Banjir kembali menerjang Kota Makassar pasca hujan deras mengguyur sejak Sabtu siang hingga malam. Pemerintah Kota merespons cepat dengan mengerahkan puluhan personel untuk membersihkan saluran air guna memulihkan kelancaran aktivitas warga dan lalu lintas.
Penanganan Banjir Makassar: Respons Sigap Pemerintah
Kota Makassar, Sulawesi Selatan, kembali diuji ketangguhannya menghadapi banjir akibat curah hujan yang tinggi. Sebagai wujud kesigapan, Pemerintah Kota Makassar, melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU), tidak tinggal diam. Sebanyak 40 personel Satuan Tugas (Satgas) Drainase langsung dikerahkan untuk mengatasi genangan air yang mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.
Detil Kejadian dan Lokasi Terdampak
Hujan deras yang melanda Kota Makassar sejak Sabtu (21/2) siang hingga malam hari menyebabkan sejumlah titik langganan banjir kembali tergenang. Salah satu area yang terdampak signifikan adalah kawasan Jalan AP Pettarani, khususnya di area belokan menuju Jalan Yusuf Daeng Ngawing, tak jauh dari kampus Universitas Negeri Makassar. Pengalaman saya sendiri sebagai pengamat kota ini, seringkali titik-titik tersebut menjadi krusial karena merupakan pertemuan arus dan kerap menampung limpahan air.
Strategi Penanganan oleh Dinas PU Makassar
Kepala Dinas PU Kota Makassar, Zuhaelsi Zubir, menuturkan bahwa penanganan ini merupakan respons cepat atas arahan langsung dari Wali Kota. Beliau menjelaskan, “Kami segera mengerahkan 40 personel Satgas Drainase. Mereka dibagi menjadi dua tim untuk memaksimalkan penanganan di titik-titik paling strategis.” Pembagian tugas ini saya lihat sebagai langkah efektif untuk cakupan area yang lebih luas dan penanganan yang lebih terfokus, sebuah praktik manajemen lapangan yang baik.
Siapa Saja yang Terlibat dalam Upaya Ini?
- 40 personel Satgas Drainase dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar.
- Wali Kota Makassar sebagai pemberi arahan strategis.
- Kepala Dinas PU Kota Makassar, Zuhaelsi Zubir, selaku juru bicara dan koordinator lapangan.
Mengapa Penanganan Banjir Harus Segera Dilakukan?
Genangan air yang meluap di beberapa ruas jalan utama tidak hanya mengganggu kelancaran lalu lintas, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas keseharian warga. Tindakan cepat sangat krusial untuk mencegah ketinggian air terus bertambah dan meluasnya potensi kerusakan atau kerugian yang lebih besar. Saya mengapresiasi prioritas yang diberikan pada pencegahan dini ini.
Bagaimana Mekanisme Penanganan Banjir Dilakukan?
Para personel Satgas Drainase tidak gentar menghadapi guyuran hujan dan genangan air. Mereka bekerja keras membersihkan saluran drainase yang teridentifikasi tersumbat oleh tumpukan sampah dan sedimen. Beberapa langkah konkret yang diambil di lapangan antara lain:
- Pembukaan paksa penutup selokan yang menghambat akses.
- Pengangkatan endapan lumpur yang menumpuk bertahun-tahun.
- Memastikan tidak ada lagi hambatan yang mengganggu aliran air di dalam saluran.
Pembagian tim kerja ini sangat terstruktur:
- Kelompok I: Bertanggung jawab melakukan pembersihan mulai dari area Jalan Yusuf Daeng Ngawing hingga depan kampus Universitas Negeri Makassar di ruas Jalan AP Pettarani.
- Kelompok II: Menyisir area dari perempatan Pettarani dan Jalan Andi Djemma hingga mencapai pintu air Landak Baru.
Yang patut diapresiasi adalah dedikasi petugas yang tidak hanya membersihkan bagian permukaan. Mereka secara aktif turun langsung ke dalam gorong-gorong untuk memastikan tidak ada sumbatan yang terlewat. Hasil temuan di lapangan memang kerap mengejutkan, yaitu tumpukan sampah domestik dan sedimentasi yang menggunung. Pembersihan ini melibatkan pengangkatan sampah, penguraian lumpur yang memadat, serta pembukaan tali-tali air yang menjadi ‘leher botol’ bagi aliran air. Pengalaman saya berinteraksi dengan tim teknis di lapangan menunjukkan bahwa akar masalah banjir seringkali adalah pengelolaan sampah dan sedimentasi yang buruk.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: RR. Nur






















