Jabodetabek kembali diguyur hujan lebat pada Kamis pagi (22/1/2026), memicu kewaspadaan publik terhadap potensi cuaca ekstrem. BMKG telah merilis peringatan dini, menjelaskan akar permasalahan di balik intensitas hujan yang meningkat tajam ini.
- Cuaca ekstrem di Jabodetabek disebabkan oleh kombinasi sirkulasi siklonik dan penguatan Monsun Dingin Asia.
- Fenomena seperti Siklon Tropis Nokaen dan bibit siklon 97S turut berkontribusi pada peningkatan awan hujan.
- Peningkatan seruakan dingin dari Benua Asia mempercepat masuknya Monsun Asia ke wilayah Indonesia.
- BMKG mengeluarkan peringatan siaga dan awas untuk berbagai wilayah di Jabodetabek terkait potensi hujan lebat hingga ekstrem dan angin kencang.
Analisis Mendalam Penyebab Cuaca Ekstrem Jabodetabek
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan analisis mendalam mengenai penyebab cuaca ekstrem yang tengah melanda Jabodetabek dan wilayah Indonesia lainnya. Menurut laporan ‘Prospek Cuaca Mingguan’ yang dirilis pada 19 Januari 2026, fenomena ini dipicu oleh interaksi kompleks dari beberapa faktor utama di tingkat regional.
Faktor Utama Pemicu Hujan Lebat
Dua faktor krusial yang menjadi sorotan BMKG adalah:
- Sirkulasi Siklonik: Pola angin yang berputar ini secara signifikan mendukung pembentukan dan perkembangan awan hujan di atmosfer.
- Penguatan Monsun Dingin Asia: Arus udara dingin yang berasal dari Benua Asia mengalami penguatan, kemudian bergerak masuk dan memengaruhi sistem cuaca di wilayah Indonesia.
Fenomena Cuaca Spesifik yang Berkontribusi
BMKG merinci beberapa fenomena meteorologis spesifik yang turut memperparah kondisi cuaca:
- Siklon Tropis Nokaen: Keberadaan siklon ini di Laut Filipina diprediksi akan menguat, memberikan dampak pada pola angin di wilayah utara Indonesia bagian Timur.
- Bibit Siklon 97S: Pergerakan bibit siklon yang persisten ini memengaruhi pola angin secara luas, termasuk menciptakan daerah konfluensi dan konvergensi yang membentang dari Pulau Timor hingga Laut Arafuru. Kondisi ini sangat kondusif untuk pertumbuhan awan hujan.
- Peningkatan Seruakan Dingin (Cold Surge): Indikasi adanya perbedaan tekanan udara yang signifikan antara Benua Asia yang memiliki tekanan tinggi dan wilayah Indonesia. Peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan akibat fenomena ini turut mempercepat intrusi Monsun Asia melintasi ekuator melalui Selat Karimata.
Interaksi fenomena-fenomena tersebut memberikan dampak nyata berupa peningkatan intensitas kejadian cuaca ekstrem, khususnya di wilayah selatan Indonesia, yang mencakup Sumatera Bagian Selatan dan Pulau Jawa, termasuk Jabodetabek.
Peringatan Dini BMKG untuk Wilayah Jabodetabek
Menindaklanjuti analisis tersebut, BMKG telah mengeluarkan serangkaian peringatan dini yang dirinci untuk wilayah Jabodetabek. Peringatan yang dipublikasikan melalui akun Instagram resmi BMKG pada Rabu (21/1) ini menggarisbawahi perlunya kewaspadaan tinggi:
Tingkat Siaga dan Awas Hujan Lebat
- Siaga Hujan Lebat-Sangat Lebat: Dikeluarkan untuk wilayah Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok.
- Awas Hujan Sangat Lebat-Ekstrem: Dikeluarkan untuk wilayah Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Kepulauan Seribu.
Peringatan Angin Kencang
Selain potensi hujan lebat, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini untuk angin kencang di beberapa area, yaitu Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, serta wilayah Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Kepulauan Seribu. Peringatan ini diperbarui secara berkala, menegaskan bahwa potensi cuaca buruk masih berlanjut dan memerlukan perhatian serius dari masyarakat.























