Pemerintah Indonesia mengambil langkah proaktif untuk menanggapi perubahan outlook peringkat kredit oleh Moody’s. Fokus utama adalah memperjelas peran dan tata kelola sovereign wealth fund (SWF) baru, Danantara, serta membedakannya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
- Pemerintah akan memperkuat komunikasi mengenai peran Danantara dan APBN pasca-outlook negatif Moody’s.
- Moody’s mempertahankan peringkat Baa2 Indonesia namun mengubah outlook menjadi negatif pada 5 Februari.
- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya pemahaman pasar global terhadap pemisahan fungsi SWF dan APBN.
- Danantara dibangun dengan prinsip tata kelola yang baik untuk mendorong reformasi BUMN.
- Langkah ini bertujuan meningkatkan pemahaman investor dan memperbaiki persepsi fundamental ekonomi Indonesia.
Strategi Komunikasi: Memperjelas Peran Danantara dan APBN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa terdapat kesalahpahaman di kalangan pasar keuangan global mengenai pemisahan peran antara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan sovereign wealth fund (SWF) Indonesia, Danantara. Ia menegaskan bahwa Danantara dirancang dengan prinsip tata kelola yang baik, meniru praktik terbaik dari SWF negara lain, dengan tujuan utama untuk memfasilitasi reformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar lebih adaptif dan efisien.
Pemisahan fungsi ini krusial. APBN dapat lebih fokus pada prioritas program nasional, pembangunan infrastruktur dasar, dan pelayanan publik esensial. Sementara itu, Danantara diharapkan mampu mengoptimalkan potensi investasi jangka panjang yang dapat memberikan imbal hasil lebih tinggi dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Mengapa Perubahan Outlook Moody’s Penting?
Perubahan outlook dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s bukanlah penurunan peringkat, namun merupakan sinyal penting yang perlu direspons. Langkah pemerintah untuk memperjelas narasi di balik pembentukan Danantara dan kontribusinya terhadap perekonomian diharapkan dapat meredakan kekhawatiran investor internasional. Ini juga menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal.
Langkah Selanjutnya: Komunikasi dan Komitmen Fiskal
Dalam merespons situasi ini, pemerintah melalui Danantara akan proaktif menjalin komunikasi dengan lembaga pemeringkat kredit seperti Moody’s. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai operasional, tata kelola, dan kontribusi strategis Danantara. Selain itu, pemerintah menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga kesehatan fiskal dengan target defisit anggaran tidak melebihi 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan rasio utang di bawah 40% dari PDB.
Kondisi makroekonomi Indonesia saat ini dinilai relatif stabil, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi yang terkendali, dan posisi cadangan devisa yang kuat. Angka pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,39% (YoY) pada kuartal IV 2025 dan 5,11% (YoY) sepanjang tahun 2025. Cadangan devisa per akhir Desember 2025 juga tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS.























