Kembalinya BTS dalam formasi lengkap untuk konser di Busan menuai euforia, namun diiringi kemarahan penggemar akibat lonjakan harga hotel yang drastis, mencapai sepuluh kali lipat dari tarif normal.
Poin Penting:
- Konser BTS di Busan memicu kenaikan harga hotel hingga 10 kali lipat.
- Penggemar melaporkan pembatalan pemesanan sepihak untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
- Fenomena ini bukan pertama kali terjadi, sebelumnya saat konser gratis BTS dan Festival Kembang Api Busan.
- Pemerintah berupaya mengatasi namun terbentur kendala hukum penetapan tarif bebas oleh hotel.
- Kota Busan akan melakukan ‘persuasi moral’ kepada operator akomodasi.
Lonjakan Harga Hotel Mencapai Puncak
Pengumuman konser tunggal BTS di Busan, kota pelabuhan di tenggara Korea Selatan, telah menyebabkan lonjakan harga hotel yang mengkhawatirkan. Fenomena ini kembali menuai kecaman publik, dengan laporan kamar akomodasi melonjak hingga sepuluh kali lipat dari harga normal. Lebih parah lagi, beberapa tamu yang sudah memiliki pemesanan dilaporkan diminta untuk membatalkannya demi penjualan kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Konser BTS: Momen Spesial yang Diwarnai Kekhawatiran
Kembalinya BTS sebagai grup utuh, menandai tur dunia pertama mereka setelah semua anggota menyelesaikan wajib militer, menjadi daya tarik utama. Busan dipilih sebagai satu-satunya lokasi domestik di luar Seoul untuk menggelar konser pada tanggal 12 dan 13 Juni. Tanggal 13 Juni memiliki makna ganda: merayakan hari debut anniversary BTS sekaligus menjadi momen kepulangan bagi dua anggotanya yang berasal dari Busan, Jimin dan Jungkook. Antusiasme tinggi dari penggemar setia, yang dikenal sebagai ‘Army’, baik dari dalam maupun luar negeri, menjadi faktor utama di balik tingginya permintaan.
Kenaikan Harga yang Mengkhawatirkan
Hanya dalam hitungan jam setelah jadwal konser diumumkan, platform pemesanan lokal melaporkan bahwa banyak hotel di kawasan wisata utama seperti Haeundae, Gwangalli, dan Gijang telah habis dipesan. Kamar yang tersisa pun menampilkan kenaikan harga yang mencengangkan:
- Hotel bintang lima di area tersebut, yang biasanya mematok harga sekitar 330.000 won (Rp 3,8 juta) per malam, kini menaikkan tarif menjadi lebih dari 1 juta won (Rp 11,5 juta) untuk periode konser.
- Properti kelas menengah di Dongnae, yang pada 10 Juni berharga 68.000 won (Rp 780 ribu), melonjak menjadi 769.000 won (Rp 8,8 juta) per malam untuk tanggal 12-13 Juni.
- Bahkan akomodasi budget tak luput dari praktik ini. Motel di distrik Busanjin yang biasanya mengenakan tarif 60.000-90.000 won (Rp 690 ribu – Rp 1 juta), kini mematok harga di atas 500.000 won (Rp 5,7 juta), dengan beberapa hotel kecil bahkan mencapai lebih dari 1,4 juta won (Rp 16 juta) per malam.
Pengalaman Pahit yang Terulang Bagi Penggemar
Komunitas online penggemar dipenuhi dengan keluhan dan tangkapan layar pesan dari operator hotel yang terang-terangan menjadikan ‘permintaan konser BTS’ sebagai alasan untuk mendorong pembatalan pemesanan. Bagi banyak penggemar, situasi ini terasa seperti pengulangan dari pengalaman pahit di masa lalu. Pada tahun 2022, konser gratis BTS di Busan untuk mendukung pencalonan kota sebagai tuan rumah World Expo 2030 juga diwarnai praktik serupa, di mana beberapa hotel menaikkan harga hingga 20-30 kali lipat. Akomodasi yang tadinya berharga sekitar 300.000 won (Rp 3,4 juta) untuk dua malam, melonjak hingga 7,5 juta won (Rp 86 juta). Kontroversi serupa juga kerap muncul menjelang Busan Fireworks Festival setiap tahun.
Upaya Pemerintah dan Kendala Hukum
Pemerintah Korea Selatan menyadari persoalan ini. Tahun lalu, Presiden Lee Jae Myung menginstruksikan peninjauan langkah-langkah hukum terhadap penipuan harga wisata yang dianggap merusak citra pariwisata regional dan nasional. Namun, pejabat kota menghadapi kendala hukum. Undang-undang yang berlaku saat ini memberikan keleluasaan bagi hotel dan wisma untuk menetapkan tarif mereka secara bebas, sehingga menyulitkan penindakan terhadap kenaikan harga semata saat permintaan tinggi. Sanksi administratif hanya dapat diberikan jika operator membatalkan reservasi yang sudah dikonfirmasi secara sepihak atau memaksa tamu membayar biaya tambahan.
Sebagai respons, kota ini berencana untuk kembali mengerahkan pejabat dan staf asosiasi pariwisata ke klaster akomodasi. Tujuannya adalah memberikan panduan di tempat dan menjalankan kampanye ‘persuasi moral’ untuk mendorong penetapan harga yang lebih wajar di kalangan operator.























