Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat pecah, memicu ketegangan global pasca kebuntuan negosiasi nuklir di Jenewa. Serangan gabungan AS-Israel yang menargetkan Ibu Kota Iran, Teheran, dan menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei, telah menarik perhatian internasional dan memunculkan desakan kuat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar Indonesia mengevaluasi kembali partisipasinya dalam sebuah forum perdamaian.
- Perang Iran dimulai pasca kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan AS di Jenewa pada 27 Februari 2026.
- Israel melancarkan serangan ke Teheran pada 28 Februari 2026, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
- Iran membalas dengan rudal balistik ke fasilitas militer AS di Timur Tengah.
- Presiden AS Donald Trump memuji serangan tersebut, menyebut Khamenei ‘salah satu orang paling jahat dalam sejarah’.
- MUI mendesak Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP) karena kehilangan legitimasi moral.
Eskalasi Konflik: Dari Kebuntuan Nuklir ke Serangan Mematikan
Peristiwa yang memicu pecahnya perang antara Iran dan Amerika Serikat terjadi segera setelah negosiasi senjata nuklir di Jenewa, Swiss, pada Jumat (27/2/2026) menemui jalan buntu. Ketegangan yang sudah memuncak ini kemudian merayap naik secara dramatis ketika Amerika Serikat, bersama dengan Israel, melancarkan serangan terkoordinasi yang mengejutkan dunia.
Serangan ke Teheran dan Kematian Ayatollah Khamenei
Pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, dunia dikejutkan oleh berita serangan yang dilancarkan oleh Israel terhadap Ibu Kota Iran, Teheran. Sasaran utama dari serangan militer ini adalah kediaman resmi dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam insiden yang tragis tersebut, Ayatollah Khamenei dilaporkan tewas, sebuah peristiwa yang seketika memicu gelombang kemarahan dan respons balasan yang cepat dari pihak Iran.
Respons Balasan Iran dan Tuduhan Agresi AS
Kematian Ayatollah Khamenei tidak hanya mengejutkan tetapi juga memicu kemarahan besar di Iran. Sebagai respons langsung terhadap serangan mematikan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan yang signifikan. Militer Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik yang secara sengaja menargetkan semua fasilitas militer milik Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah, termasuk yang berlokasi di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Serangan balasan ini dinilai oleh banyak pihak sebagai bukti nyata bahwa Amerika Serikat adalah motor penggerak di balik eskalasi kekerasan ini.
Pernyataan Donald Trump dan Peran Kontroversial Board of Peace
Dalam sebuah pernyataan yang menuai kontroversi, Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, secara terbuka menyatakan bahwa serangan pada hari Sabtu yang mengakibatkan kematian Ayatollah Khamenei adalah “serangan yang hebat”. Melalui sebuah unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump tidak hanya mengumumkan kematian Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak tahun 1989, tetapi juga menyebutnya sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah”. Ia juga menegaskan bahwa Khamenei tidak mampu menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih milik AS, serta kerja sama erat yang terjalin dengan Israel.
Ironisnya, pernyataan Trump ini datang dari posisinya sebagai Chairman dari sebuah organisasi yang baru saja dibentuk, yaitu Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP). Donald Trump diketahui merupakan penggagas dari BoP, sebuah lembaga perdamaian yang baru saja disahkan dengan mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memfasilitasi upaya perdamaian di Gaza, Palestina. Posisi kontras antara perannya dalam upaya perdamaian dan pernyataannya yang mendukung serangan mematikan menimbulkan pertanyaan besar mengenai legitimasi dan tujuan organisasi tersebut.
Desakan MUI: Board of Peace Kehilangan Legitimasi
Menyusul insiden serangan AS-Israel terhadap Iran yang berujung pada kematian Ayatollah Khamenei, muncul desakan kuat agar pemerintah Indonesia segera melakukan evaluasi mendalam terhadap partisipasinya dalam Board of Peace. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi suara yang paling vokal dalam menyuarakan keprihatinan ini. Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI, Sudarnoto Abdul Hakim, secara tegas menyatakan bahwa Board of Peace telah “runtuh secara moral dan kehilangan legitimasinya.” Ia berargumen bahwa organisasi ini justru dianggap sebagai biang kerok pecahnya perang melawan Iran, bukannya solusi perdamaian.
Sudarnoto lebih lanjut menambahkan bahwa serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memberikan bukti nyata bahwa Donald Trump, baik dalam kapasitasnya sebagai presiden maupun sebagai chairman BoP, tidak menunjukkan kepedulian terhadap upaya penciptaan perdamaian. Sebaliknya, ia justru menyebut Trump sebagai “perusak brutal perdamaian.” Pernyataan tegas ini disampaikan Sudarnoto kepada Kompas.com pada Selasa, 3 Maret 2026, menyoroti kekhawatiran mendalam atas arah dan legitimasi forum perdamaian internasional tersebut di tengah krisis global yang semakin memanas.























