingat keras akan kekuatan alam yang patut kita waspadai. Perpaduan antara fenomena siklon tropis, kondisi geografis, dan faktor lingkungan menciptakan situasi yang rentan terhadap bencana.
Sebagai warga negara yang peduli, mari kita tingkatkan kesadaran akan risiko bencana di sekitar kita. Pantau informasi cuaca dari sumber terpercaya seperti BMKG, siapkan diri dengan perlengkapan darurat, dan yang terpenting, jalin solidaritas dengan sesama untuk saling membantu meringankan beban mereka yang terdampak.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Apa penyebab utama banjir pada 27 Desember 2025?
Penyebab utamanya adalah bibit siklon tropis 96S yang terbentuk di Samudra Hindia selatan NTB, memicu hujan lebat dan angin kencang. Siklon tropis Grant di selatan Bengkulu juga turut memperburuk kondisi.
2. Daerah mana saja yang paling terdampak?
Beberapa daerah yang terdampak parah antara lain Kalimantan Selatan (Kabupaten Balangan), serta potensi banjir di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Bengkulu, Lampung, Aceh, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan. Sumatera juga masih terdampak banjir dan longsor susulan.
3. Berapa jumlah korban jiwa dan pengungsi akibat banjir?
BNPB melaporkan total korban jiwa mencapai 1.137 orang secara nasional sepanjang Desember 2025, dengan 163 hilang dan 457 ribu mengungsi, terutama dari peristiwa di Sumatera dan Kalsel.
4. Kapan cuaca ekstrem ini diperkirakan akan berakhir?
BMKG memprediksi kondisi cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga sekitar tanggal 30 Desember 2025.
5. Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk melindungi diri dari banjir?
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dari BMKG, menyiapkan diri dengan perlengkapan darurat, menjauhi area rawan bencana seperti bantaran sungai dan lereng bukit, serta mematuhi instruksi dari petugas terkait.
6. Bagaimana peran BMKG dan BNPB dalam penanganan bencana ini?
BMKG bertugas memantau cuaca, mendeteksi fenomena siklon, dan mengeluarkan peringatan dini. BNPB bersama BPBD provinsi berperan dalam koordinasi penanganan darurat, evakuasi, dan penyaluran bantuan logistik kepada korban.























