Kementerian Keuangan Indonesia menunjukkan potensi penghematan signifikan dalam pembayaran bunga utang pada tahun 2026. Estimasi terbaru dari Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menempatkan angka penghematan ini berkisar antara Rp 10 hingga Rp 17 triliun, dengan proyeksi ideal di angka Rp 15 triliun.
Potensi Penghematan Bunga Utang yang Cukup Besar di 2026
Ruang penghematan ini terdeteksi dari adanya selisih antara pagu belanja bunga utang yang ditetapkan dalam APBN 2026 dan proyeksi pembayaran bunga utang yang tercantum dalam Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Pagu belanja bunga utang dalam APBN 2026 tercatat sekitar Rp 599,4 triliun. Sementara itu, Nota Keuangan RAPBN 2027 memproyeksikan pembayaran bunga utang untuk tahun 2026 sebesar Rp 582,24 triliun. Perbedaan ini secara implisit mengindikasikan potensi penghematan sekitar Rp 17 triliun.
Realisasi Hingga Agustus 2026 dan Proyeksi Penghematan
Hingga akhir Agustus 2026, realisasi pembayaran bunga utang pemerintah telah mencapai Rp 394,2 triliun. Angka ini terbagi atas bunga utang dalam negeri sebesar Rp 366,4 triliun dan bunga utang luar negeri sebesar Rp 27,8 triliun. Mempertimbangkan kondisi pasar global yang semakin ketat, Josua Pardede menilai kisaran penghematan yang realistis berada di angka Rp 10 triliun hingga Rp 17 triliun, dengan Rp 15 triliun sebagai perkiraan tengah yang paling masuk akal.
Yield SBN vs. Biaya Bunga Utang Riil
Meskipun terdapat kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) di pasar saat ini, Josua Pardede menjelaskan bahwa hal tersebut tidak serta-merta mendorong lonjakan pembayaran bunga utang pemerintah secara keseluruhan tahun ini. Peningkatan yield SBN tenor 10 tahun yang mencapai sekitar 7,11% pada 18 September 2026, atau naik 104 basis poin sejak awal tahun, tidak mencerminkan biaya bunga seluruh stok utang pemerintah. Rata-rata yield SBN tenor 10 tahun sepanjang tahun ini masih berada di kisaran 6,8%, sedikit di bawah asumsi APBN 2026 sebesar 6,9%. Mayoritas pembayaran bunga pada 2026 berasal dari utang yang diterbitkan pada tahun-tahun sebelumnya dengan kupon yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, kenaikan yield yang terjadi saat ini lebih berdampak pada utang baru, bukan pada seluruh anggaran bunga tahunan sebesar Rp 599,44 triliun.
Faktor Penentu Penghematan dan Pengelolaan Utang
Besarnya penghematan bunga utang pemerintah di masa mendatang akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor krusial, meliputi:
- Kebutuhan pembiayaan defisit anggaran.
- Rata-rata biaya penerbitan utang baru.
- Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.
- Struktur jatuh tempo utang yang dikelola pemerintah.
Selain itu, pembayaran bunga utang juga sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga, sentimen pasar SBN, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta kondisi ekonomi baik di tingkat global maupun domestik. Untuk menjaga keseimbangan antara biaya dan risiko, pemerintah perlu secara cermat mengelola profil jatuh tempo utang dan bauran instrumen pembiayaan yang digunakan.
“Apabila defisit lebih kecil, penerimaan lebih baik atau pemerintah dapat menggunakan kas yang tersedia sehingga penerbitan utang baru berkurang, penghematan bunganya dapat lebih besar,” ujar Josua Pardede.
Sebaliknya, pelemahan nilai tukar Rupiah atau peningkatan kebutuhan pembiayaan dapat mengikis potensi penghematan tersebut. Dari sisi kebutuhan pembiayaan, posisi pemerintah hingga 31 Agustus 2026 masih memberikan ruang untuk tidak terburu-buru memasuki pasar. Pembiayaan utang neto mencapai Rp 506 triliun, dengan penerbitan SBN neto sekitar Rp 527,4 triliun atau 66% dari target.
Strategi Pemerintah dalam Menjaga Biaya Utang
Strategi pemerintah untuk tidak serta-merta memperbesar lelang domestik dianggap penting dalam menjaga biaya utang. Pemerintah masih memiliki beragam alternatif sumber pembiayaan, seperti SBN ritel, penerbitan SBN valuta asing ketika kondisi pasar mendukung, dan pinjaman program dari lembaga multilateral. Pengaturan tenor, jenis instrumen, dan waktu penerbitan memang dapat membantu menekan biaya utang. Namun, dampaknya terhadap pembayaran bunga tahun 2026 tidak boleh dilebih-lebihkan, karena sebagian besar kewajiban bunga telah ditentukan oleh struktur utang masa lalu. Manfaat dari strategi pengelolaan utang ini lebih besar dalam mencegah biaya tambahan dan mengendalikan beban bunga di tahun-tahun berikutnya.
Tujuan Pengelolaan Utang: Biaya Rendah dengan Risiko Aman
Josua Pardede menekankan bahwa tujuan utama pengelolaan utang bukanlah semata-mata mendapatkan bunga paling murah pada suatu waktu, melainkan memperoleh biaya yang rendah dengan tingkat risiko yang masih dapat dikelola. Memperpendek seluruh tenor utang secara drastis hanya karena surat utang jangka pendek menawarkan bunga lebih rendah dapat berisiko. Hal ini karena tenor yang lebih pendek akan memaksa penerbitan kembali utang dalam waktu dekat. Jika saat jatuh tempo suku bunga justru lebih tinggi, penghematan yang didapat kini bisa berbalik menjadi tambahan biaya di masa depan. Risiko serupa juga berlaku pada penerbitan utang valuta asing. Meskipun bisa menawarkan kupon nominal yang lebih rendah, peningkatan porsi utang valuta asing tanpa mempertimbangkan risiko nilai tukar justru bukan merupakan penghematan yang sebenarnya.
Dampak Penghematan Bunga Utang Terhadap Defisit APBN
Jika penghematan bunga utang mencapai Rp 15 triliun hingga Rp 17 triliun, dampaknya terhadap defisit APBN diperkirakan cukup terasa meskipun tidak masif. Dengan asumsi faktor lain tetap, setiap penghematan Rp 10 triliun pada pembayaran bunga dapat memperbaiki defisit sekitar 0,04 poin persentase terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan demikian, penghematan Rp 15 triliun-Rp 17 triliun secara mekanis dapat mengurangi defisit sekitar 0,06 hingga 0,07 poin persentase PDB. Jika outlook defisit pemerintah untuk 2026 berada di kisaran 2,85% terhadap PDB, penghematan bunga ini dapat membawa defisit ke level 2,78%-2,79% terhadap PDB.
Namun, Josua menekankan bahwa penghematan bunga tidak secara otomatis menjamin defisit akan berada pada level tersebut. Masih ada potensi risiko dari subsidi energi, kompensasi, penerimaan negara, fluktuasi nilai tukar, dan realisasi belanja di akhir tahun. Manfaat utama dari penghematan bunga utang ini adalah memperkecil kebutuhan pembiayaan, mengurangi tambahan utang baru, dan menciptakan ruang fiskal yang lebih besar untuk dialokasikan pada belanja yang lebih produktif.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: Budi S.























