Di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, momentum wisuda Angkatan ke-120 mengukuhkan 776 lulusan. Rektor Prof. Hamdan Juhannis tak sekadar menyerahkan ijazah, tetapi menanamkan semangat ‘sarjana fighter’ sebagai bekal esensial menghadapi kerasnya kehidupan pasca-kampus.
Filosofi ‘Sarjana Fighter’: Lebih dari Sekadar Gelar Akademik
Suasana khidmat menyelimuti Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar pada Rabu, 5 Agustus 2026, saat Sidang Senat Terbuka Luar Biasa Wisuda Angkatan ke-120 mengukuhkan 776 lulusan dari berbagai jenjang. Di tengah keharuan dan kebanggaan, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, menyajikan sebuah panggilan mendalam: menjadi ‘sarjana fighter’. Pesan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah filosofi yang menginspirasi para wisudawan untuk bertransformasi dari penerima gelar menjadi arsitek masa depan mereka sendiri.
Prof. Hamdan menegaskan bahwa gelar akademik adalah fondasi awal, bukan puncak pencapaian. Ia menekankan, ‘Sarjana fighter adalah sarjana yang bukan hanya berani menggenggam ijazah, tetapi berani menggenggam masa depan.’ Ini adalah seruan untuk proaktivitas, keberanian mengambil inisiatif, dan kemampuan membentuk takdir di tengah dinamika dunia yang terus berubah. Dunia di luar tembok kampus menuntut lebih dari sekadar pengetahuan teoritis; ia menuntut ketangguhan mental, kemampuan adaptasi yang cepat, dan kecerdasan untuk menemukan solusi di tengah ketidakpastian.
Apresiasi Mendalam untuk Perjuangan dan Dukungan Keluarga
Setiap toga yang dikenakan para wisudawan menyimpan cerita unik tentang perjuangan, pengorbanan, dan doa tak henti dari orang tua. Prof. Hamdan Juhannis secara tulus menyampaikan apresiasinya, mengakui bahwa keberhasilan ini adalah buah dari kerja keras kolektif. Ia berkata, ‘Saya yakin ada tawa, ada tangis, ada kejenuhan, bahkan ada masa-masa sulit yang kalian lalui. Namun hari ini kalian berhasil sampai pada fase wisuda. Selamat kepada kalian dan selamat kepada orang tua yang telah menjadi bagian dari perjuangan itu.’
Keberanian Beradaptasi dan Belajar dari Kegagalan
Konsep ‘sarjana fighter’ yang diusung Rektor UIN Alauddin mencakup karakter lulusan yang memiliki daya tahan mental tinggi, tidak mudah menyalahkan keadaan. Para lulusan perguruan tinggi dituntut untuk memiliki keberanian dalam mencoba hal baru, kemampuan beradaptasi yang mumpuni, serta kesiapan untuk merancang berbagai alternatif ketika dihadapkan pada kegagalan. Prof. Hamdan mengingatkan prinsip fundamental bahwa penyesalan terbesar datang bukan dari kegagalan itu sendiri, melainkan dari keberanian yang tidak pernah teruji. ‘Kalaupun harus menyesal, lebih baik menyesal karena sudah mencoba daripada menyesal karena tidak pernah mencoba sama sekali,’ ujarnya, menggarisbawahi pentingnya melangkah maju tanpa rasa takut.
Beliau juga memberikan analogi inspiratif dari alam, seperti ular tanpa kaki yang mampu berburu mangsa lebih cepat dan nyamuk kecil yang bisa memberikan dampak besar. Ini menekankan bahwa keterbatasan fisik atau sumber daya bukanlah penghalang mutlak untuk berkembang. Kemampuan membaca arah kehidupan, atau memiliki visi yang jelas, jauh lebih krusial daripada sekadar mengelola waktu. ‘Saya sering mengatakan, menemukan kompas jauh lebih penting daripada menemukan jam. Arah akan menentukan ke mana langkah kita menuju,’ tegasnya, mengibaratkan kompas sebagai visi dan tujuan hidup.
Warisan Semangat Lintas Generasi: Kisah Siti Nimah dan Zulasfiani Rehat
Prof. Hamdan turut berbagi kisah inspiratif tentang warisan semangat belajar dan kerja keras yang dapat diturunkan lintas generasi. Ia menceritakan tentang Siti Nimah, kakak kelasnya semasa PGA, yang meraih juara umum dan lulus terbaik di IAIN Alauddin. Puluhan tahun kemudian, putrinya, Zulasfiani Rehat, juga menorehkan prestasi gemilang sebagai salah satu lulusan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar pada wisuda angkatan yang sama. Kisah ini menjadi bukti nyata betapa semangat juang, dedikasi, dan keteladanan yang baik merupakan warisan berharga.
Profil Wisudawan Angkatan ke-120 UIN Alauddin Makassar
Wisuda Angkatan ke-120 UIN Alauddin Makassar mencakup total 776 lulusan yang tersebar di berbagai fakultas dan program studi:
- Fakultas Syariah dan Hukum: 74 lulusan
- Fakultas Tarbiyah dan Keguruan: 91 lulusan
- Fakultas Ushuluddin dan Filsafat: 120 lulusan
- Fakultas Adab dan Humaniora: 46 lulusan
- Fakultas Dakwah dan Komunikasi: 125 lulusan
- Fakultas Sains dan Teknologi: 94 lulusan
- Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam: 126 lulusan
- Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan: 34 lulusan
- Program Magister: 59 lulusan
- Program Doktor: 7 lulusan
Menghadapi Dunia Kerja: Keberanian, Adaptasi, dan Integritas
Menutup pidatonya, Prof. Hamdan Juhannis kembali menekankan pentingnya menjaga api semangat belajar, menghormati pesan orang tua, dan yang terpenting, tidak gentar menghadapi persaingan ketat di dunia kerja. Di era di mana jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat, keberanian untuk beradaptasi dan senantiasa berkembang menjadi kunci utama dalam menavigasi kompleksitas masa depan.
Pesan penutupnya berbunyi tegas namun memotivasi: ‘Kalau orang lain bisa, kamu juga bisa. Jangan ubah prinsip itu menjadi ‘kalau kamu bisa, sekalian kerjakan punyaku’. Jadilah sarjana yang terus berusaha, terus belajar, dan berani menghadapi kehidupan.’ Pesan ini mengajak para lulusan untuk tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga menjunjung tinggi integritas dan etika profesional di setiap langkah mereka, menjadi ‘sarjana fighter’ yang sejati bagi diri sendiri, masyarakat, dan bangsa.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: M. Ridham
Add wartakita.id as a preferred source on Google























