Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak dengan tudingan keras dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memasuki perang melawan Iran atas nama Israel. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas dugaan pembenaran serangan besar-besaran terhadap Iran oleh pejabat AS.
- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh AS berperang melawan Iran atas nama Israel.
- Araghchi mengutip Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sebagai bukti bahwa AS bertindak demi kepentingan Israel.
- Istilah “Israel Firster” digunakan untuk menggambarkan politisi AS yang memprioritaskan kepentingan Israel di atas kepentingan negaranya.
- Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Joaquin Castro, mengkritik pernyataan Rubio yang dinilai membahayakan pasukan AS.
- Otoritas Iran melaporkan ratusan korban jiwa di kedua belah pihak akibat serangan AS-Israel dan serangan balasan Iran.
AS Dituding ‘Perang’ Atas Nama Israel
Dalam pernyataan tegas yang disebarkan melalui platform media sosial X pada Selasa (3/3/2026), Menlu Iran Abbas Araghchi menyampaikan kekecewaannya. Ia menginterpretasikan pernyataan dari rekannya di Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, sebagai sebuah pengakuan bahwa Washington secara sadar telah memulai konfrontasi militer dengan Teheran, demi kepentingan sekutunya, Israel.
“Pertumpahan darah Amerika dan Iran adalah tanggung jawab para pendukung Israel. Rakyat Amerika pantas mendapatkan yang lebih baik dan harus merebut kembali negara mereka,” ujar Araghchi, menyoroti dampak langsung konflik terhadap warga kedua negara.
Lebih lanjut, Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak pernah mengajukan ‘ancaman’ yang bersifat eksistensial bagi Amerika Serikat. Ia secara spesifik menyoroti politisi atau pembuat kebijakan di AS yang ia juluki sebagai “Israel Firster”. Istilah ini menyiratkan adanya individu-individu yang kebijakannya lebih mengutamakan kepentingan Israel dibandingkan kepentingan nasional Amerika Serikat, sebuah persepsi yang sarat dengan konotasi negatif.
Rubio Akui Serangan Pencegahan demi Israel
Konteks pernyataan Araghchi berawal dari komentar Marco Rubio yang dimuat oleh berbagai media internasional. Rubio mengutarakan bahwa keputusan AS untuk melakukan serangan terhadap Iran didasari oleh informasi intelijen bahwa Israel berencana melancarkan serangan besar. Kekhawatiran utama AS, menurut Rubio, adalah potensi balasan Iran yang dapat menyasar pasukan militer Amerika Serikat yang ditempatkan di kawasan tersebut.
“Kita mengetahui bahwa akan ada aksi Israel. Kita mengetahui bahwa hal itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kita mengetahui jika kita tidak menyerang mereka terlebih dahulu sebelum mereka melancarkan serangan tersebut, kita akan menderita korban jiwa yang lebih tinggi,” ungkap Rubio, sebagaimana dikutip oleh AFP, menjelaskan rasionalisasi di balik tindakan militer AS.
Kritik Internal dan Korban Jiwa
Pernyataan Rubio tidak luput dari kritik tajam, bahkan datang dari dalam negeri Amerika Serikat sendiri. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS dari Partai Demokrat, Joaquin Castro, menyuarakan keprihatinan. Castro berpendapat bahwa komentar Rubio secara implisit mengakui bahwa Israel, dengan keputusannya untuk menyerang Iran, telah menempatkan pasukan AS dalam posisi yang membahayakan.
Situasi di lapangan sendiri dilaporkan telah memakan korban jiwa yang signifikan. Menurut otoritas Iran, gelombang serangan yang dilancarkan oleh koalisi AS-Israel telah merenggut nyawa sedikitnya 555 orang. Iran juga mengklaim bahwa sekitar 560 tentara AS telah tewas atau terluka akibat serangan balasan yang dilancarkan oleh pasukan Iran. Hingga berita ini diturunkan, pihak Amerika Serikat baru mengonfirmasi kematian empat personel militernya akibat serangan balasan tersebut. Eskalasi konflik ini terus menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai motif di balik tindakan militer, serta implikasi jangka panjangnya bagi stabilitas kawasan dan hubungan internasional.























